<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/153">
<title>MT - Animal Husbandry</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/153</link>
<description>Koleksi Thesis Mahasiswa Prodi Peternakan</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12657"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12656"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12655"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12654"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-07-14T13:29:15Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12657">
<title>Profil Protein Induk Sapi Limousin Indonesia serta F1 Hasil Persilangannya dengan Pejantan Limousin dan Brahman</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12657</link>
<description>Profil Protein Induk Sapi Limousin Indonesia serta F1 Hasil Persilangannya dengan Pejantan Limousin dan Brahman
Rohman, Mohamad Agung Nur
Profil protein plasma darah merupakan indikator penting yang mencerminkan status kesehatan, imunologis, dan fisiologis sapi yang berkaitan dengan performa produksi dan reproduksi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisa total dan fraksi protein yang terekspresi dari plasma darah induk sapi Limousin Indonesia serta F1 hasil persilangannya dengan pejantan Limousin dan Brahman serta menentukan bangsa sapi yang memiliki total protein dan fraksi protein tertinggi pada F1 hasil persilangan.&#13;
Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pengambilan sampel dilaksanakan di Kecamatan Jenggawah dan Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 15 ekor terdiri dari induk sapi Limousin Indonesia (induk LI), F1 pedet hasil persilangan pejantan Limousin dengan induk Limousin Indonesia (F1 pedet LLI) dan F1 pedet hasil persilangan pejantan Brahman dengan induk Limousin Indonesia (F1 pedet BLI).  Variabel yang diamati adalah profil protein yang meliputi total protein, globulin dan albumin.  Sampel darah dianalisis di Laboratorium dengan mengunakan metode Buiret (total protein darah) dan Bromcresol Green (albumin darah), sedangkan konsentrasi glubolin darah diukur dengan cara melakukan pengurangan total protein dan albumin. Data hasil laboratorium dianalisis dengan uji t tidak berpasangan antara F1 LLI dengan F1 BLI kemudian F1 dengan bangsa induk.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rataan total protein hasil penelitian adalah 7,60 ± 0,38 g/dL (induk LI), 6,80 ± 0,54 g/dL (F1 pedet LLI), dan 6,66 ± 0,67 g/dL (F1 pedet BLI). Kadar albumin yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 4,44 ± 0,17 g/dL (induk LI), 4,42 ± 0,26 g/dL (F1 pedet LLI), dan 4,20 ± 0,29 g/dL (F1 Pedet BLI). Sedangkan kadar globulin yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 3,16 ± 0,47 g/dL (induk LI), 2,38 ± 0,38 g/dL (F1 pedet LLI), dan 2,64 ± 0,56 g/dL (F1 Pedet BLI). Hasil pengujian statistik tidak terdapat perbedaan nyata (P &gt; 0, 05) profil protein antara F1 LLI dengan F1 BLI. Hasil uji statistik antara F1 LLI atau BLI dibandingkan dengan induk LI, terdapat perbedaan yang nyata (P&lt;0,05) pada total protein dan kadar globulin, kecuali kadar albumin tidak berbeda nyata (P &gt; 0.05).  Kesimpulan penelitian ini adalah profil protein pada F1 LLI tidak berbeda dengan F1 BLI tetapi ada kecenderungan dari rataannya F1 LLI dibandingkan dengan F1 BLI lebih tinggi 2,10 % - 3,25 % pada total protein dan globulin, cenderung lebih rendah 3,25 % pada albumin.  Profil Protein (total protein dan globulin) pada F1 LLI dan BLI nyata lebih rendah 11,76 % sampai 32,77 % dan cenderung lebih rendah 0,45 % sampai 5,71 % pada albumin dibandingkan induk LI. Saran dari penelitian ini adalah perlu penelitian lanjutan tentang komparasi gen pertumbuhan pada F1 LLI dan BLI.  Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa jumlah pakan untuk pedet LLI hendaknya diberikan dengan kuantitas protein lebih tinggi minimal 2 % dibandingkan dengan BLI. F1 pedet LLI atau F1 pedet BLI diberikan pakan dengan kuantitas protein lebih tinggi 14-33 %. dibandingkan dengan Induk LI.
