<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/119">
<title>Faculty of Islamic Studies Book's</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/119</link>
<description>Koleksi Publikasi Buku Elektronik (E-Book) Fakultas Agama Islam</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9196"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9195"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9194"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/7068"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-14T16:22:59Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9196">
<title>MONOGRAF : Perdamaian Sunni-Syiah Sampang Melalui Modal Sosial Dan Advocacy Coalition Framework</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9196</link>
<description>MONOGRAF : Perdamaian Sunni-Syiah Sampang Melalui Modal Sosial Dan Advocacy Coalition Framework
Bakri, Maskuri; Mustafida, Fita; Andriyansyah, Fahrudin; Asrori, Muhammad
Assalamu’alaikum War. Wab.&#13;
Puji syukur kepada Allah SWT., yang telah menganugerahkan&#13;
rahmat, hidayah,taufiq dan karunia-Nya sehingga penulis diberikan&#13;
kemudahan dalam mengungkap berbagai problem yang dihadapi&#13;
Sunni-Syiah di Sidoarjo dan Sampangmelalui penelitian yang penulis&#13;
lakukan,sehingga sangat mendukung terwujudnya buku monograf&#13;
ini dengan judul “Monograf Perdamaian Sunni-Syiah Sampang&#13;
Melalui Modal Sosial dan Advocacy Coalition Framework”.&#13;
Perjalanan panjang rekonsiliasi antara Sunni dan Syiah di&#13;
Sampang menghadapi dinamika yang rumit dan penuh tantangan.&#13;
Konflik yang bermula pada tahun 2012 telah menimbulkan dampak&#13;
yang mendalam, menciptakan sejumlah pengungsi internal yang&#13;
masihmencari kedamaiandi antara gejolakperbedaankeyakinandan&#13;
ketegangan komunal. Melalui buku ini, penulis berupaya menguraibenang kusut konflik tersebut, mencari solusi, dan menemukan&#13;
jalan menuju perdamaian.&#13;
Bab pertama pada buku ini merinci peristiwa-peristiwa&#13;
penting yang membentuk dan memicu konflik Sunni-Syiah di&#13;
Sampang. Dengan menelusurisejarah, pembaca dapat memahami&#13;
akar persoalan yang menjadi tantangan bersama. Kemudian, bab&#13;
kedua memperkenalkan teori konflik, modalsosial,rekonsiliasi, dan&#13;
Advocacy Coalition Framework sebagai landasan analisis.&#13;
Modal Sosial merupakan elemen penting sebagai alternatif&#13;
dalam mendamaikan konflik Sunni-Syiah Sampang. Modal sosial&#13;
yang telah ada di Masyarakat Sampang telah dijadikan sebagai&#13;
pondasi menjalin hubungan yang telah terputus bertahun-tahun&#13;
melalui Advocacy Coalition Framework.&#13;
Langkah selanjutnya, pada bab ketiga, akan membawa&#13;
pembaca lebih dalam ke inti pembahasan. Dalam bagian ini, konflik&#13;
tersebut diuraikan dengan memandangnya melalui lensa modal&#13;
sosial, mengeksplorasi upaya rekonsiliasi yang telah dilakukan,&#13;
serta mengaplikasikan Advocacy Coalition Framework untuk&#13;
merancang pendekatan holistik yang melibatkan masyarakat&#13;
sipil dalam penyelesaian konflik. Bab ini menjadi jendela untuk&#13;
memahami secara lebih rinci dinamika masyarakat Sampang dan&#13;
bagaimana keterlibatan masyarakatsipil dapat membentuk proses&#13;
rekonsiliasi.&#13;
Penutup pada Bab keempat menjadi refleksi dan panggilan&#13;
untuk tindakan. Dengan merangkum temuan-temuan pada&#13;
pembahasan intik buku ini, penulis dan pembaca, bersama-sama&#13;
berkesempatan untuk menyimpulkan, menyoroti pencapaian,&#13;
dan merumuskan arah ke depan. Apakah perdamaian dapat&#13;
tercapai sepenuhnya atau masih ada tantangan yang perludiatasi? Bagaimana modal sosial dapat terus ditingkatkan untuk&#13;
mendukung rekonsiliasi yang berkelanjutan? Semua pertanyaan ini&#13;
membuka jalan untuk bersama-sama berkontribusi dalam upaya&#13;
mencapai perdamaian di Sampang.&#13;
Buku ini diharapkan dapat menambah khazanah pengetahuan&#13;
dan keilmuan mengenai penanganan konflik di Indonesia, terutama&#13;
konflik Sunni-Syiah yang terjadi di Sampang dan Jemundo Sidoarjo.&#13;
Selain itu buku monograf ini dapat dijadikan acuan rekonsiliasi&#13;
konflik Sunni-Syiah Sampang.&#13;
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua&#13;
pihak atas kerjasamanya mulai dari awalsampaiselesainya buku ini.&#13;
Penulis menyadari bahwa penulisan buku Monograf ini masih jauh&#13;
dari sempurna sehingga segala masukan dan kritikan yang bersifat&#13;
membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan.&#13;
Wassalamu’alaikum War. Wab.
