<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Faculty of Medicine</title>
<link href="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/47" rel="alternate"/>
<subtitle>Koleksi Skripsi Mahasiswa Fakultas Kedokteran</subtitle>
<id>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/47</id>
<updated>2026-07-16T19:06:51Z</updated>
<dc:date>2026-07-16T19:06:51Z</dc:date>
<entry>
<title>Perbandingan Jumlah Dan Resistensi Antibiotik Bakteri Gram-Negatif Pada Air Limbah Pre-Ipal Dan Post-Ipal Rumah Sakit Tipe C Di Malang</title>
<link href="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13386" rel="alternate"/>
<author>
<name>Aisyah, Kuini</name>
</author>
<id>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13386</id>
<updated>2026-07-13T04:53:03Z</updated>
<published>2026-05-16T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Perbandingan Jumlah Dan Resistensi Antibiotik Bakteri Gram-Negatif Pada Air Limbah Pre-Ipal Dan Post-Ipal Rumah Sakit Tipe C Di Malang
Aisyah, Kuini
Pendahuluan: Resistensi antibiotik pada bakteri Gram-negatif merupakan ancaman global yang terus meningkat, termasuk terhadap antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga dan fluoroquinolone. Limbah cair rumah sakit berpotensi menjadi sumber penyebaran bakteri resisten, terutama apabila proses pengolahan IPAL belum mampu mengeliminasi mikroorganisme secara optimal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas IPAL rumah sakit tipe C dalam menurunkan jumlah bakteri Gram-negatif resisten antibiotik pada air limbah pre dan post IPAL.&#13;
Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan studi eksperimental laboratorium dengan pendekatan in vitro. Penelitian dilakukan dengan melakukan kultur bakteri yang berasal dari sampel air limbah pre dan post IPAL rumah sakit pada media McConkey tanpa antibiotik (MC), media McConkey + Ceftriaxon (MC-CE), dan media McConkey + Ciprofloxacin (MC-CI). Koloni bakteri kemudian dihitung menggunakan metode total plate count (TPC) dan diklasifikasikan menjadi menjadi kelompok lactose fermented (LF) dan non-lactose fermented (NLF). Identifikasi bakteri Gram-negatif dilakukan dengan pewarnaan Gram dan analisis data dilakukan secara deskriptif. &#13;
Hasil dan Pembahasan: Jumlah bakteri Gram-negatif pada sampel air limbah pre IPAL dan post IPAL menunjukkan pola yang bervariasi antar hari pengambilan sampel pada ketiga media kultur yang digunakan. Proses IPAL mampu menurunkan jumlah bakteri Gram-negatif dengan efektivitas eliminasi sebesar 90,28% pada media MC, 97,49% pada media MC-CE, dan 91,95% pada media MC-CE. Meskipun demikian, bakteri Gram-negatif resisten antibiotik ceftriaxon dan ciprofloxacin masih ditemukan pada sampel post IPAL, terutama pada kelompok bakteri non-lactose fermented (NLF) yang menunjukkan bahwa IPAL belum sepenuhnya optimal dalam mengeliminasi bakteri Gram-negatif yang terdapat pada air limbah rumah sakit.&#13;
Simpulan: Jumlah bakteri Gram-negatif dan bakteri Gram-negatif resisten ceftriaxon dan ciprofloxacin pada air limbah rumah sakit tipe C di Malang menunjukkan perbedaan antara kondisi pre IPAL dan post IPAL. Namun, sistem IPAL belum sepenuhnya efektif dalam mengeliminasi bakteri dan berpotensi menjadi sumber penyebaran resistensi antibiotik ke lingkungan. &#13;
&#13;
Kata Kunci: Bakteri Gram-negatif; Limbah air rumah sakit; Resistensi antibiotik.
