<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/31">
<title>Dissertations</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/31</link>
<description>Koleksi Disertasi Mahasiswa Program Doktoral (S3)</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/11782"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/10833"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/10824"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/10823"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-08-03T14:38:15Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/11782">
<title>Entrepreneurial Spirit  dalam Mengembangkan  Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/11782</link>
<description>Entrepreneurial Spirit  dalam Mengembangkan  Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren Bahrul Maghfiroh Malang
Mariyono, Dwi
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam multikultural yang menyimpan potensi entrepreneurial spirit dan kesadaran multikultural. Penelitian ini membahas tentang entrepreneurial spirit dalam mengembangkan pendidikan Islam multikultural di pondok pesantren Bahrul Maghfiroh Malang, dengan fokus penelitian 1) Entrepreneurial spirit apa saja yang dijadikan modal dasar dalam mengembangkan pendidikan Islam multikultural di pondok pesantren Bahrul Maghfiroh Malang?; 2) Bagaimana bentuk pengembangan entrepreneurial spirit dalam mengembangkan pendidikan Islam multikultural di pondok pesantren Bahrul Maghfiroh Malang?; 3) Bagaimana proses pemberdayaan entrepreneurial spirit dalam mengembangkan penddidikan Islam multikultural di pondok pesanatren Bahrul Maghfiroh Malang?; 4) Bagaimana kontribusi entrepreneurial spirit dalam mengembangkan pendidikan Islam multikultural di pondok pesantren Bahrul Maghfiroh Malang?. &#13;
Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi etnografi kasus untuk mengungkap makna dibalik fakta dengan menyelidiki semangat kewirausahaan sebagai element dasar dalam mengembangkan pendidikan Islam multikultural. Studi ini juga menyoroti peran penting nilai-nilai kewirausahaan dan standar etika dalam membentuk landscape pendidikan pesantren yang inklusif. Metode pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Pengambilan data dilakukan dengan tehnik snowball sampling dari sumber data primer dan sekunder. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model Miles, Hubberman &amp; Saldana 2014. &#13;
Hasil penelitian lapangan diperoleh temuan: 1) Entrepreneurial spirit yang dijadikan modal dasar dalam mengembangkan pendidikan Islam multikultural di pondok pesantren Bahrul Maghfiroh Malang adalah modal tidak berwujud (intangible capital) dan modal berwujud (tangible capital). Kedua modal menempati posisi penting dengan peran masing-masing. Intangible capital terdiri dari modal sosial (social capital), modal manusia (human capital), modal mental (Mental capital), modal motivasi (motivasional capital) dan modal pelanggan (customer capital) serta modal spiritual (spiritual capital). Tangible capital diposisikan sebagai wahana pengembangan internalisasi nilai Islam multikultural dan entrepreneurial spirit; 2) Bentuk pengembangan spirit entrepreneurial dalam mengembangkan pendidikan Islam multikultural di pondok pesantren Bahrul Maghfiroh Malang menerapkan teori APK (Analisis Pengembangan Kelembagaan) Ostrom 2007 dalam bagian penguatan modal dilakukan dengan: menciptakan kelembangaan yang inklusif dengan pemanfaata situasi ekternal sebagai opsi penguat inovasi dan kreasi, menguatkan ukhuwah, penguatan visi dan misi, integrasi kurikulum pesantren dengan kurikulum nasional, kegiatan pembelajaran di pendidikan formal, penerapan direct instruction model, masa orientasi, kegiatan kepesantrenan amaliah dan ubudiyah, kepesantrenan tarbiyah wa ta’lim, kegiatan kepedulian sosial, kegiatan praktek kewirausahaan, pendirian unit-unit usaha, memperluas kemitraan, pemberdayaan sivitas pesantren dan masyarakat, workshop serta pelatihan santri dan pegawai, penguatan manajemen dan pengawasan; 3) Proses pemberdayaan entrepreneurial spirit sebagai spirit dalam mengembangkan pendidikan Islam