[ARCHIVES] Copyright from : Penerbit Edulitera &amp; Penulis
</description>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9195">
<title>ISLAM DAN MODERASI BERAGAMA : Kepemimpinan Transformatif dengan Mentalitas Keteladanan</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9195</link>
<description>ISLAM DAN MODERASI BERAGAMA : Kepemimpinan Transformatif dengan Mentalitas Keteladanan
Bakri, Maskuri
Assalamu’alaikum War. Wab.&#13;
Puji syukur kehadirat Allah SWT., karena atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan&#13;
buku ”Islam dan Moderasi Beragama, Kepemimpinan Transformatif dengan Mental&#13;
Keteladanan” dengan berbagai variannya, menggambarkan pola intraksi manusia terkait&#13;
dengan hablum minallah, hablum minannas dan hablum minal ’alam. Shalawatullah&#13;
wasalamuhu dihaturkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW., karena beliau telah&#13;
meletakkan dasar-dasar aqidah, syari’ah, akhlaq, budaya dan peradaban yang memanusiakan&#13;
manusia di muka bumi.&#13;
Buku ini pada bab pertama, mengupas puasa dan spiritualitas keagamaan. Menjelaskan&#13;
bahwa orang mukmin hidup di dunia itu bertujuan untuk beribadah pada Allah SWT.,&#13;
dengan cara bertaqwa kepada-Nya. Orang yang bertaqwa sebagaimana dapat kita baca&#13;
pada ayat-ayat pertama surat al-Baqarah adalah mereka yang beriman kepada yang gaib,&#13;
menegakkan salat, mendermakan sebagian harta yang dikaruniakan Allah kepada mereka,&#13;
percaya pada ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan yang diturunkan&#13;
kepada sebelum beliau. Kelima indikasi taqwa itu dapat diinterpretasikan sebagai beriman&#13;
secara an-sich (dengan menerima kenyataan adanya kenyataan gaib), beribadah sebagai&#13;
usaha melakukan pendekatan diri kepada Allah, memiliki kesadaran tentang tanggung&#13;
jawab sosial, mengakui adanya kontinuitas dan kesatuan ajaran kebenaran dalam agamaagama sepanjang zaman, dan kesadaran akan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah SWT&#13;
pada Hari Akhir nanti.&#13;
Dari kelima unsur yang menjadi indikasi taqwa itu, unsur keyakinan kepada yang gaib&#13;
menjadi tekanan utama peneguhannya melalui ibadah puasa. Sebab, dari semua ibadat, puasa&#13;
adalah ibadat yang paling pribadi, personal, atau privat, tanpa kemungkinan bagi orang lain&#13;
untuk dapat sepenuhnya melihat, mengetahui dan apalagi menilai. Dengan demikian, puasa&#13;
sebagai ibadah yang sangat privat itu merupakan latihan akan kesadaran kehadliran Allah&#13;
SWT dalam hidupnya kapanpun dan di manapun seseorang berada. Kesadaran inilah yang melandasi ketaqwaan yang menjadi misi utama dan tujuan ibadah&#13;
puasa yang kemudian meluas pada nilai-nilai hidup lain yang amat tinggi seperti bertingkah&#13;
laku yang baik dan terpuji. Dengan puasa yang dijalankan dengan kesadaran yang mendalam&#13;
akan kehadiran Allah SWT pada dirinya, seseorang dilatih untuk mampu mengendalikan&#13;
diri dari desakan memenuhi kebutuhan biologis yang menjelma menjadi dorongan “hawa&#13;
nafsu”. Hal ini sangat logis, mengingat sadar akan kehadiran Allah SWT dalam hidup adalah&#13;
moralitas yang tinggi, budi pekerti luhur atau al akhlaq al-karimah.&#13;
Kesadaran spiritual berupa perasaan selalu dilihat dan diawasi Allah, dalam Islam, sama&#13;
dengan ihsan yang melahirkan sikap pengendalian diri yang kuat, jujur, tanggung jawab,&#13;
amanah, sabar, ridha dan tawakkal. Saat berpuasa, seseorang dilatih mengendalikan diri&#13;
(self control) dan menahan nafsu, yang misinya meningkatkan daya tahan mental dalam&#13;
menghadapi berbagai stress kehidupan dan berimplikasi sangat penting bagi kesehatan jiwa.&#13;
Pada bab kedua, menjelaskan tentang Islam dan moderasi beragam, bahwa ajaran Islam&#13;
yang bersifat universal (rahmatan lil’alamin) mengajarkan umatnya berpikir, berperilaku,&#13;
dan berinteraksi yang didasari sikap tawazun (seimbang) dalam dimensi duniawi dan&#13;
ukhrawi. Islam juga meletakkan dasar ajaran untuk mengimplementasikan sikap moderasi&#13;
beragama, termasuk di dalamnya menghargai perebedaan agama, menghormati keyakinan&#13;
dan cara beribadah umat yang berbeda agama, bersikap toleransi dan berlaku adil terhadap&#13;
semua umat beragama. Meskipun demikian sikap moderasi beragama dalam Islam tidak&#13;
berarti bahwa umat Islam yang dianggap moderat dilarang berpegang teguh dan bertindak&#13;
istiqamah dalam batasan-batasan yang justru wajib dipertahankan sebagai pemeliharaan&#13;
identitas keimanannya kepada Allah.&#13;
Moderasi beragama memang baru hangat dibicarakan di Indonesia sepuluh tahun&#13;
terakhir ini, namun dalam Islam sikap moderasi sudah lama adanya. Istilah moderasi dalam&#13;
Islam dikenal dengan “wasathiyah”, bahkan umatnya mendapat julukan ummatan wasathan,&#13;
