<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/7">
<title>Dissertations and Theses</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/7</link>
<description>Koleksi Tugas Akhir Mahasiswa Program Sarjana (S1), Pascasarjana (S2), dan Program Doktoral (S3)</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14202"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14201"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14200"/>
<rdf:li rdf:resource="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14199"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-09-15T22:03:22Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14202">
<title>Analisis Probabilitas Diversifikasi Konsumsi Pangan Karbohidrat Rumah Tangga Di Indonesia</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14202</link>
<description>Analisis Probabilitas Diversifikasi Konsumsi Pangan Karbohidrat Rumah Tangga Di Indonesia
RAMADHINI, FATHIA ALIN
ketahanan pangan merupakan isu strategis nasional yang tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga pemanfaatan dan pola konsumsi pangan masyarakat. Di Indonesia, pola konsumsi pangan rumah tangga masih sangat didominasi oleh beras sebagai sumber karbohidrat utama. Ketergantungan yang tinggi terhadap beras berpotensi menimbulkan kerawanan pangan, terutama ketika produksi domestik tidak mampu mengimbangi kebutuhan konsumsi. Padahal Indonesia memiliki potensi sumber karbohidrat lain seperti jagung, umbi-umbian, gandum, dan sagu yang tersebar di berbagai wilayah. Diversifikasi konsumsi pangan menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan kualitas gizi masyarakat. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya masih mengukur diversifikasi pangan secara deskriptif atau menggunakan indeks kategorikal, serta belum menganalisis probabilitas rumah tangga dalam mencapai tingkat diversifikasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga di Indonesia menggunakan Food Diversification Index (FDI) serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi probabilitas rumah tangga melakukan diversifikasi konsumsi pangan dengan pendekatan model regresi Tobit berbasis data nasional.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2024. Jumlah observasi yang digunakan dalam analisis adalah 246.256 rumah tangga yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mencakup daerah perkotaan dan perdesaan. Tingkat diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga diukur menggunakan Food Diversification Index (FDI) yang diadaptasi dari Berry Index, dengan rentang nilai 0–1. FDI dihitung berdasarkan proporsi pengeluaran rumah tangga pada kelompok pangan sumber karbohidrat, meliputi beras, jagung, umbi-umbian, gandum, sagu, dan produk olahan berbasis karbohidrat. Nilai FDI kemudian diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu FDI rendah (&lt;0,30), sedang (0,30–0,60), dan tinggi (&gt;0,60). Untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi diversifikasi konsumsi pangan, digunakan model regresi Tobit karena variabel dependen (FDI) bersifat tersensor. Variabel independen yang digunakan meliputi proporsi konsumsi beras (X1), pengeluaran pangan total per bulan (X2), jumlah anggota keluarga (X3), dan wilayah tempat tinggal (X4: desa/kota). Estimasi dilakukan dengan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) menggunakan perangkat lunak Stata.&#13;
Hasil perhitungan Food Diversification Index menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga di Indonesia masih berada pada tingkat diversifikasi konsumsi pangan yang rendah. Dari total 246.256 rumah tangga, sebanyak 127.041 rumah tangga (51,59%) termasuk dalam kategori FDI rendah, 107.900 rumah tangga (43,82%) berada pada kategori FDI sedang, dan hanya sebagian kecil yang mencapai kategori FDI tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi pangan rumah tangga masih sangat terpusat pada satu jenis pangan utama, khususnya beras. Hasil estimasi model Tobit menunjukkan bahwa secara simultan variabel proporsi konsumsi beras, pengeluaran pangan total, jumlah anggota keluarga, dan wilayah berpengaruh signifikan terhadap tingkat diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga. Secara