multikultural di pondok pesantren Bahrul Maghfiroh Malang menerapkan model Nixon 1994 melalui: Penyelarasan visi, misi pesantren, pembuatan slogan dan simbol, membangun role model kepemimpinan, pembudayaan tradisi entrepneurial, pendidikan praktik kewirausahaan, model boarding school double track, system ngabdi, membangun kewiraushaan sosial serta pemberdayaan svitas dan masyarakat sebagai umpan balik ikatan kerjasama; penerapan project base learnig; 4) Entrepreneurial Spirit berkontribusi nyata dalam menciptakan kemandirian santri dan lembaga. Entrepreneurial Spirit merupakan nilai utama pendidikan Islam multikultural atau dengan kata lain bahwa nilai utama pendidikan Islam multikultural sebenarnya adalah entrepreneurial spirit itu sendiri. &#13;
Penelitian ini memberikan implikasi teoritis: 1) Modal dasar tersebut menguatkan teori Suryana dan Fukuyama serta merekonstruksinya intangible capital dalam konteks pendidikan Islam multicultural yang diperlukan adalah modal sosial, modal manusia, modal mental, modal motivasi, modal pelanggan, dan modal spiritual, sementara Suryana menempatkan modal spiritual masuk pada ranah modal mental atau moral; 2) Menguatkan Teori Tholchah Hasan tentang opsi dalam menanggulangi radikalisme yaitu ta’aruf, tawasuth, tawazun, tasamuh dan ta’awun menjadi empat sifat dan lima sikap atau peneliti menyebutnya dengan spirit 45 (empat sifat Nabi Muhammad SAW, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, fathonah) dan lima sifat karakter aswaja, yaitu: ta’aruf, tawasuth, tawazun, tasamuh dan ta’awun); 3) Merekonstruksi teori K.H. Achmad Shiddiq tentang karakter aswaja dengan menambah sifat yang empat menjadi spirit 45 sebagaimana tersebut di atas; 4) Menguatkan teori Ciputra dan merekonstruksinya pada ranah heigh ethical stadart dengan four traits five attitudes; 5) Menguatkan teori Veithzal Rivai tentang Islamic Business and Economic Ethics dengan FAST karakter dan merekontruksinya menjadi spirit 45 (four traits five attitudes); 6) Menguatkan dan merekonstruksi teori Ostrom 2007 tentang IAD (Institutional Analysis and Development) bahwa proses interaksi harus menghasilkan umpan balik pembentukan patner berkelanjutan yang saling menguntungkan (win-win solution) sebelum kembali menjadi aktor. Proses interaksi juga memberikan umpan balik pada kriteria evaluasi berimplikasi pada faktor eksternal secara langsung untuk membentuk budaya; 7) Menguatkan dan merekonstruksi proses pemberdayaan Nixon 1994, bahwa penetapan skala priotitas harus memperhatikan kriteria input, proses, output dan outcome untuk menguatkan input yang harus diikat sebagai patner kerja dalam system kerja sama berkelanjutan.&#13;
&#13;
Kata kunci: Entrepreneurial Spirit, Pendidikan Islam, Multikultural Spirit, Modal tidak berwujud
</description>
<dc:date>2024-01-10T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/10833">
<title>Spirit Pendidikan Islam Multikultural sebagai Resolusi Konflik Agama di Desa Pancasila Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/10833</link>
<description>Spirit Pendidikan Islam Multikultural sebagai Resolusi Konflik Agama di Desa Pancasila Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu
Alfafan, Imam
Konflik agama di Desa Pancasila tahun 2014, dipicu oleh rencana pembangunan Pura di dekat sumber mata air vital bagi umat Islam, memanas akibat propaganda dan aksi kekerasan, namun berhasil diredam melalui peran aktif tokoh agama Islam dalam mendamaikan situasi dan memulihkan harmoni sosial.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan memberikan interpretasi tentang pendidikan Islam multikultural dijadikan sebagai dasar resolusi konflik agama, langkah-langkah, dan implikasi dalam penyelesaian konflik agama di desa Pancasila.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Peneliti terjun langsung ke lapangan, melibatkan tokoh agama Islam sebagai subyek utama serta pemerintah daerah, Forum Kerukunan Umat Beragama, PCNU, dan akademisi sebagai subyek pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dokumentasi, dan FGD. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan induktif melalui empat alur kegiatan: pengumpulan, kondensasi, penyajian, dan verifikasi data.&#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan (1) pendidikan Islam multikultural dijadikan dasar resolusi konflik agama di desa Pancasila karena mampu mendorong perdamaian, memperkuat harmoni, meningkatkan toleransi, dan menegakkan keadilan sosial untuk masyarakat yang rukun. (2) Tokoh agama Islam menyelesaikan konflik agama dengan kepekaan, komitmen, respons cepat, seruan kontrol emosi, kesadaran sosial-ekonomi, pendekatan inklusif, pencarian titik temu, pengaruh karismatik, tindakan preventif, dan koordinasi aktif dengan pemerintah dan aparat. (3) Spirit pendidikan Islam multikultural berhasil mewujudkan perdamaian, persatuan, partisipasi sosial, dan pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan di desa Pancasila.&#13;
Kata Kunci : Spirit, Pendidikan Islam Multikultural, Resolusi Konflik
</description>
<dc:date>2024-12-03T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/10824">
<title>Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Membentuk Karakter Toleran  melalui Kurikulum Merdeka  di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Buduran Sidoarjo</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/10824</link>
<description>Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam Multikultural dalam Membentuk Karakter Toleran  melalui Kurikulum Merdeka  di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Buduran Sidoarjo
Musthofa, Indhra
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Buduran Sidoarjo. Berlokasi di tengah kepadatan penduduk Sidoarjo yang memiliki komposisi siswa yang beragam dengan latar belakang sosial, budaya, gender, dan agama. SMP Negeri 2 Buduran dengan iklim pembelajaran Kurikulum Merdeka, Program Sekolah Penggerak, Sekolah Toleransi, Sekolah Inklusif, dan program lainnya serta perlibatan berbagai pihak (sekolah, orang tua, dan masyarakat) dalam rangka membentuk ekosistem positif untuk memperkuat karakter toleransi bagi siswa dan warga sekolah.&#13;
Fokus penelitian ini adalah untuk menganalisis secara mendalam nilai-nilai pendidikan Islam multikultural, proses internalisasi nilai-nilai, dan model internalisasi nilai dalam membentuk karakter toleran melalui kurikulum merdeka di sekolah. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memahami peran kepala sekolah, guru, staf sekolah, orang tua, dan komunitas sekolah dalam menguatkan karakter toleran.&#13;
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain etografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara, dan analisis dokumen. Observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan di sekolah. Wawancara dilakukan dengan berbagai pihak terkait, termasuk kepala sekolah, guru, siswa, dan staf sekolah. Analisis dokumen meliputi kajian terhadap program dan kebijakan sekolah yang mendukung internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam multikultural.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan Islam Multikultural yang muncul di antaranya: 1) Perdamaian dan Menghindari Konflik, 2) Permusyawaratan, 3) Saling Menghormati, 4) Terbuka dan Menghargai Perbedaan, 5) Tolong Menolong, 6) Ramah, 7) Peduli, 8) Cinta Budaya, dan 9) Tanggung Jawab. Proses internalisasi terjadi melalui proses distribusi, dialog, aktualisasi, dan pengimbasan nilai. Sedangkan model internalisasi nilai-nilai pendidikian Islam multikultural di sekolah terjadi melalui model keteladanan, pengkondisian, pembiasaan, komunikasi personal, dan kolaborasi partisipasi. Kebaharuan yang ditemukan dalam penelitian ini menjadi sebuah rekonstruksi teori dan implementasi. Implikasi teoretis menunjukkan penguatan teori nilai-nilai pendidikan Islam multikultural melalui empat nilai baru yakni: ramah, peduli, cinta budaya, dan tanggung jawab sebagai penguat teori nilai sudah yang ada. Proses internalisasi yang ditemukan tidak hanya terjadi secara hierarki tunggal namun terjadi secara simultan repetisi untuk memperkuat karakter toleran. Model internalisai yang ditemukan direkonstruksi reformulasi menjadi lebih operasional yang melibatkan tri pusat pendidikan melalui kurikulum merdeka. Keteladanan, pengkondisian lingkungan, komunikasi dan partisipasi aktif seluruh pihak memperkuat proses internalisasi nilai-nilai toleransi. Implikasi praktis menunjukkan bahwa pendekatan yang holistik dan integratif dalam internalisasi nilai-nilai dapat diterapkan di sekolah lain untuk membentuk karakter toleran.&#13;