</description>
<dc:date>2025-06-25T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12656">
<title>Potensi Immune Herbal Probiotik terhadap Status Kekebalan dan Performa Ayam Kub 2</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12656</link>
<description>Potensi Immune Herbal Probiotik terhadap Status Kekebalan dan Performa Ayam Kub 2
Ali, Haris Seno
Penggunaan tanaman tradisional bisa ditemukan baik sebagai additive pakan ternak, maupun sebagai bagian dari obat-obatan hewan. Probiotik didefinisikan sebagai mikroba hidup yang digunakan sebagai pakan imbuhan dan dapat menguntungkan inangnya dengan meningkatkan keseimbangan mikrobial pencernaannya. Pemberian vaksinasi dan antibiotik belum sepenuhnya mampu membantu immunitas ternak karena banyak faktor manajemen pemeliharaan yang belum optimal. Berdasarkan permasalahan di atas perlu dilakukan penelitian potensi immune herbal probiotik terhadap status kekebalan dan performa Ayam KUB 2.&#13;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengevaluasi pengaruh immune herbal probiotik terhadap status kekebalan dan performa ayam KUB 2. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 4 ulangan. Sampel yang digunakan dalam penelitian yaitu ayam KUB 2 yang sudah divaksinasi berjenis kelamin jantan berumur 21 hari dan berjumlah 192 ekor dibagi ke dalam 16 kandang. Dalam setiap perlakuan tediri dari 4 ulangan dan setiap ulangan terdapat jumlah ayam KUB 2 sejumlah 12 ekor.  Perlakuan dalam penelitian ini sebagai berikut PO =air minum tanpa penambahan Immune Herbal Probiotik (IHP) sebagai kontrol, P1 = pemberian IHP 2 ml/ L pada air minum, P2 = pemberian IHP 4 ml/ L pada air minum dan P3 = pemberian IHP 6 ml/ L pada air minum. Penilitian ini dilakukan selama 5 minggu. Variabel penelitian yaitu Immunoglobulin G, Superoxida dismutase (SOD) dan Malondialdehid (MDA), Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) dan Mortalitas. Data hasil penelitian dianalisis dengan Analisis Of Variance (ANOVA). Apabila hasil analisis ragam yang menunjukkan pengaruh nyata atau sangat nyata akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian immune herbal probiotik berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap aktivitas SOD, kadar MDA dan Mortalitas. pemberian immune herbal probiotik berpengaruh nyata (P&lt;0,05) terhadap  kadar immunoglobulin G, serta tidak berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap PBBH. Nilai rata-rata aktivitas SOD (mmol/L) adalah P0 : 47.00b, P1 : 14.33a P2 : 31.72ab dan P3 : 43.94b. Rata-rata kadar MDA (mmol/L) P0 : 6.28a, P1 : 48.69b, P2 : 41.11b dan P3 : 14.51a. Rata-rata kadar Immunoglobulin G (mg/mL) P0 : 16890b, P1 : 4656,25a, P2 : 10216ab dan P3 : 14427,50b. Rata-rata PBBH (gram) adalah P0 : 0,73 gram , P1 : 0,76 gram, P2 : 0,81 gram dan P3 : 0,77 gram. Kesimpulan adalah penambahan immune herbal probiotik hingga dosis 6 ml memberikan status kekebalan yang sama pada ayam KUB 2 yang divaksin tanpa immune herbal probiotik. Kekebalan berjalan dengan optimal berdasarkan angka mortalitas 0 selama masa penelitian dari umur 21 hari sampai umur 56 hari.
</description>
<dc:date>2025-01-06T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12655">
<title>Variasi Fenotipe, Profil Morfometri dan Performa Reproduksi Sapi Madura Betina pada Berbagai Grade  di Wilayah Sumber Bibit Kabupaten Pamekasan</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12655</link>
<description>Variasi Fenotipe, Profil Morfometri dan Performa Reproduksi Sapi Madura Betina pada Berbagai Grade  di Wilayah Sumber Bibit Kabupaten Pamekasan
Musdalifah, Faigah
Sapi Madura merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli Indonesia yang berkembang baik di Pulau Madura. Tantangan dalam menjaga sapi lokal adalah menjaga angka populasi sapi Madura bibit berkualitas agar tidak terjadi seleksi negatif. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis variasi fenotipe, profil morfometri dan performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade di Wilayah Sumber Bibit Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan.&#13;