</summary>
<dc:date>2026-05-16T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Pemberian Ekstrak Gletang (Tridax Procumbens) Terhadap Jumlah Osteoblas Dan Osteoklas Pada Tulang Femur Tikus Wistar Pasca Ovariektomi</title>
<link href="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13385" rel="alternate"/>
<author>
<name>Fitriani, Devi</name>
</author>
<id>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13385</id>
<updated>2026-07-13T04:52:33Z</updated>
<published>2026-04-20T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Pemberian Ekstrak Gletang (Tridax Procumbens) Terhadap Jumlah Osteoblas Dan Osteoklas Pada Tulang Femur Tikus Wistar Pasca Ovariektomi
Fitriani, Devi
Pendahuluan: Menopause menyebabkan defisiensi estrogen, yang mengganggu proses remodeling tulang, sehingga meningkatkan resorpsi tulang dan mengurangi pembentukan tulang, yang memicu terjadinya osteoporosis. Terapi antiosteoporosis bifosfonat memiliki efek samping yaitu gangguan gastrointestinal, dan fraktur femur atipikal, sehingga perlu terapi alternatif yang aman. Tridax procumbens (T. procumbens/TP) memiliki senyawa aktif yang berpotensi sebagai modulasi metabolisme tulang. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi efek ekstrak T. procumbens pada sel osteoblas dan osteoklas tulang femur tikus pasca-ovariektomi.&#13;
Metode: Penelitian eksperimental laboratorium dengan rancangan post-only control group pada tikus Wistar betina (usia 10 minggu, 100–200 gram). Hewan dibagi menjadi lima kelompok: Sham, Ovariektomi (OVX), dan kelompok perlakuan OVX plus ekstrak T. procumbens 250, 500, dan 750 mg (n=6 per kelompok) dan total tikus 30. Sampel penelitian menggunakan tulang Distal Femur Metaphysis bagian kanan. Variabel penelitian yakni jumlah osteoblas dan osteoklas melalui metode histomorfometri jaringan tulang setelah pewarnaan Hematoksilin Eosin (H&amp;E). Pengamatan dilakukan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400× dengan menghitung jumlah sel pada setiap lapang pandang. Setiap preparat diamati pada 5 lapang pandang. Analisis data jumlah osteoblas menggunakan uji parametrik One-Way ANOVA dan jumlah oateoklas menggunakan uji non-parametrik Kruskal Wallis, dikatakan signifikan bila p&lt;0,05. &#13;
Hasil: Pemberian ekstrak T. procumbens dosis 250 mg, 500 mg, dan 750 mg dapat meningkatkan jumlah osteoblas berturut-turut sebesar 60%, 80%, 116% dibandingkan kelompok OVX (p&lt;0,05). Sedangkan pemberian ekstrak T. procumbens dosis 500 mg, dan 750 mg dapat menurunkan jumlah osteoklas berturut-turut sebesar 50%, dan 61% dibandingkan kelompok OVX (p&lt;0,05). Kondisi ini diduga karena adanya senyawa antiinflamasi dan antioksidan pada T. procumbens yang dapat menekan stres oksidatif dan menghambat aktivasi jalur NF-κB.&#13;
Simpulan: Ekstrak T. procumbens membantu perbaikan remodeling tulang pada tikus Wistar model menopause dengan cara meningkatkan osteoblas dan menurunkan osteoklas.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Tridax procumbens; Osteoblas; Osteoklas; Osteoporosis
</summary>
<dc:date>2026-04-20T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hubungan Kadar Vitamin D Dan Tingkat Stres Dengan Kerontokan Rambut Mahasiswa Kedokteran Universitas Islam Malang</title>
<link href="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13384" rel="alternate"/>
<author>
<name>Rahmawati, Andina Dewi</name>
</author>
<id>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13384</id>
<updated>2026-07-13T04:50:53Z</updated>
<published>2026-05-05T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Kadar Vitamin D Dan Tingkat Stres Dengan Kerontokan Rambut Mahasiswa Kedokteran Universitas Islam Malang
Rahmawati, Andina Dewi
Pendahuluan: Kerontokan rambut merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi dan dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang, seperti kecemasan. Kerontokan rambut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain stres, perubahan hormonal, genetik, dan faktor nutrisi. Salah satu faktor nutrisi yang berperan dalam kesehatan rambut adalah vitamin D. Defisiensi vitamin D masih menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Namun, hubungan antara kadar vitamin D, tingkat stres, dan kerontokan rambut masih belum banyak diteliti, terutama pada mahasiswa kedokteran dengan tingkat stres akademik serta perilaku sedentari yang tinggi sehingga berpotensi mengalami defisiensi vitamin D. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar vitamin D dan tingkat stres dengan kerontokan rambut pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (UNISMA).&#13;
Metode: Penelitian dengan desain deskriptif analitik cross-sectional dilakukan pada 80 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang (UNISMA) yang dibagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan Kadar Vitamin D &amp; Tingkat Stres. Kelompok Kadar Vitamin D terdiri atas Kadar Vitamin D Rendah (KDVR) &lt;30ng/mL (n=9), Kadar Vitamin D Cukup (KDVC) 30-100ng/mL (n=43), dan Kadar Vitamin D Tinggi (KDVT) &gt;100ng/mL (n=28). Sementara itu, berdasarkan Tingkat Stres dibagi menjadi kelompok Tingkat Stres Rendah (TSR) skor psq &lt;0,33 (n=39), Tingkat Stres Sedang (TSS) skor psq 0,33-0,60 (n=33), dan Tingkat Stres Tinggi (TST) skor psq &gt;0,60 (n=8). Kadar Vitamin D diukur dengan ELISA [25(OH)D], tingkat stres diukur dengan Perceived Stress Questionnaire (PSQ), dan kerontokan rambut diukur dengan Hair Pull Test. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square &amp; Spearman Correlation dengan p&lt;0,05 dianggap signifikan.&#13;
Hasil dan Pembahasan: Kerontokan rambut pada kelompok KDVR, KDVC, dan KDVT berturut-turut adalah 56%; 23%; 36% (p=0,134) dengan hasil uji korelasi Spearman r=-0,016; p=0,886. Kerontokan rambut pada kelompok TSR, TSS, dan TST berturut-turut adalah 21%; 33%; 75% (p=0,010) dengan hasil uji korelasi Spearman r=0,288; p=0,010. Hasil ini menunjukkan bahwa kerontokan rambut tidak berhubungan dengan kadar vitamin D dan diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor metabolik lain yang tidak dikontrol dalam penelitian ini. Sebaliknya, kerontokan rambut berhubungan dengan tingkat stres, yang diduga dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut melalui peningkatan hormon kortisol.&#13;
Kesimpulan: Kadar vitamin D tidak berhubungan dengan kerontokan rambut, sedangkan tingkat stres berhubungan dengan kerontokan rambut pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Vitamin D, Tingkat Stres, Kerontokan Rambut, Mahasiswa FK.