Kata Kunci: Internalisasi, nilai, pendidikan Islam multikultural, toleransi
</description>
<dc:date>2024-08-05T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/10823">
<title>Modal Sosial berbasis Pendidikan Islam Multikultural  guna Menciptakan Hidup Damai Masyarakat  Sukorejo Kotaanyar Probolinggo</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/10823</link>
<description>Modal Sosial berbasis Pendidikan Islam Multikultural  guna Menciptakan Hidup Damai Masyarakat  Sukorejo Kotaanyar Probolinggo
Imami, Agus Sulthoni
Penelitian ini akan membahas tentang modal sosial berbasis Pendidikan Islam Multikultural pada Masyarakat, yaitu dinamika pada kelompok dalam masyarakat, khususnya kelompok Peserta PKH, pelaksanaan kegiatan keagamaan, dan kegiatan kemasyarakatan. Penelitian ini dilakukan karena adanya ketimpangan sosial masyarakat dalam ranah pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, selain juga karena adanya ketidakseimbangan akses dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Melalui kelompok dalam masyarakat ini, terbangun suatu ikatan yang erat dan kuat, sehingga menjadi modal sosial dan mampu menciptakan hidup damai masyarakat. &#13;
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, menganalisis, dan memberikan interpretasi tentang: 1) bentuk modal sosial berbasis Pendidikan Islam Multikultural guna menciptakan hidup damai masyarakat, 2) penerapan modal sosial berbasis Pendidikan Islam Multikultural guna menciptakan hidup damai masyarakat, dan 3) model modal sosial berbasis Pendidikan Islam Multikultural guna menciptakan hidup damai masyarakat Sukorejo Kotaanyar Probolinggo.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Peneliti sebagai instrumen utama terjun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data secara rinci untuk memahami konteks yang lebih luas. Data temuan lapangan dibahas secara deskriptif naturalistik sesuai fokus penelitian dengan teknik triangulasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, FGD, dan dokumentasi. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa data model Spardley yang meliputi: analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis kultur budaya.&#13;
Hasil penelitian menunjukan bahwa pendidikan Islam multikultural diberikan dengan metode keteladanan, dialog, kisah, serta nasihat yang diberikan pada kegiatan kelompok maupun dinamika interaksi antar anggota kelompok. Analisa hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Bentuk modal sosial berbasis Pendidikan Islam multikultural diimplementasikan pada sikap individu, yaitu sikap saling terbuka, saling percaya, saling berbagi, bekerjasama, kesetaraan, toleransi, demokrasi (musyawarah), dan sikap tenggangrasa. 2) Penerapan modal sosial berbasis pendidikan Islam multikultural diaplikasikan pada kelompok dalam masyarakat; yaitu a) Kelompok Peserta PKH, kelompok keagamaan, dan kelompok pemberdayaan, b)  Aksi kelompok yaitu pertemuan kelompok, kegiatan sosial-keagamaan, pelatihan keluarga, P2K2, dan sosialisasi. Dan c) terciptanya norma kelompok, seperti tugas dan wewenang anggota, pastisipasi aktif anggota, komitmen bersama, pembagian peran, solidaritas, dan advokasi antar anggota kelompok. 3) Model modal sosial berbasis pendidikan Islam multikultural dapat dijadikan landasan kegiatan kelompok, dan sebagai media peningkatan kesejahteraan dan terpenuhinya kebutuhan dasar keluarga, yaitu kesehatan, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Melalui kualitas dan terpenuhinya kebutuhan keluarga ini nantinya akan menciptakan kehidupan damai  masyarakat.&#13;
Kata Kunci : Modal Sosial, Pendidikan Islam Multikultural, Hidup Damai Masyarakat
</description>
<dc:date>2023-06-02T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
