<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>OI - Humanities Subjects</title>
<link href="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/6945" rel="alternate"/>
<subtitle>Koleksi Orasi Ilmiah Bidang Disiplin Ilmu Humaniora Universitas Islam Malang</subtitle>
<id>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/6945</id>
<updated>2026-07-14T20:23:19Z</updated>
<dc:date>2026-07-14T20:23:19Z</dc:date>
<entry>
<title>Membangun Literasi Akademik dan Berpikir Kritis Melalui Media Digital Interaktif dan Chat GPT di Era Digital pada Pendidikan Tinggi di Indonesia</title>
<link href="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13118" rel="alternate"/>
<author>
<name>Heriyawati, Dwi Fita</name>
</author>
<id>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13118</id>
<updated>2026-03-05T04:53:26Z</updated>
<published>2025-11-02T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Membangun Literasi Akademik dan Berpikir Kritis Melalui Media Digital Interaktif dan Chat GPT di Era Digital pada Pendidikan Tinggi di Indonesia
Heriyawati, Dwi Fita
</summary>
<dc:date>2025-11-02T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Mencintai Bumi Melalui Pendidikan BSI Berwawasan Ekoliterasi</title>
<link href="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9132" rel="alternate"/>
<author>
<name>Werdiningsih, Dyah</name>
</author>
<id>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9132</id>
<updated>2024-02-12T05:57:01Z</updated>
<published>2023-12-20T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Mencintai Bumi Melalui Pendidikan BSI Berwawasan Ekoliterasi
Werdiningsih, Dyah
Isu global bahwa alam mengalami perubahan ekosistem karena adanya perubahan &#13;
iklim, pembangunan yang tidak berkelanjutan, deforestasi, serta kelalaian manusia &#13;
dalam menjaga alam menyebabkan banyak makhluk hidup flora dan fauna punah. &#13;
Perubahan iklim yang cepat, kerusakan hutan yang luas, polusi udara dan air, serta &#13;
peningkatan volume sampah merupakan isu utama yang memerlukan perhatian serius. &#13;
Perubahan iklim merupakan ancaman bagi keberlanjutan ekosistem global dan &#13;
kehidupan manusia. Isu global bahwa alam mengalami perubahan ekosistem karena adanya perubahan &#13;
iklim, pembangunan yang tidak berkelanjutan, deforestasi, serta kelalaian manusia &#13;
dalam menjaga alam menyebabkan banyak makhluk hidup flora dan fauna punah. &#13;
Perubahan iklim yang cepat, kerusakan hutan yang luas, polusi udara dan air, serta &#13;
peningkatan volume sampah merupakan isu utama yang memerlukan perhatian serius. &#13;
Perubahan iklim merupakan ancaman bagi keberlanjutan ekosistem global dan &#13;
kehidupan manusia. Isu lingkungan telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi manusia pada &#13;
abad ke-21, dengan ditemukannya 15 masalah terbesar lingkungan hidup pada tahun &#13;
2023. Masalah itu berupa pemanasan global akibat bahan bakar fosil, pemerintahan &#13;
yang buruk, limbah makanan, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi plastik, &#13;
penggundulan hutan, polusi udara, mencairnya lapisan es dan kenaikan permukaan air &#13;
laut, pengasaman laut, pertanian, kerawanan pangan dan air, limbah fashion dan tekstil, &#13;
penangkapan ikan yang berlebihan, penambangan kobalt, dan degradasi tanah &#13;
(Robinson, 2023). Masalah-masalah tersebut telah mengancam keseimbangan alam dan &#13;
kesejahteraan manusia. Dunia menghadapi tantangan yang kompleks dan mendesak. &#13;
Tantangan ini memerlukan perhatian global, termasuk di Indonesia yang mengalami &#13;