parsial, proporsi konsumsi beras berpengaruh negatif terhadap FDI, yang berarti semakin besar ketergantungan rumah tangga terhadap beras maka semakin rendah tingkat diversifikasi konsumsi pangannya. Sebaliknya, pengeluaran pangan total berpengaruh positif terhadap FDI, menunjukkan bahwa peningkatan daya beli rumah tangga mendorong konsumsi pangan yang lebih beragam. Variabel jumlah anggota keluarga menunjukkan pengaruh negatif terhadap diversifikasi konsumsi pangan, yang mengindikasikan bahwa semakin besar ukuran rumah tangga, semakin sulit bagi rumah tangga untuk mendiversifikasi konsumsi pangannya. Sementara itu, wilayah tempat tinggal berpengaruh positif, di mana rumah tangga yang tinggal di perkotaan cenderung memiliki tingkat diversifikasi konsumsi pangan yang lebih tinggi dibandingkan rumah tangga di perdesaan. Hasil ini sejalan dengan teori Engel dan Bennett serta penelitian-penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa peningkatan kesejahteraan dan akses pasar berperan penting dalam mendorong diversifikasi konsumsi pangan.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tingkat diversifikasi konsumsi pangan rumah tangga di Indonesia masih tergolong rendah, dengan lebih dari separuh rumah tangga berada pada kategori FDI rendah. Faktor-faktor yang memengaruhi probabilitas rumah tangga dalam melakukan diversifikasi konsumsi pangan meliputi proporsi konsumsi beras, pengeluaran pangan total, jumlah anggota keluarga, dan wilayah tempat tinggal. Ketergantungan yang tinggi terhadap beras menjadi penghambat utama diversifikasi konsumsi pangan, sementara peningkatan pengeluaran pangan dan akses wilayah perkotaan mendorong pola konsumsi yang lebih beragam.&#13;
Pemerintah perlu memperkuat kebijakan diversifikasi pangan dengan mendorong konsumsi sumber karbohidrat lokal non-beras melalui edukasi gizi, inovasi produk pangan lokal, dan peningkatan akses pasar, khususnya di wilayah perdesaan. Selain itu, peningkatan daya beli rumah tangga melalui kebijakan ekonomi dan perlindungan sosial juga penting untuk mendorong diversifikasi konsumsi pangan. Bagi penelitian selanjutnya, disarankan untuk memasukkan variabel sosial budaya dan preferensi konsumsi serta menggunakan pendekatan longitudinal agar dinamika diversifikasi konsumsi pangan dapat dianalisis secara lebih mendalam.
</description>
<dc:date>2026-03-10T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14201">
<title>Analisis Agroindustri Jamu Tradisional  (Studi Kasus Pada Sinom “Mbak Rakes” Di Desa Wandanpuro Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang)</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14201</link>
<description>Analisis Agroindustri Jamu Tradisional  (Studi Kasus Pada Sinom “Mbak Rakes” Di Desa Wandanpuro Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang)
NUR KARTIKA, SILVY PUTRI
Sektor pertanian berperan penting dalam perekonomian Indonesia dan berkontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto nasional, sehingga mendorong pengembangan agroindustri sebagai upaya peningkatan nilai tambah hasil pertanian. Salah satu agroindustri yang berkembang adalah jamu tradisional, yang memanfaatkan kekayaan tanaman obat Indonesia dan memiliki peluang besar seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Agroindustri jamu tradisional Sinom “Mbak Rakes” di Desa Wandanpuro, Kabupaten Malang, merupakan usaha skala rumah tangga yang berpotensi dikembangkan, namun belum dianalisis secara mendalam terkait nilai tambah, kelayakan usaha, dan saluran pemasaran. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Menganalisis besarnya nilai tambah yang diperoleh Sinom “Mbak Rakes”. 2) Menganalisis Kelayakan Usaha. 3) Mengetahui saluran pemasaran yang digunakan. &#13;
	Penelitian ini dilaksanakan di Agroindustri “Mbak Rakes” Di Desa Wandanpuro Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang, pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) karena agroindustri ini merupakan usaha rumah tangga yang sudah memiliki izin usaha sertifikasi Halal MUI dan BPOM, dan berperan dalam pemanfaatan sumber daya lokal bernilai ekonomi. Responden pada penelitian ini yaitu pemilik agroindustri yang berperan sebagai key informant. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dan analisis kuantitatif. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis nilai tambah dengan metode Hayami (1987), analisis biaya, analisis penerimaan dan keuntungan serta analisis kelayakan usaha mengunakan R/C Ratio. &#13;