yaitu menjadi umat pilihan yang selalu bersikap menengahi atau adil. Alquran surah AlBaqarah ayat 143 menyebutkan: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu “umat&#13;
pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)&#13;
menjadi saksi atas(perbuatan) kamu”.&#13;
Salah satu bentuk moderasi beragama yang ditunjukkan Islam adalah dengan&#13;
memberikan kebebasan beragama. Ini dapat kita lihat pada Pasal 25 Piagam Madinah&#13;
yang menyebutkan “bagi orang-orang Yahudi, agama meraka dan orang-orang Islam agama&#13;
mereka.” Pasal ini memberikan jaminan kebebasan beragama. Piagam Madinah adalah&#13;
suatu Piagam Politik yang dibuat oleh Nabi Muhammad SAW tidak lama setelah beliau hijrah&#13;
ke Madinah, digunakan untuk mengatur kehidupan bersama masyarakat Madinah yangdihuni oleh beberapa macam golongan. Dalam Piagam itu dirumuskan kebebasan beragama,&#13;
hubungan antara kelompok, dan kewajiban mempertahankan kesatuan hidup bersama.&#13;
Di antara wujud kebebasan beragama itu adalah beribadat menurut agama masingmasing. Dalam kehidupan bersama itu, komunitas Yahudi bebas dalam melaksanakan agama&#13;
mereka dan Islam menunjukkan toleransi terhadap agama lain. Kebebasan beragama yang&#13;
ditetapkan dalam Piagam Madinah itu, tampaknya lebih dulu dari turunnya firman Allah&#13;
SWT dalam QS, 2: 256 yang artinya “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).&#13;
Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barang siapa&#13;
yang ingat pada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang&#13;
kepada tali agama yang kuat yang tidak pernah putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha&#13;
Mengetahui”.&#13;
Kebebasan beragama itu tampak pula pada pertemuan tiga agama di Madinah, yaitu agama&#13;
Islam, Yahudi, dan Nasrani. Dalam suasana kebebasan beragama diadakan dialog dan debat&#13;
teologis antarpemuka agama dari ketiga agama itu. Pihak Yahudi menolak sama sakali ajaran&#13;
Isa dan Muhammad SAW, mereka menonjolkan bahwa Uzayr adalah anak Allah. Pihak Nasrani&#13;
mengemukakan paham trinitas dan mengakui Isa-lah adalah anak Tuhan. Muhammad SAW&#13;
mengajak manusia meng-Esa-kan Tuhan. Kepada kaum Yahudi dan Nasrani, Muhammad&#13;
SAW., mengajak: “Marilah kita menerima kalimat yang sama di antara kami dan kalian. Bahwa&#13;
tidak ada yang kita sembah selain Allah. Kita tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun.&#13;
Tidak pula di antara kita mempertuhan satu sama lain, selain Allah. Pertemuan tiga agama&#13;
tersebut tidak membawa kepada kesatuan agama. Yahudi dan Nasrani tetap pada pendirian&#13;
mereka. Muhammad SAW juga tidak memaksa untuk mengubah agama mereka. Muhammad&#13;
SAW., hanya mengajak mereka meng-Esa-kan Allah.&#13;
Kemudian ketika bulan Januari 630 M atau Ramadhan tahun ke-8 H Kota Mekah jatuh&#13;
ke bawah kekuasaan Islam, dikenal dengan sebutan fath atau penaklukan par excellence.&#13;
Muhammad Saw. menunjukkan kebesaran jiwa, keluasan pandangan dan sikap kasih&#13;
sayangnya dengan memberikan amnesti umum kepada seluruh kaum musyrikin Quraisy,&#13;
termasuk semua pemimpin mereka. Sejalan dengan kebijakan tersebut tidak seorang pun&#13;
dipaksa masuk Islam. Konversi agama, tampaknya benar-benar diserahkan kepada kesadaran&#13;
mereka. Piagam Madinah yang berlaku pada zaman Rasulullah memuat ketentuan-ketentuan&#13;
moderasi beragama yang menjadi dasar kerukunan hidup beragama. Artinya, para pemeluk&#13;
agama yang berbeda harus hidup berdampingan secara damai. Agama yang berbeda tidak&#13;
menjadi penghalang bagi kerukunan hidup di tengah masyarakat. Baik dalam beribadah&#13;
sebagai individu maupun dalam berinteraksi sosial sebagai anggota masyarakat, Islam&#13;
mengajarkan untuk selalu bersikap moderat.Islam juga cinta damai, firman Allah SWT dalam QS 4: 114 yang artinya “Tidak ada&#13;
kebaikan dari orang-orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat baik,&#13;
atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena&#13;
mencari keridhaan Allah, kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”. Perdamaian&#13;
antara orang Islam dan bukan Islam diperbolehkan dengan berdasarkan ketentuan syariat,&#13;
Firman Allah SWT dalam QS. 8: 16 yang artinya “Jika mereka merendah untuk berdamai,&#13;
maka merendahlah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesunguhnya Dialah Yang&#13;
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.&#13;
Nabi Muhammad SAW. sangat giat dalam usaha kepada perdamaian. Al-diin almu’amalah (Agama adalah interaksi), demikian Nabi Muhammad SAW bersabda. Maksud&#13;
beliau, keberagaman diukur dari interaksi. Semakin baik interaksi seseorang semakin baik&#13;
pula keberagamaanya. Islam yang juga terambil dari kata yang sama “salam atau damai”,&#13;