eksploitasi kekayaan alam yang luar biasa.&#13;
Indonesia—sebagai negara kepulauan terbesar di dunia—menghadapi isu-isu &#13;
lingkungan yang unik. Deforestasi, polusi udara perkotaan, dan pengelolaan sampah &#13;
yang kurang optimal menjadi masalah kritis yang perlu segera diatasi. Dampak &#13;
persoalan lingkungan secara perlahan-lahan akan dapat memusnahkan peradaban &#13;
manusia (Diamon, 2021). Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya alam yang &#13;
berkelanjutan dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati menjadi penting &#13;
dalam menjaga keberlanjutan ekosistem bagi kehidupan masyarakat Indonesia.&#13;
Untuk mengatasi tantangan lingkungan ini, diperlukan tindakan yang tegas dan &#13;
komprehensif dengan melibatkan pemerintah, industri, dan masyarakat. Alternatif &#13;
solusi yang telah dilakukan, antara lain pengurangan emisi gas rumah kaca melalui &#13;
penggunaan energi terbarukan dan efisiensi energi, pengelolaan hutan yang &#13;
berkelanjutan, peningkatan pengelolaan limbah, dan penegakan hukum yang ketat &#13;
terhadap pelanggaran lingkungan. Selain itu, pendidikan untuk meningkatkan &#13;
kesadaran masyarakat tentang pelestarian lingkungan itu sangat penting.&#13;
Menurut Ki Hajar Dewantara, ada tiga pusat pendidikan yang mencakup alam &#13;
keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. Konsep tersebut lalu &#13;
dikembangkan menjadi tripusat pendidikan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun &#13;
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang meliputi tiga hal yaitu pendidikan &#13;
keluarga, pendidikan sekolah, dan pendidikan masyarakat. Dengan demikian &#13;
pendidikan lingkungan hendaknya dilaksanakan di tiga pusat pendidikan tersebut.&#13;
Mengapa pendidikan lingkungan penting? Menjaga lingkungan merupakan bentuk rasa &#13;
syukur dan wujud ketaatan kita terhadap perintah Allah. Menurut Ubab (2023), di &#13;
antara perintah yang Allah titahkan kepada umat manusia sebagai khalifah-Nya di &#13;
bumi antara lain ditugasi untuk merawat dan menjaga lingkungan hayati tempat &#13;
beribadah agar tetap lestari. Allah secara tegas melarang untuk berbuat kerusakan di &#13;
muka bumi. Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 56: لَوَ&#13;
ْوا&#13;
ْر ِض فِى تُْف ِسدُ&#13;
ْلَ&#13;
بَ ْعدَ ا&#13;
َوادْ ُعْوهُ اِ ْصََل ِح َها&#13;
ا&#13;
َخْوفً&#13;
 &#13;
ِرْي ب ّٰللاِ َر ْح َم َت اِ َّن َّو َطَمعًا&#13;
ُم ْح ِسنِ ْي َن ِِّم َن قَ&#13;
ْ&#13;
ال Artinya, “Dan janganlah kamu &#13;
berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat &#13;
kebaikan.” Pada ayat tersebut, ditegaskan tentang larangan kepada umat manusia, &#13;
untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Kerusakan yang dimaksud ayat tersebut di &#13;
antaranya kerusakan lingkungan yang menjadi bagian tempat dilaksanakannya ibadah. &#13;
Pada firman tersebut ditegaskan bahwa, bumi sebagai tempat tinggal dan tempat hidup &#13;
manusia dan makhluk Allah lainnya sudah diciptakan oleh Allah dengan penuh&#13;
rahmatnya. Gunung-gunung, lembah-lembah, sungai-sungai, lautan, daratan, dan lain lainnya semua itu diciptakan Allah untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan sebaik baiknya oleh manusia, bukan sebaliknya dirusak dan dibinasakannya (Kristina, 2023).&#13;
Terkait dengan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa &#13;
larangan tersebut akan berdampak signifikan bagi umat manusia yang melanggarnya. &#13;
Jika umat manusia melanggar larangan tersebut dengan berbuat kerusakan, mereka &#13;