Analisis nilai tambah dengan metode Hayami menunjukkan bahwa bahan baku yang digunakan dalam satu kali proses produksi jamu sinom adalah 3 kg daun sinom dan menghasilkan 25 dus jamu sinom berisi 24 cup berukuran 120 ml. Faktor konversi tersebut menunjukkan bahwa setiap 1 kg pengolahan daun sinom akan menghasilkan 8,33 dus jamu sinom berisi 200 cup ukuran 120 ml. Nilai produk yang dihasilkan pada pembuatan jamu sinom adalah Rp. 250.000,-. Nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan 1 kg daun sinom menjadi jamu sinom adalah sebesar Rp. 101.466,40/kg, sedangkan rasio nilai tambah yang diperoleh adalah sebesar 40,6% yang menunjukkan bahwa nilai rasio tersebut lebih dari 40% dan merupakan kategori tinggi.&#13;
Berdasarkan hasil analisis biaya, total biaya yang dikeluarkan pada proses produksi pengolahan jamu Sinom “Mbak Rakes” sebesar Rp. 585.010,35,- dalam satu kali produksi. Total penerimaan yang didapatkan sebesar Rp. 750.000,- sehingga keuntungan yang diterima pada proses pengolahan jamu Sinom “Mbak Rakes” sebesar Rp. 164.989,65,- dalam satu kali proses produksi. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha, diperoleh hasil R/C Ratio sebesar 1,28 dimana R/C Ratio &gt; 1 sehingga usaha pegolahan jamu Sinom “Mbak Rakes” menguntungkan dan layak untuk terus dijalankan.  &#13;
Pemasaran produk jamu Sinom “Mbak Rakes” pada saat ini dilakukan melalui lebih dari satu saluran pemasaran. Terdapat 2 saluran pemasaran pada produk jamu Sinom “Mbak Rakes” antara lain : 1) Saluran pemasaran I : Produsen  Konsumen. 2) Saluran pemasaran II : Produsen  Pengecer  Konsumen. Saluran pemasaran I merupakan saluran tingkat nol karena produsen menjual produk secara langsung kepada konsumen. Saluran pemasaran II merupakan saluran tingkat satu yang melibatkan pengecer sebagai perantara. Pengecer membeli produk dalam jumlah besar dan menjualnya kembali secara eceran kepada konsumen lokal, dengan pengecer yang terlibat antara lain Warung Bakso Mak Tres, Warung Soto Dok Lamongan, dan Warung Bakso Morojoyo.&#13;
Pengembangan agroindustri Jamu Sinom “Mbak Rakes” masih menghadapi kendala pada aspek bahan baku, produksi, dan pemasaran. Pada bahan baku, pasokan belum konsisten meskipun kualitas sesuai standar, sehingga pemilik usaha mengantisipasi dengan mengambil bahan baku dari beberapa pasar di Kota dan Kabupaten Malang. Pada proses produksi, kendala terjadi pada tahap pengemasan akibat keterbatasan keterampilan tenaga kerja dalam mengoperasikan sealer dan lid cup, yang berdampak pada kerapian kemasan. Sementara itu, pada aspek pemasaran, produk masih dipasarkan secara lokal karena keterbatasan pengetahuan pemasaran dan tingginya biaya pengiriman, sehingga pemilik usaha memilih bekerja sama dengan pengecer untuk menjangkau konsumen. Saran dari penelitian ini adalah : 1) Untuk agroindustri disarankan mempertahankan dan mengoptimalkan efisiensi pengolahan bahan baku daun sinom karena terbukti menghasilkan nilai tambah yang tinggi, sehingga nilai tambah per kilogram bahan baku tetap terjaga meskipun terjadi perubahan harga input. 2) Untuk agroindustri disarankan mempertahankan efisiensi biaya produksi karena nilai R/C Ratio sebesar 1,28 menunjukkan usaha jamu sinom telah menguntungkan dan layak dijalankan, serta mempertimbangkan peningkatan produksi secara bertahap dengan tetap mengendalikan biaya agar kelayakan usaha tetap terjaga. 3) Agroindustri disarankan memperluas jaringan pemasaran hingga ke ritel modern guna meningkatkan jangkauan dan daya saing produk. Dukungan pemerintah melalui pelatihan manajemen dan pemanfaatan teknologi promosi juga diperlukan untuk meningkatkan profesionalisme dan akses pasar. 4) Penelitian ini terbatas pada identifikasi saluran pemasaran tanpa menganalisis tingkat efisiensinya. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan melakukan analisis efisiensi pemasaran untuk menentukan saluran yang paling menguntungkan dan berkelanjutan.