menuntut agar interaksi atau hubungan dengan siapapun harus dilakukan dengan baik,&#13;
damai, dan membawa kepada kedamaian. Demikianlah Islam dengan ajarannya sangat&#13;
menganjurkan adanya kerukunan dan kedamaian di manapun dan kapanpun. Rukun&#13;
dan damai adalah wujud esensi dari moderasi beragama, dan moderasi beragama atau&#13;
”wasathiyah” merupakan esensi dari ajaran Islam.&#13;
Pada bab ketiga, banyak membicarakan tentang pendidikan, yang merupakan salah&#13;
satu cara mempertahankan keberadaan suatu bangsa. Pendidikan yang berkualitas akan&#13;
menciptakan sumber daya manusi yang memiliki kompetensi dan keterampilan yang baik&#13;
sehingga dapat membuat suatu negara menjadi maju. Apabila mutu pendidikan negara itu&#13;
baik maka negara itu akan maju . Sebaliknya apabila mutu pendidikan suatu negara rendah&#13;
maka negara tersebut akan terkendala dan tidak berkembang. Pendidikan menjadi dasar&#13;
untuk mempersiapkan masa depan yang gemilang. Pendidikan dapat membangun karakter&#13;
dan kepribadian seseorang menjadi lebih baik dalam kehidupan dan pergaulan sebagai&#13;
anggota masyarakat. Dengan Pendidikan manusia akan mampu memaksimalkan potensi&#13;
dan bakat yang dimilikinya.&#13;
Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun&#13;
semua kodrat yang ada pada anak sehingga mereka mencapai keselamatan dan kebahagian&#13;
yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Karenanya,&#13;
pendidik itu hanya dapat menuntun berkembangnya kekuatan kodrat yang ada, agar&#13;
dapat memperbaiki prilaku (bukan dasarnya) hidupnya. Untuk mencapai tujuan ini, dapat&#13;
diwujudkan dengan pendidikan yang memerdekakan. Pendidikan yang memerdekakan&#13;
yaitu anak diberi kebebasan dalam proses pembelajaran sesuai dengan minat, bakat dan&#13;
potensinya, namun pendidik harus menjadi pendamping serta memberi tuntunan agar anak&#13;
tidak kehilangan arah dan berakibat mencelakakan diri. Sehingga sebagai seorang pendidikharus dapat menerapkan pendidikan yang memerdekakan anak didik, sehingga saat ini&#13;
muncul konsep merdeka belajar.&#13;
Pada bab keempat, mengupas tentang religiositas merupakan salah satu aspek insani&#13;
berupa getar hati dan kualitas manusia yang mendorong bertumbuhnya sikap atau&#13;
kecenderungan hidup yang bernilai. Religiositas merupakan hal yang mendasar atau esensial&#13;
dalam hidup manusia. Dalam pengertian lain, religiositas merupakan daya-daya insani yang&#13;
bersifat batiniah yang ada di dalam kedalaman hati. Religiositas merupakan “ibu dari cinta&#13;
kepada kebenaran, kesukaan pada gejala yang wajar, sederhana, jujur dan sejati”.&#13;
Religiositas merupakan inti dan daya agama. Bisa diumpamakan kalau agama adalah&#13;
bunga yang indah, religiositas merupakan sari bunga yang terletak di dalam jantung bunga&#13;
itu. Agama atau religion (Latin: religio, re-legere) merupakan model kehidupan yang ditandai&#13;
oleh ikatan atau keterhubungan praksis kehidupan doa-ritual, komunitas persaudaraan, dan&#13;
tindakan amal kasih. Dengan demikian, religiositas dan agama (religion) merupakan dua sisi&#13;
dari model kehidupan yang menyatukan aspek empiris dan meta empiris atau menyatukan&#13;
dua sisi insani, yakni sisi jasmaniah dan rohaniah.&#13;
Ketika agama tidak didasari oleh kualitas batin atau religiositas, ia kehilangan daya dan&#13;
akan menjadi sekedar kegiatan sosial-politik tanpa visi kemanusiaan yang utuh. Sementara&#13;
religiositas tanpa agama akan menjadi gerakan karismatik yang tidak bisa dijamin kelestarian&#13;
dan keberlanjutannya.&#13;
Pada bab kelima, mengupas tentang agama kaitannya dengan etos kerja, maka&#13;
persoalannya adalah agama dalam tahap penghayatan yang mana. Hal ini disebabkan karena&#13;
etos kerja berkaitan langsung dengan usaha manusia mengatasi dan meningkatkan kehidupan&#13;
produktivitas yang bersifat sosial ekonomis. Untuk meningkatkan produktivitas ekonomis&#13;
yang berdimensi humanitas, diperlukan etos kerja yang bersumber pada penghayatan&#13;
agama yang lebih antroposentris dengan memberikan peran lebih besar dan “bebas” kepada&#13;
manusia untuk mengembangkan kreativitasnya secara optimal. Pendekatan antroposentris&#13;
dalam agama dimungkinkan, karena agama pada hakikatnya untuk manusia dan untuk&#13;
memperkokoh kemanusiaan.&#13;
Manusia membutuhkan agama untuk mengenal dan memasuki dimensi gaib yang telah&#13;
menjadi bagian bawaan kodratnya, dan hanya agamalah yang dapat mengantarkan manusia&#13;
berkenalan dan bahkan hidup dalam kegaiban. Agama sama sekali bukan dan tidak untuk&#13;
Tuhan, karena Tuhan sama sekali tidak memerlukan dan membutuhkan apapun, apalagi&#13;
agama. Etos suatu bangsa menurut Clifford Geertz (1974) adalah sifat, watak, dan kualitas&#13;