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Materi yang digunakan adalah sapi Madura betina sebanyak 120 ekor yang dikelompokkan berdasarkan grade dengan rentangan umur 30-36 bulan, dalam kondisi sehat, tidak sedang bunting dan pernah melahirkan minimal satu kali. Variabel penelitian adalah sifat kualitatif, profil morfometri, dan performa reproduksi. Data variasi fenotipe sifat kualitatif, profil morfometri, dan performa reproduksi dianalisis menggunakan uji Chi-square, sedangkan analisis Q-Q plot dengan menggunakan software SPSS.&#13;
Hasil uji Chi-square variasi fenotipe sifat kualitatif sapi Madura betina pada berbagai grade hasil penelitian dibandingkan Standar Nasional Indonesia (SNI) sifat kualitatif sapi Madura tidak berbeda nyata (P&gt;0,05). Variasi fenotipe sifat kualitatif sapi Madura betina pada grade 1, 2, dan 3 yang sesuai dengan SNI berturut-turut adalah 96,67%, 95,24%, dan 93,75% serta yang tidak sesuai dengan SNI adalah 3,33%, 4,76%, dan 6,25%. Profil morfometri pada tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada sapi Madura betina pada berbagai grade dibandingkan SNI tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada sapi Madura tidak berbeda nyata (P&gt;0,05). Rataan profil morfometri sapi Madura betina grade 1, 2, dan 3 pada tinggi pundak (134,27 ± 2,85 cm, 128,14 ± 1,39 cm, dan 125,23 ± 1,70 cm), panjang badan (136,30 ± 2,64 cm, 130,52 ± 1,93 cm, dan 126,50 ± 1,92 cm), dan lingkar dada (172,20 ± 4,04 cm, 163,26 ± 3,88 cm, dan 152,71 ± 3,20 cm). Performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade dibandingkan standar ideal  tidak berbeda nyata (P&gt;0,05). Rataan performa reproduksi sapi Madura betina grade 1, 2, dan 3 pada umur pertama berahi (17,30 ± 1,02 bulan, 17,48 ± 1,04 bulan, dan 17,96 ± 1,13 bulan), umur pertama kawin (20,17 ± 1,74 bulan, 20,52 ± 1,89 bulan, dan 20,90 ± 2,04 bulan), umur pertama beranak (30,43 ± 2,25 bulan, 30,76 ± 2,26 bulan, dan 30,98 ± 2,18 bulan), nilai S/C (1,30 ± 0,60 kali, 1,33 ± 0,61 kali, dan 1,40 ± 0,61 kali) serta nilai CR (76,67%, 73,81%, dan 66,67%). Hasil analisis Q-Q Plot didapatkan perbandingan profil morfometri dan performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade berdistribusi normal, tetapi pada profil morfometri lebih bervariasi grade 1 dibandingkan grade 2 dan 3, sedangkan pada performa reproduksi pada umur pertama berahi dan umur pertama kawin grade 2 lebih lebih bervariasi dibandingkan grade 1 dan 3, serta pada umur pertama beranak grade 3 lebih lebih bervariasi dibandingkan grade 1 dan 2.  &#13;
Kesimpulan penelitian ini adalah variasi fenotipe sifat kualitatif pada berbagai grade masih sesuai dengan SNI sapi Madura tetapi ada penyimpangan sifat kualitatif pada garis telinga di bawah 5% pada grade 1 dan 2 serta di atas 5% pada grade 3 dari sapi Madura hasil penelitian. Profil morfometri sapi Madura pada berbagai grade masih sesuai dengan SNI sapi Madura, tetapi ada kecenderungan rataan morfometri sapi Madura hasil penelitian lebih tinggi 1,72-2,50% (grade 1), 1,70-2,68% (grade 2), dan 1,81-3,69% (grade 3) dibandingkan dengan SNI sapi Madura. Performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade masih sesuai dengan standar ideal, tetapi ada kecenderungan rataan performa reproduksi sapi Madura hasil penelitian lebih baik dibandingkan dengan standar ideal yaitu pada umur pertama berahi, umur pertama kawin, dan umur pertama beranak lebih baik 3,89%, 8,33%, dan 1,83% atau lebih pendek 21 hari, 55 hari dan 17 hari (grade 1), 2,91%, 6,71%, dan 0,77% atau lebih pendek 15 hari, 44 hari dan 7 hari (grade 2), serta 0,23%, 5,02%, dan 0,07% atau lebih pendek 1 hari, 33 hari dan kurang dari sehari (grade 3). Nilai S/C dan CR lebih baik 18,75% dan 11,67% (grade 1), 16,67% dan 8,81% (grade 2), dan 12,76% dan 1,67% (grade 3) dibandingkan dengan standar ideal sapi betina. Perbandingan profil morfometri dan performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade berdasarkan analisis Q-Q Plot berdistribusi normal. Saran penelitian adalah untuk seleksi bibit sapi Madura hendaknya berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif termasuk garis hitam telinga yang merupakan ciri khas sapi Madura dan hendaknya dilakukan seleksi sapi Madura betina grade 1 lebih ketat agar terjadi seleksi positif serta perlu adanya upaya peningkatan kerjasama antara pemerintah dan peternak dalam memperketat SOP manajemen pemeliharaan sapi Madura yang baik dengan membuat peta potensi genetik sapi Madura garde 1, 2, dan 3 di masing-masing wilayah.