</description>
<dc:date>2026-03-03T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14200">
<title>Analisis Permintaan Kentang Rumah Tangga Di Indonesia</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14200</link>
<description>Analisis Permintaan Kentang Rumah Tangga Di Indonesia
MAULANA, AHMAD ZAINUDDIN
Kentang merupakan salah satu Komoditas Hortikultura yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif selain beras. Namun demikian, tingkat konsumsi kentang rumah tangga di Indonesia masih relatif rendah dan mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Permintaan kentang tidak hanya dipengaruhi oleh harga kentang itu sendiri, tetapi juga oleh harga komoditas pangan lain serta karakteristik ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, diperlukan kajian empiris untuk memahami perkembangan permintaan kentang rumah tangga serta faktor-faktor yang memengaruhinya.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan permintaan kentang rumah tangga di Indonesia serta menganalisis pengaruh harga kentang, harga komoditas pangan substitusi dan komplementer, pengeluaran rumah tangga, dan jumlah anggota rumah tangga terhadap permintaan kentang rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan yang diambil pada periode tertentu dengan menggunakan metode time series dan cross-section,&#13;
Pada metode time series mengunkan data permintaan kentang yang dikonsumsi per-kapita tiap tahunya, selama 10 tahun terakhir Data konsumsi kentang per kapita rumah tangga tahun 2020–2024 menunjukkan fluktuasi dengan tren menurun di akhir periode. Konsumsi meningkat dari 2,547 kg (2020) hingga mencapai puncak 3,167 kg (2022), kemudian menurun menjadi 2,867 kg (2023) dan 2,521 kg (2024).&#13;
Pada metode cross-section dengan jumlah data sebesar 341.802 rumah tanggayang di kerucutkan menjadi 1220 rumah tangga. Data tersebut bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2024 serta data pendukung dari Badan Pusat Statistik periode 2020-2024. Metode analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda dengan model log-log. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah konsumsi kentang rumah tangga, sedangkan variabel independen meliputi harga kentang, harga beras, harga tepung terigu, harga ketela pohon, harga daging ayam, harga daging sapi, pengeluaran rumah tangga, dan jumlah anggota rumah tangga.	&#13;
Hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa model regresi memenuhi kriteria kelayakan analisis. Data terdistribusi normal, tidak ditemukan gejala multikolinearitas dengan nilai Variance Inflation Factor (VIF) seluruh variabel di bawah 10, serta tidak terdapat indikasi heteroskedastisitas. Dengan demikian, model regresi layak digunakan untuk analisis lebih lanjut. Hasil uji F menunjukkan bahwa seluruh variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap permintaan kentang rumah tangga.&#13;
Pada uji t parsial dipengaruhi oleh beberapa variabel ekonomi dan karakteristik rumah tangga. Variabel harga kentang terbukti berpengaruh negatif dan signifikan terhadap permintaan, dengan koefisien sebesar –0,5095 dan tingkat signifikansi 0,000, yang mengindikasikan bahwa setiap kenaikan harga kentang sebesar 1 persen cenderung menurunkan jumlah kentang yang diminta sekitar 0,51 persen. Selain itu, harga beras memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kentang, koefisien harga beras sebesar 0,2344 dan nilai signifikansi 0,003. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan harga beras sebesar 1 persen diperkirakan akan mendorong kenaikan permintaan kentang sekitar 0,23 persen. Variabel harga tepung terigu juga menunjukkan pengaruh yang signifikan namun berarah negatif, dengan koefisien sebesar –0,2122 dan tingkat signifikansi 0,000, yang menandakan adanya hubungan substitusi terhadap konsumsi kentang. Selanjutnya, harga daging sapi berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kentang dengan koefisien sebesar 0,1272 dan nilai signifikansi 0,004. Di sisi lain, variabel pengeluaran rumah tangga dan jumlah anggota rumah tangga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap permintaan kentang, masing-masing ditunjukkan oleh koefisien sebesar 0,3130 dan 0,1583 dengan tingkat signifikansi 0,000. Sementara itu, variabel harga ketela pohon dan harga daging ayam tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap permintaan kentang rumah tangga, yang tercermin dari nilai signifikansi masing-masing sebesar 0,314 dan 0,339.