(semua orang) pula yang akan menanggung akibatnya. Sebagai contoh, bencana tanah &#13;
longsor disebabkan oleh penebangan pohon besar-besaran tanpa reboisasi, dan lain lain (Ubab, 2023).&#13;
Terkait dengan hal tersebut, Allah Ta’ala berfirman: رَه َظُ َسادَ&#13;
فَ&#13;
ْ&#13;
بَ ِّرِ فِى ال&#13;
ْ&#13;
بَ ْحِر ال&#13;
ْ&#13;
َوال&#13;
ِ َما&#13;
ْت ب&#13;
ْيِدى َك َسبَ&#13;
اَ&#13;
ُهْم النَّا ِس&#13;
ِذ ْي بَ ْع َض ِليُ ِذْيقَ&#13;
َّ&#13;
ْوا ال&#13;
ُ&#13;
ُهْم َعِمل&#13;
َّ&#13;
 di dan darat di kerusakan tampak Telah, “Artinya يَ ْر ِجعُ ْو َن لَعَل&#13;
laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka &#13;
merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan &#13;
yang benar)”. (QS Ar-Rum: 41). Pada ayat tersebut ditegaskan bahwa sejatinya &#13;
kerusakan yang terjadi di muka bumi baik di lautan maupun daratan sejatinya &#13;
disebabkan oleh perilaku umat manusia itu sendiri. Apabila, kemudian turun bencana &#13;
alam, sejatinya itu sebagai akibat perbuatan mereka sendiri.&#13;
Sebagai wujud rasa syukur dan ketaatan kita terhadap perintah Allah SWT untuk &#13;
menjaga lingkungan dan merawat bumi kita, dunia pendidikan khususnya dunia &#13;
pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, telah berusaha berkontribusi pada upaya &#13;
meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan perilaku positif siswa terhadap upaya &#13;
pelestarian lingkungan dan menjaga alam semesta. Berdasarkan kajian yang telah &#13;
dilakukan, dalam paparan ini diuraikan beberapa hal, yaitu (1) konsep dasar dan prinsip &#13;
ekoliterasi, (2) komponen ekoliterasi dalam pembelajaran, (2) desain ekoliterasi dalam &#13;
pembelajaran BSI strategi pembelajaran BSI berwawasan ekoliterasi, dan (4)&#13;
implementasi: pembelajaran BSI berwawasan ekoliterasi. Contoh implementasi &#13;
diuraikan berdasarkan hasil identifikasi produk-produk penelitian inovasi pembelajaran &#13;
BSI yang memanfaatkan teks bermuatan kronik krisis lingkungan di sekitar siswa.
</summary>
<dc:date>2023-12-20T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>INOVASI PEMBELAJARAN DAN TEKNOLOGI BANTU (ASISTIF) UNTUK MAHASISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS  BIDANG PENDIDIKAN BAHASA (KAJIAN TEORETIK DAN EMPIRIK)</title>
<link href="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/7058" rel="alternate"/>
<author>
<name>Prasetyoningsih, Luluk Sri Agus</name>
</author>
<id>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/7058</id>
<updated>2023-04-10T05:49:34Z</updated>
<published>2023-02-04T00:00:00Z</published>
<summary type="text">INOVASI PEMBELAJARAN DAN TEKNOLOGI BANTU (ASISTIF) UNTUK MAHASISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS  BIDANG PENDIDIKAN BAHASA (KAJIAN TEORETIK DAN EMPIRIK)
Prasetyoningsih, Luluk Sri Agus
Mahasiswa Berkebutuhan Khusus (MBK) adalah peserta didik, baik yang &#13;
mengalami keluarbiasaan (gifted-talented) maupun keterbatasan yang berpengaruh &#13;
secara signifikan dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan mahasiswa lain &#13;
pada umumnya. MBK berkarakteristik hambatan khusus disebut juga mahasiswa &#13;
disabilitas meliputi hambatan penglihatan, hambatan pendengaran, hambatan fisik &#13;
motorik, hambatan intelektual, hambatan emosi dan perilaku, lamban belajar, kesulitan &#13;
belajar spesifik, gangguan spektrum autis, gangguan perhatian dan hiperaktif, dan &#13;
penyandang sakit menahun (berisiko).
</summary>
<dc:date>2023-02-04T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