</description>
<dc:date>2025-06-24T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12654">
<title>Analisis Manajemen Breeding Sapi Madura Betina Grade 1 dan 2 Berbasis Kearifan Lokal di Wilayah Sumber Bibit Kabupaten Pamekasan</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12654</link>
<description>Analisis Manajemen Breeding Sapi Madura Betina Grade 1 dan 2 Berbasis Kearifan Lokal di Wilayah Sumber Bibit Kabupaten Pamekasan
Sari, Ayu Mufidah Kartika
Sapi Madura tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber pangan oleh masyarakat setempat, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat serta mencerminkan status sosial. Keberadaan sapi Madura sebagai bibit unggul tidak lepas dari peran masyarakat setempat dalam melestarikan ternak ini melalui pendekatan berbasis kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi manajemen breeding sapi Madura betina grade 1 dan 2 di wilayah sumber bibit Kecamatan Waru, dengan pendekatan berbasis kearifan lokal.&#13;
Metode yang digunakan adalah studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan 36 peternak dengan kriteria memelihara minimal 2 ekor sapi Madura betina grade 1 dan 2, ternak yang dipelihara berumur ≥24-36 bulan, dalam kondisi sehat, sudah pernah beranak, dan tidak sedang bunting. Analisis data menggunakan uji Chi-Square untuk membandingkan data hasil dengan standar ideal. Adapun variabel yang diamati meliputi manajemen breeding aspek pakan, perkandangan, dan sistem perkawinan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik manajemen breeding aspek pakan, perkandangan, dan sistem perkawinan sapi grade 1 dan 2 tidak berbeda nyata (P&gt;0,05) dengan standar ideal. Namun, jika melihat dari rataannya, manajemen breeding grade 1 cenderung lebih baik dibandingkan dengan grade 2. Jumlah rataan pemberian pakan hijauan adalah 29,89±1,65 kg/ekor/hari (grade 1) dan 25,06±1,81 kg/ekor/hari (grade 2). Rataan jumlah pemberian pakan tambahan tajin adalah 3,11 kg/ekor/hari grade 1) dan 2,06 kg/ekor/hari (grade 2). Luas kandang yang diterapkan peternak grade 1 (88,89%) dan 2 (83,33%) pada umumnya telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mayoritas peternak grade 1 (88,89%) dan 2 (72,22%) menggunakan jenis kandang panggung berbahan dasar kayu dengan atap genteng. Rataan umur berahi pertama adalah 17,11±0,83 bulan (grade 1) dan 17,17±0,86 bulan (grade 2), rataan umur kawin pertama adalah 20,67±0,77 bulan (grade 1) dan 21,17±1,20 bulan (grade 2), serta umur beranak pertama 30,06±0,87 bulan (grade 1) dan 30,50±1,15 bulan (grade 2). Sistem kawin alam masih menjadi pilihan utama bagi peternak grade 1 (68,42%) dan 2 (64,71%). Penggunaan IB lebih sedikit pada grade 1 (31,58%) dibandingkan grade 2 (35,29%). Selain itu, perlakuan khusus terutama pemijatan lebih tinggi 14,28% pada grade 1 dibandingkan dengan grade 2. Model manajemen breeding grade 1 memiliki komponen penyusun yang sama dengan grade 2, tetapi kuantitas setiap komponen berbeda antara grade 1 dan 2.&#13;
Kesimpulan penelitian adalah manajemen breeding yang dilakukan peternak grade 1 dan 2 secara umum telah sesuai standar yang ditetapkan. Pemberian pakan hijauan grade 1 (15,32%) dan 2 (18,10%) lebih sedikit dibandingkan dengan standar. Pemberian pakan tambahan tajin grade 1 (11,90%) dan 2 (32,67%) juga lebih sedikit dibandingkan dengan standar. Mayoritas peternak grade 1 dan 2 memiliki kandang sesuai ukuran ideal, dengan menggunakan jenis kandang panggung berbahan dasar kayu dan atap genteng. Capaian umur kawin pertama sapi pada penelitian lebih pendek 40 hari (grade 1) dan 25 hari (grade 2) dibandingkan umur ideal pertama kawin. Sedangkan capaian umur beranak pertama sapi pada penelitian lebih cepat 28 hari (grade 1) dan 15 hari (grade 2) dibandingkan umur ideal pertama kawin. Kawin alam sapi grade 1 lebih tinggi 7,68% dibandingkan sapi grade 2, sedangkan perbandingan kawin IB lebih rendah 19,99%. Saran dari penelitian ini adalah perlunya regulasi daerah terkait pencatatan kawin alam pemacek unggul guna mencegah inbreeding di wilayah sumber bibit, terutama grade 1 dan diikuti dengan pemetaan pemacek unggul sapi Madura berbasis IoT. Selain itu, perlu adanya dukungan penuh pemerintah terhadap kebudayaan lokal sapi dalam rangka menjaga eksistensi keberadaan bibit unggul sapi Madura.
</description>
<dc:date>2025-06-26T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