kehidupan mereka, moral dan gaya estetis dan suasana-suasana hati mereka. Etos adalah&#13;
sikap mendasar terhadap diri mereka sendiri dan terhadap dunia mereka yang direfleksikandalam kehidupan. Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar dalam kerja.&#13;
Sebagai sikap hidup yang mendasar, suatu etos pada dasarnya merupakan cerminan dari&#13;
pandangan hidup yang berorientasi pada nilai-nilai luhur yang transenden.&#13;
Dalam kaitan bahasan di atas, maka agama bagi pemeluknya merupakan sistem nilai&#13;
yang mendasari suatu etos kerjanya. Kerja seyogyanya diletakkan sebagai realisasi dari ajaran&#13;
agamanya. Telah banyak dilakukan studi-studi mengenai hubungan antara etos kerja dengan&#13;
agama. Hampir semua agama mengajarkan kepada manusia untuk memberikan sedekah dan&#13;
menyantuni yang membutuhkan, mendorong pemeluknya untuk giat bekerja mendapatkan&#13;
rezeki dan berkah dari Tuhannya, bahkan dalam Islam, dikenal anjuran Nabi Muhammad&#13;
SAW yang menegaskan bahwa tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah, artinya&#13;
memberi lebih mulia dari pada meminta, dan untuk dapat memberi tentu seseorang harus&#13;
mempunyai kelebihan untuk dapat diberikan kepada sesamanya yang kekurangan. Dan&#13;
untuk dapat memberi, diperlukan tidak saja ia selayaknya berkecukupan secara material,&#13;
tetapi juga kedalaman spiritual sehingga memberi merupakan panggilan sosial keagamaan.&#13;
Fenomena kemiskinan, kesengsaraan dan penderitaan dalam kehidupan manusia, pada&#13;
dasarnya banyak berkaitan dengan problematika ketimpangan dalam realitas hidup manusia&#13;
sendiri.&#13;
Pada bab keenam, mengupas tentang politik dan kemanusiaan, politik selalu dicitrakan&#13;
sebagai barang kotor. Soe Hok Gie mengatakan, politik adalah barang yang paling kotor,&#13;
lumpur-lumpur yang kotor. Tapi, suatu saat ketika tidak dapat menghindari, maka terjunlah.&#13;
Kondisi panggung politik di mana saja selalu menyuguhkan akrobat yang sangat berbahaya,&#13;
membuat para penonton tegang bahkan tak mau lagi menonton pertunjukan tersebut,&#13;
apalagi terlibat sebagai aktor. Sebagai contoh dapat kita lihat di media sosial begitu mudahnya&#13;
mengkafirkan, menyalahkan, menuduh sesat, bahkan menyebar kabar hoaks sudah menjadi&#13;
kebiasaan.&#13;
Jika melihat fenomena di atas, politik sangat jauh dari rasa kemanusiaan. Kita dapat&#13;
melihat fenomena di mana manusia memakan saudaranya sendiri. Padahal seharusnya politik&#13;
merupakan alat untuk mengabdi pada kemanusiaan, bukan menghamba pada kekuasaan.&#13;
Meminjam pendapat Aristoteles bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara&#13;
untuk mewujudkan kebaikan bersama, bukan malah memperkeruh suasana. Namun, kita&#13;
tidak perlu risau dengan politik dan menjadi apolitis. Karena beberapa pemimpin dunia&#13;
seperti Gandhi dari India dan Nelson Mandela dari Afrika Selatan dapat mengubah wajah&#13;
bengis politik menjadi manis. Bahwa politik tidak sepenuhnya kotor, politik tidak sepenuhnya&#13;
jahat, dan politik juga dapat memanusiakan manusiaPada bab ketujuh, mengupas tentang kepemimpinan dan nasionalisme, di Indonesia&#13;
sendiri kita mengenal sosok KH. Abdurrahman Wahid dengan sapaan akrab Gus Dur. Gus Dur&#13;
merupakan politisi ulung, kiprahnya tidak dapat diragukan lagi terutama sejak tumbangnya&#13;
rezim Orde Baru. Gus Dur turut serta mendirikan partai politik yang mengantarkannya&#13;
hingga ke singgasana orang nomor satu di Indonesia. Selain itu Gus Dur juga dikenal sebagai&#13;
bapak bangsa yang gigih dan konsisten dalam memperjuangkan kemanusiaan, membela&#13;
kaum minoritas, dan menentang segala bentuk penindasan di muka bumi. Sebagai politisi&#13;
yang santri rupanya ia berprinsip “kemanusiaan lebih penting daripada politik”. Walaupun&#13;
sepak terjangnya tak jarang menuai kontroversi terutama di kalangan lawan-lawan politiknya.&#13;
Gus Dur, Gandhi, dan Mandela merupakan contoh tokoh yang berhasil memadukan&#13;
dua kutub yang dianggap berseberangan, yaitu politik dan kemanusiaan. Belajar dari mereka,&#13;
seorang pemimpin yang bisa memimpin bukan perkara mudah. Jika ingin menjadi ksatria&#13;
yang perkasa, mempunyai kesaktian dan tak dapat dikalahkan, harus digembleng terlebih&#13;
dahulu di Kawah Candradimuka. Kawah candradimuka adalah kawah yang terdapat di alam&#13;
kahyangan seperti disebutkan dalam kisah pewayangan. Kisah tersebut menggambarkan&#13;
bahwa untuk menjadi pemimpin yang kuat, yang berjiwa kesatria membutuhkan proses yang&#13;
lama dan berjenjang, bukan karbitan seperti kebanyakan calon pemimpin saat ini.&#13;
Tidak cukup sampai di situ seorang pemimpin juga harus mempunyai komitmen&#13;
yang tak tergoyahkan oleh badai apapun. Komitmen politik, visi dan misi yang jelas, dan&#13;