</summary>
<dc:date>2026-05-05T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Uji Aktivitas Antibiofilm Ekstrak Bunga Telang (Clitoria  Ternatea L) Dengan Berbagai Pelarut Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus</title>
<link href="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13382" rel="alternate"/>
<author>
<name>Naafiyani, Haniifah</name>
</author>
<id>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13382</id>
<updated>2026-07-13T04:49:05Z</updated>
<published>2026-04-20T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Uji Aktivitas Antibiofilm Ekstrak Bunga Telang (Clitoria  Ternatea L) Dengan Berbagai Pelarut Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus
Naafiyani, Haniifah
Latar Belakang: Infeksi terkait perawatan kesehatan (HAIs) tetap menjadi tantangan global yang signifikan. Staphylococcus aureus adalah salah satu organisme yang resisten terhadap multidrug yang dominan dan berkontribusi terhadap infeksi nosokomial. Tingkat prevalensi yang dilaporkan sebesar 9,0% di Uni Eropa/EEA dan tingkat Staphylococcus aureus resisten metisilin mencapai 22,2% di Indonesia. Kemampuan Staphylococcus aureus untuk membentuk biofilm sangat terkait dengan infeksi kronis, resistensi antimikroba, dan kegagalan terapi konvensional. Perkembangan biofilm melibatkan adhesi, pembentukan mikrokoloni, pematangan, dan dispersi, yang diatur oleh adhesin interseluler polisakarida intraseluler adhesin (PIA) dan mekanisme penginderaan kuorum. Agen antibiofilm alami telah mendapatkan perhatian yang meningkat, termasuk Clitoria ternatea L. (bunga kacang kupu-kupu), yang mengandung flavonoid, tanin, saponin, fenolik, terpenoid, dan antosianin, yang telah terbukti berpotensi antibakteri dan antibiofilm.&#13;
Methods: Studi eksperimental ini menggunakan uji pelat mikrotiter untuk mengukur penghambatan dan pemberantasan biofilm. Ekstrak Clitoria ternatea L disiapkan menggunakan etanol, etil asetat, dan n-heksana berdasarkan perbedaan polaritas. Proklin berfungsi sebagai kontrol positif, sedangkan media + bakteri berfungsi sebagai kontrol negatif. Pembacaan kerapatan optik diperoleh menggunakan pembaca pelat mikro. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji normalitas, homogenitas, dan ANOVA satu arah dengan tingkat signifikansi p &lt; 0,05.&#13;
Hasil: Ekstrak tersebut tidak menunjukkan aktivitas signifikan dalam menghambat pembentukan biofilm. Namun, semua ekstrak menunjukkan efek destruktif yang signifikan pada biofilm yang sudah terbentuk (p &lt; 0,05). Ekstrak etil asetat menunjukkan aktivitas destruktif tertinggi (43,76%), diikuti oleh n-heksana (37,13%) dan etanol (33,50%).&#13;
Kesimpulan: Clitoria ternatea L. memiliki sifat antibiofilm yang menjanjikan. Ekstrak etil asetat dari tumbuhan ini, yang menunjukkan potensi aplikasinya dalam mengelola infeksi karena aktivitasnya dalam penghancuran biofilm Staphylococcus aureus.&#13;
&#13;
Katakunci: Clitoria ternatea L., Staphylococcus aureus, biofilm inhibition, biofilm destruction, ekstrak tanaman.
</summary>
<dc:date>2026-04-20T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