</description>
<dc:date>2026-04-16T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14199">
<title>Analisis Permintaan Jagung Konsumsi Rumah Tangga Sebagai Sumber Karbohidrat Di Indonesia</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14199</link>
<description>Analisis Permintaan Jagung Konsumsi Rumah Tangga Sebagai Sumber Karbohidrat Di Indonesia
ATTARULLAH BRIYANTO, ARIEL AHMAD
Jagung merupakan salah satu komoditas strategis di Indonesia yang memiliki peran penting tidak hanya sebagai bahan pangan sumber karbohidrat, tetapi juga sebagai bahan baku utama dalam berbagai kegiatan industri, khususnya industri pakan ternak. Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat yang ditandai dengan menurunnya konsumsi pangan berbasis jagung di tingkat rumah tangga dan meningkatnya kebutuhan jagung untuk sektor industri. Perubahan ini menunjukkan adanya dinamika permintaan jagung yang perlu dianalisis secara komprehensif agar dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pangan dan pertanian yang berkelanjutan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui perkembangan permintaan jagung di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, (2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan jagung rumah tangga di Indonesia, dan (3) mengestimasi elastisitas harga, pendapatan, dan substitusi permintaan jagung rumah tangga di Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari data permintaan jagung nasional tahun 2001-2023 dalam satuan ton untuk analisis deskriptif, serta data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2024 untuk analisis permintaan rumah tangga.&#13;
Model penelitian dalam studi ini disusun untuk menjawab tiga tujuan penelitian dengan pendekatan analisis yang berbeda namun saling terkait. Tujuan pertama, yaitu mengetahui perkembangan permintaan jagung di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif. Analisis ini dilakukan dengan mengamati data permintaan jagung nasional dalam satuan ton, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri, guna mengidentifikasi pola, tren, dan pergeseran struktur permintaan jagung dari waktu ke waktu. Tujuan kedua, yaitu menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan jagung rumah tangga, dianalisis menggunakan model regresi logaritmik berganda (log-log) dengan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2024. Tujuan ketiga, yaitu mengestimasi elastisitas permintaan jagung, dilakukan melalui perhitungan elastisitas. Dengan demikian, kombinasi analisis deskriptif dan analisis ekonometrika dalam penelitian ini memberikan gambaran yang komprehensif mengenai dinamika, determinan, dan sensitivitas permintaan jagung di Indonesia. &#13;
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa permintaan jagung di Indonesia mengalami pergeseran struktur yang jelas. Konsumsi jagung rumah tangga cenderung menurun dalam jangka panjang, yang mengindikasikan berkurangnya peran jagung sebagai sumber karbohidrat utama. Temuan ini menegaskan terjadinya transformasi permintaan jagung dari pangan rumah tangga menuju bahan baku industri.&#13;
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa permintaan jagung rumah tangga dipengaruhi secara signifikan oleh harga jagung, harga beras, harga singkong, harga ketela rambat, harga kentang, harga mi instan, pengeluaran rumah tangga, dan jumlah anggota rumah tangga. Sementara itu, harga talas tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan jagung. Temuan ini mengindikasikan bahwa perubahan harga komoditas karbohidrat lain dan kondisi ekonomi rumah tangga memiliki peran penting dalam menentukan tingkat konsumsi jagung rumah tangga.&#13;
Estimasi elastisitas menunjukkan bahwa permintaan jagung rumah tangga di Indonesia bersifat tidak elastis terhadap perubahan harga, pendapatan, maupun harga komoditas karbohidrat lainnya. Elastisitas harga sendiri yang inelastis menunjukkan bahwa konsumsi jagung relatif stabil meskipun terjadi perubahan harga. Elastisitas silang mengindikasikan hubungan substitusi antara jagung dengan beras dan singkong, sedangkan hubungan komplementer terjadi antara jagung dengan ketela rambat, talas, kentang, dan mi instan. Elastisitas pendapatan yang bernilai negatif namun kecil menunjukkan bahwa jagung merupakan barang inferior lemah, di mana peningkatan pendapatan cenderung menurunkan konsumsi jagung, tetapi dalam besaran yang relatif kecil.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa permintaan jagung di Indonesia telah mengalami perubahan struktural, dengan sektor industri sebagai penggerak utama pertumbuhan permintaan. Permintaan jagung rumah tangga dipengaruhi oleh faktor harga dan karakteristik ekonomi rumah tangga, serta memiliki sifat inelastis dan inferior lemah. Oleh karena itu, kebijakan perjagungan di Indonesia perlu diarahkan tidak hanya pada stabilisasi harga, tetapi juga pada penguatan pasokan untuk sektor industri serta pengembangan diversifikasi produk olahan jagung agar tetap relevan sebagai sumber pangan alternatif. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan data kuantitas konsumsi atau pendekatan model permintaan yang lebih lanjut guna memperoleh gambaran elastisitas permintaan jagung yang lebih mendalam.
</description>
<dc:date>2026-02-09T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