konsistensi merupakan prasyarat penting untuk melakukan perubahan. Karena politik itu&#13;
ibarat permainan bola, prediksinya bisa menang namun hasilnya kalah. Begitu pula dalam&#13;
proses kepemimpinan, tujuan awalnya bisa baik tapi akhirnya bisa buruk, lagi-lagi semuanya&#13;
tergantung pada komitmen sang pemimpin.&#13;
Agar proses kepemimpinan berjalan dengan baik, seorang pemimpin butuh bekerja&#13;
sama dengan banyak pihak atau saat ini kita kenal dengan kolaborasi. Seorang pemimpin&#13;
tidak mungkin berjalan sendirian, butuh dukungan untuk mewujudkan komitmennya.&#13;
Dan, itu hanya dapat dilakukan jika pemimpin tersebut mampu berkolaborasi dengan&#13;
siapapun, termasuk dengan lawannya sekalipun. Pemimpin maupun calon pemimpin yang&#13;
akan datang perlu belajar dan meneladani Gandhi, Mandela, dan Gus Dur bahwa kekuasaan&#13;
bukan segalanya. Ada yang lebih penting daripada itu, yaitu kemanusiaan. Minimal yang&#13;
harus dilakukan adalah bagaimana cara mendapatkan kekuasaan, dan memperlakukan&#13;
masyarakat sebagai konstituen utama dalam berdemokrasi dengan cara yang beradab, tidak&#13;
menghalalkan segala upaya.&#13;
Indonesia sudah 76 tahun merdeka dengan segala dinamika sejarah yang panjang. Para&#13;
pendiri bangsa telah berhasil merumuskan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa. Bersamadengan pemimpin bangsa dari generasi ke generasi, telah pula bersepakat untuk menjadikan&#13;
Pancasila sebagai salah satu pilar bangsa yang utama, bersama dengan UUD 1945, NKRI&#13;
dan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam istilah yang lebih heroik, keempat pilar Negara ini sudah&#13;
dianggap final dan harga mati, tidak ada perubahan, penggantian dan tawar menawar&#13;
lagi. Setelah sekian lama merdeka, tentu Pacasila tidak perlu lagi diucapkan dalam ucapan&#13;
verbal “Saya atau Aku Pancasila”. Yang lebih dibutuhkan sekarang adalah penghayatan&#13;
dan pengamalan Pancasila itu sendiri secara baik, benar dan proporsional. Penghayatan&#13;
dan pengamalan sangat diperlukan karena dari situlah akan mampu diukur sejauhmana&#13;
ketulusan dan integritas nasionalisme seseorang warganegara, pejabat, pemimpin hingga&#13;
komitmen suatu organisasi, partai, lembaga dan sebagainya.&#13;
Korelasi antara nilai-nilai Pancasila dengan nasionalisme. Ketuhanan Yang Maha Esa,&#13;
oleh pendiri bangsa sudah tepat diposisikan sebagai sila pertama. Sebab semua bangsa&#13;
Indonesia adalah makhluk beragama dan bertuhan, homo-religious dan homo-divinans,&#13;
bukan atheis. Ketika agama-agama resmi belum datang, bangsa kita percaya kepada&#13;
animisme dan dinamisme, dan setelah agama datang kita menganut beberapa agama yang&#13;
sekarang diakui pemerintah, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.&#13;
Semua penganut agama dipersilakan meyakini, mempercayai dengan beribadah menurut&#13;
agama yang dianutnya, dengan tetap saling memelihara toleransi beragama, menghargai&#13;
dan menghormati. Toleransi bukanlah mencampuradukkan semua agama (sinkretisme),&#13;
melainkan kita menerima keberbedaan dalam beragama. Kita gunakan unsur persamaan&#13;
dalam ajaran agama sebagai energi positif untuk membangun bangsa, dan kita jadikan&#13;
perbedaan keyakinan bukan sebagai sumber konflik, melainkan sebagai mozaik yang&#13;
mewarnai dan memperindah kehidupan bangsa. Kita jadikan kehidupan nasional yang solid&#13;
dan bersatu tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan masing-masing. Kalau perbedaan&#13;
kita jadikan sumber masalah, maka jangankan antarpenganut agama yang berbeda, sesama&#13;
penganut agama pun mudah timbul konflik sosial dan perpecahan, sebagaimana sering kita&#13;
rasakan selama ini.&#13;
Pada bab kedelapan, banyak bicara tentang kebudayaan (culture) adalah sesuatu yang&#13;
akan memengaruhi tingkat pengetahuan, dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat&#13;
dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat&#13;
abstrak. Oleh karenanya, kebudayaan selalu bertalian erat dengan kondisi sosial masyarakat&#13;
beserta alam pikirannya atau pola berpikir masyarakat. Kebudayaan yang mewujud&#13;
di permukaan masyarakat manusia, sebenarnya yang lebih dikenal sebagai peradaban&#13;
(civilization). Acapkali istilah peradaban tersebut dipahami sebagai budaya yang lebih besar&#13;
dan lebih maju, berbeda dengan budaya yang lebih kecil, yang konon primitif.Secara etimologis, kata kebudayaan itu berasal dari kata : budaya yang mengalami proses&#13;
afiksasi : ke - an, sehingga menjadi kebudayaan. Kata budaya itu sendiri berasal dari bahasa&#13;
Sansekerta, yakni dari kata buddh(i) yang dalam bentuk jamak adalah buddhayah yang&#13;
bermakna : akal pikiran/pola berpikir/alam pikiran. Dengan demikian, maka kata kebudayaan&#13;
mengandung makna hal ihwal tentang budaya atau hal ihwal tentang kondisi alam pikiran.&#13;
Kondisi alam pikiran siapa? Sudah barang tentu adalah kondisi alam pikiran masyarakat&#13;
manusia. Oleh karenanya, kata budaya ataupun kebudayaan selalu berhubungan erat dengan&#13;
kata masyarakat (social, society). Sehingga pada gilirannya, berbicara tentang kebudayaan&#13;
adalah selalu menyangkut tentang kondisi sosial masyarakat beserta alam pikirannya. Dan,&#13;
kondisi sosial masyarakat dimaksud, yang tampak di permukaan menempati satu ruang dan&#13;
waktunya, itulah peradaban.&#13;
Kebudayaan dan peradaban apabila diumpamakan atau dianalogikan, adalah seperti&#13;
halnya sebuah rambu-rambu lalu lintas. Rambu-rambu lalu lintas yang kita temui di jalan&#13;
itulah dapat kita jadikan sebagai analogi tentang kebudayaan dan peradaban. Begitu kita&#13;
menyaksikan sebuah rambu lalu lintas bergambar huruf P bergaris miring (/) merah dalam&#13;
lingkaran warna hitam misalnya, maka rambu tersebut mengisyaratkan makna dilarang&#13;
parkir di radius tertancapnya tanda rambu tersebut. Rambu lalu lintas itulah sebagai&#13;
peradaban, isyarat maknanya adalah kebudayaan.&#13;
Pada bab terakhir, banyak membicarakan hal ikhwal entrepreneur, kita akan berpikir&#13;
pada seseorang yang bergelut di satu bidang bisnis dan menghadirkan inovasi yang kekinian.&#13;
Entrepreneurship merupakan sebuah proses seorang entrepreneur saat mendirikan&#13;
sebuah bisnis. Dalam pertumbuhan ekonomi, entrepreneurship memegang peranan yang&#13;
sangat penting seperti menciptakan lapangan pekerjaan baru, mendorong perkembangan&#13;
teknologi, hingga menciptakan inovasi, karena seorang entrepreneur tidak akan tinggal diam&#13;
ketika dia telah mencapai sesuatu tujuan, dia akan terus berinovasi. Nah, inovasi inilah yang&#13;
menjadikan entrepreneurship seakan jadi angin segar dalam industri perekonomian.&#13;
Bila kita melihat ada beberapa jenis entrepreneur, yang meliputi foodpreneur,&#13;
technopreneur, womenpreneur, mompreneur, sociopreneur dan ecopreneur. Kesuksesan&#13;
seorang entrepreneur tak lepas dari jiwa kewirausahaannya yang tinggi, yakni selalu berpikir&#13;
optimis, berpikiran terbuka, fokus pada tujuan, memiliki kemampuan problem solving yang&#13;
bagus, berani mengambil risiko dan mampu menciptakan peluang bisnis. Selain memiliki&#13;
ciri-ciri di atas, seorang entrepreneur juga memiliki sifat atau karakteristik khusus yang&#13;
mudah dikenali. Misalnya, memiliki percaya diri yang tinggi, memiliki jiwa kepemimpinan,&#13;
dan memiliki orisinalitas.
[ARCHIVES] Copyright from : Penerbit Edulitera &amp; Penulis
</description>
<dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9194">
<title>Modal Sosial dan Advocacy Coalition Framework : Solusi Perdamaian Sunni-Syi’ah</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/9194</link>
<description>Modal Sosial dan Advocacy Coalition Framework : Solusi Perdamaian Sunni-Syi’ah
Bakri, Maskuri; Asrori, Muhammad; Mustafida, Fita; Andriyansyah, Fahrudin
Pujisyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat, nikmat,&#13;
karunia dan hidayahnya sehingga penulis diberikan kemudahan dalam&#13;
penyusunan buku “Modal Sosial dan Advocacy Coalition Framework&#13;
Perdamaian Sunni-Syia’ah” .&#13;
Modal Sosial merupakan elemen penting sebagai alternatif&#13;
dalam mendamaikan konflik Sunni-Syiah Sampang. Modal sosial yang&#13;
telah ada di Masyarakat Sampang dan stake holders terkait dijadikan&#13;
sebagai pondasi menjalin hubungan yang telah terputus bertahuntahun melalui Advocacy Coalition Framework.&#13;
Buku ini diharapkan dapat memberikan wawasan pada para&#13;
akademisi, praktisi, pemerhati, pengambil kebijakan, dan masyarakat&#13;
luas guna menambah khazanah pengetahuan mengenai penanganan&#13;
konflik di Indonesia, terutama konflik Sunni-Syiah yang terjadi di&#13;
Sampang. Selain itu buku ini dapat dijadikan acuan rekonsiliasi konflik&#13;
Sunni-Syiah Sampang.Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak&#13;
atas kerjasamanya mulai dari awalsampaiselesainya buku ini. Penulis&#13;
menyadari bahwa penulisan buku ini masih jauh dari sempurna&#13;
sehingga segala masukan dan kritik yang bersifat membangun dari&#13;
semua pihak sangat penulis harapkan.&#13;
Demikian, penulis sampaikan terima kasih kepada Kementerian&#13;
Pendidikan dan kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia&#13;
yang telah membiayai penelitian dan terbitnya buku ini, termasuk&#13;
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Islam&#13;
Malang yang telah banyak memfasilitasi pelaksanaan penelitian&#13;
hingga terbitnya buku ini. Mudah-mudahan buku ini bermanfaat untuk&#13;
masyarakat luas, lebih-lebih bagi yang berkepentingan. Amien
</description>
<dc:date>2022-01-30T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/7068">
<title>ENSIKLOPEDI HADRATUS SYAIKH KH. HASYIM ASY’ARI ( JILID 1-6 )</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/7068</link>
<description>ENSIKLOPEDI HADRATUS SYAIKH KH. HASYIM ASY’ARI ( JILID 1-6 )
Bakri, Maskuri; Syarkun, Mukhlas
Assalamu’alaikum War. Wab.&#13;
Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, atas segala rahmat,&#13;
taufik, dan hidayah-Nya, keselamatan dan kesejahteraan semoga&#13;
senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw., para&#13;
keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh pengikutnya yang&#13;
setia mengikuti ajaran dan petunjuknya.&#13;
Sosok Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari diakui oleh bangsa&#13;
Indonesia sebagai tokoh besar bahkan mendapat kehormatan&#13;
sebagai pahlawan nasional, dengan gelar pahlawan menunjukkan&#13;
bahwa beliau mempunyai jasa yang sangat besar terhadap bangsa&#13;
Indonesia, khususnya dalam rangka mencapai kemerdekaan dan&#13;
mempertahankan kemerdekaan.&#13;
Beliau juga mendapat gelar sebagai Maha Guru (Hadratus&#13;
Syaikh), ini menunjukkan bahwa beliau adalah sosok yang telah&#13;
berjasa membimbing dan mendidik masyarakat secara luas dan&#13;
telah berjasa melahirkan ulama’ yang sangat berwibawa dan&#13;
mempunyai pengaruh besar di tengah-tengah masyarakat.&#13;
Berbagai fatwa beliau selalu mendapat sambutan dan respon&#13;
positif seperti resolusi jihad, ini menunjukkan beliau adalah&#13;
tokoh kharismatik yang sukses mengkonsolidasi dan memobilisir&#13;
masyarakat untuk menjalankan jihad melawan NICA. Hal ini&#13;
menunjukkan Hadratus Syaikh adalah sosok yang layak diteladani&#13;
dan di kagumi. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari menghasilkan&#13;
maha karya atau legacy yaitu Nahdhatul Ulama, Pondok Pesantren&#13;
Tebuireng yang melegenda hingga sekarang dan bahkan eksistensi&#13;
Negara Republik Indonesia adalah bagian dari legacy beliau.&#13;
Oleh karena itu, tidak heran bila banyak kalangan Intelektual,&#13;
Ulama’, Tokoh Agama, Politisi, Negarawan, Santri, Jurnalis, Peneliti&#13;
dan elemen masyarakat memberikan apresiasi sikap pemikiran&#13;
dan semangat perjuangan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dengan&#13;
mengkaji pemikiran sikap dan pandangan keagamaannya, diakui&#13;
Hadratus Syaikh telah memberi sumbangan yang sangat besar&#13;
dalam membangun budaya dan peradaban bangsa Indonesia.&#13;
Selama ini berbagai buku kajian ilmiah mengenai sosok&#13;
Hadratus Syaikh memang sudah cukup banyak, namun berserakan&#13;
di berbagai buku, jurnal dan majalah, maka dari itu kami&#13;
mengapresiasi upaya penulis menghadirkan buku yang diberi judul&#13;
Ensiklopedi Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, dengan kehadiran buku&#13;
ini, setidaknya menjadi pintu awal untuk membuka, memahami,&#13;
mengkaji sosok Hadartus Syaikh Hasyim Asy’ari secara utuh,&#13;
sistematis, dan lebih mudah untuk akses.&#13;
Buku yang ditulis oleh Maskuri Bakri dan Mukhlas Syarkun,&#13;
editor Umrotul Hasanah dan Moh. Muslim ini, saya memberi&#13;
apresiasi yang setinggi-tingginya, karena karya ini merupakan&#13;
dokumentasi pemikiran sikap Hadratus Syaikh dan diperkaya&#13;
dengan berbagai analisa komparasi berbagai pandangan mengenai&#13;
sosok Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Dalam buku ini telah dibagi&#13;
menjadi enam jilid, terkait riwayat pemikiran di bidang Aswaja dan&#13;
fiqih siyasah tentang pemikiran siyasah berkaitan tentang dakwah&#13;
dan pendidikan.&#13;
Kompilasi tentang wilayah pemikiran dan perjuangan Hadratus&#13;
Syaikh yang selanjutnya diberi judul Ensiklopedi Hadratus Syaikh&#13;
Hasyim Asy’ari ini, akan menjadi titik tolak untuk memahami secara&#13;
utuh, lengkap, tematis, dan ini adalah pintu awal untuk memotivasi,&#13;
dan menginspirasikan para peneliti berikutnya dalam melakukan&#13;
kajian-kajian ilmiah lanjutan. Kahadiran buku Ensiklopedi Hadratus&#13;
Syaikh Hasyim Asy’ari akan menambah wawasan tentang ke&#13;
Islaman, ke Negaraan, dan ke Indonesiaan.&#13;
Kami atas nama keluarga Pondok Pesantren Tebuireng&#13;
mengucapkanterima kasih, yang tak terhingga atasberbagai ikhtiyar,&#13;
pengorbanan penulis dan editor baik moril maupun meteriil, dan&#13;
berbagai pihak yang telah membantu suksesnya hingga diterbitkan&#13;
buku Ensiklopedi Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari jilid 1 hingga jilid 6.&#13;
Semoga Allah SWT., membalas semua kebaikan yang telah penulis&#13;
dan editor lakukan dan keluarkan demi terwujudnya buku ini.
[ARCHIVES] Copyright from : Penerbit Edulitera &amp; Penulis
</description>
<dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
