<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Faculty of Agriculture</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/39</link>
<description>Koleksi Skripsi Mahasiswa Fakultas Pertanian</description>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2026 00:58:30 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-24T00:58:30Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaturan Konsentrasi Gula Dan Teh Terhadap Pertumbuhan, Kualitas, Dan Hasil Teh Kombucha Pada Fermentasi Scoby (Jamur Dipo)</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14129</link>
<description>Pengaturan Konsentrasi Gula Dan Teh Terhadap Pertumbuhan, Kualitas, Dan Hasil Teh Kombucha Pada Fermentasi Scoby (Jamur Dipo)
SIFAURROHMA, ALFANI DYAH
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara konsentrasi gula dan konsentrasi teh dalam menentukan pertumbuhan, kualitas, dan hasil teh Kombucha, serta untuk mengetahui pengaruh masing-masing faktor terhadap parameter ketebalan nata, berat nata, kadar gula, kadar alkohol, vitamin C, padatan terlarut, rasa, dan aroma sehingga diperoleh kombinasi perlakuan terbaik. &#13;
Penelitian dilaksanakan di rumah pribadi dan Laboratorium Terpadu Universitas Islam Malang pada ketinggian 550 mdpl dengan suhu 25–30°C dan kelembaban 79–86%. Kegiatan penelitian berlangsung pada 19 Juli hingga 14 Agustus 2025, dengan pembuatan bibit SCOBY dilakukan ±30 hari sebelumnya pada bulan Juni, sedangkan analisis data dilaksanakan mulai Agustus 2025 hingga Januari 2026. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu konsentrasi gula (25–125 g/L) dan konsentrasi teh (2,5–12,5 g/L) dengan 25 kombinasi perlakuan dan 5 ulangan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi nyata antara konsentrasi gula dan teh terhadap beberapa parameter, terutama ketebalan nata pada 10 dan 20 HSI serta kadar gula pada 0–20 HSI. Kombinasi perlakuan terbaik berdasarkan total keseluruhan variabel adalah G5T3 (125 g/L gula dan 7,5 g/L teh), yang menghasilkan pertumbuhan nata dan kualitas kimia yang paling optimal. Ketebalan nata meningkat seiring bertambahnya waktu fermentasi, dengan nilai optimum pada 20 HSI sebesar 1,24 cm pada kisaran gula 93,96 g/L dan teh 8,99 g/L. Konsentrasi gula berpengaruh nyata terhadap kadar alkohol, di mana semakin tinggi konsentrasi gula maka semakin tinggi kadar alkohol yang dihasilkan. Secara umum, peningkatan konsentrasi gula meningkatkan pertumbuhan dan hasil nata hingga mencapai titik optimum, sedangkan konsentrasi teh berperan sebagai faktor pendukung dalam menyediakan senyawa bioaktif yang mendukung aktivitas mikroorganisme selama fermentasi.
</description>
<pubDate>Wed, 04 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14129</guid>
<dc:date>2026-02-04T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Volatilitas Harga Dan Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Harga Bawang Merah Di Indonesia</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14128</link>
<description>Analisis Volatilitas Harga Dan Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Harga Bawang Merah Di Indonesia
ARRASYID, RAFIGO
Bawang merah merupakan komoditas hortikultura strategis di Indonesia yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan dan perekonomian nasional. Namun, harga bawang merah sering mengalami fluktuasi tajam yang berdampak pada pendapatan petani, daya beli konsumen, dan stabilitas inflasi. Fluktuasi ini dipicu oleh faktor-faktor seperti produksi yang musiman, ketergantungan impor, harga komoditas substitusi, serta dinamika pasar yang kompleks. Periode 2021–2024 menunjukkan pola volatilitas harga yang berulang, terutama menjelang hari besar keagamaan dan musim panen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat volatilitas harga bawang merah di Indonesia serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, meliputi produksi domestik, volume impor, harga bawang putih, dan harga periode sebelumnya. &#13;
	Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder bulanan periode Januari 2021–Desember 2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Pangan Nasional (BAPANAS). Analisis dilakukan dalam dua tahap utama. Pertama, volatilitas harga diukur dengan model ARCH/GARCH untuk mengidentifikasi pola fluktuasi dan tingkat persistensi volatilitas. Kedua, faktor-faktor yang memengaruhi harga dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan variabel independen produksi bawang merah, volume impor, harga bawang putih, dan harga bawang merah periode sebelumnya. Uji asumsi klasik seperti normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi juga dilakukan untuk memastikan keandalan model.&#13;
	Hasil analisis volatilitas harga bawang merah menggunakan model GARCH (1,20) menunjukkan bahwa nilai persistensi volatilitas (α + β) sebesar 0,325354, yang berada jauh di bawah ambang batas 0,70. Nilai ini mengindikasikan bahwa volatilitas harga bawang merah selama periode 2021–2024 tergolong rendah, sehingga guncangan harga yang terjadi di pasar bawang merah bersifat sementara dan cepat mereda. Dengan kata lain, fluktuasi harga yang muncul tidak membentuk pola volatility clustering yang berkepanjangan, di mana periode volatilitas tinggi diikuti oleh volatilitas tinggi pada periode berikutnya. Kondisi ini menunjukkan adanya kecenderungan mean reversion, yaitu harga bawang merah cenderung kembali ke nilai keseimbangan jangka panjang setelah mengalami shock. Rendahnya tingkat persistensi volatilitas ini dapat mencerminkan peran kebijakan pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan, baik melalui pengelolaan stok maupun intervensi perdagangan, serta adanya penyesuaian mekanisme pasar yang relatif cepat dalam merespons perubahan permintaan dan penawaran. Meskipun demikian, volatilitas yang rendah pada tingkat agregat nasional tidak berarti bahwa fluktuasi harga tidak dirasakan oleh pelaku usaha di tingkat mikro, khususnya petani dan pedagang kecil, yang tetap menghadapi risiko harga akibat perbedaan waktu panen, keterbatasan akses pasar, dan variasi harga antarwilayah. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa harga bawang merah di Indonesia dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal pasar dan kebijakan perdagangan. Variabel harga bawang merah periode sebelumnya terbukti sebagai faktor yang paling dominan dan berpengaruh signifikan terhadap harga saat ini dengan koefisien positif sebesar 0,673, yang mengindikasikan bahwa pembentukan harga bawang merah bersifat backward-looking. Kondisi ini mencerminkan bahwa pelaku pasar menggunakan informasi harga masa lalu sebagai dasar dalam membentuk ekspektasi harga, sehingga perubahan harga pada satu periode cenderung berlanjut ke periode berikutnya meskipun tidak selalu disertai perubahan fundamental pada sisi produksi maupun permintaan. Selain itu, volume impor bawang merah juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga bawang merah, yang menunjukkan bahwa peningkatan impor cenderung terjadi sebagai respons terhadap kenaikan harga domestik yang telah berlangsung sebelumnya. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebijakan impor bawang merah di Indonesia masih bersifat reaktif dan belum sepenuhnya berfungsi sebagai instrumen stabilisasi harga yang bersifat preventif. Selanjutnya, harga bawang putih sebagai komoditas substitusi memiliki pengaruh positif terhadap harga bawang merah pada tingkat signifikansi 10%, yang menegaskan adanya hubungan substitusi antar-komoditas hortikultura, di mana kenaikan harga bawang putih mendorong peralihan konsumsi ke bawang merah sehingga meningkatkan permintaan dan harga bawang merah. Sementara itu, produksi bawang merah domestik tidak berpengaruh signifikan terhadap harga, yang mengindikasikan bahwa perubahan produksi belum mampu secara langsung memengaruhi harga di tingkat konsumen. Kondisi ini diduga disebabkan oleh permintaan bawang merah yang relatif inelastis, panjangnya rantai distribusi, serta adanya peran impor sebagai penyangga pasokan, sehingga fluktuasi produksi domestik lebih banyak diserap pada tingkat perantara dan tidak sepenuhnya tercermin pada perubahan harga akhir di pasar.&#13;
	Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa volatilitas harga bawang merah di Indonesia periode 2021–2024 tergolong rendah dengan persistensi (α+β) sebesar 0,325354, yang mengindikasikan bahwa guncangan harga bersifat sementara dan pasar mampu menyerap gangguan dengan cepat; sementara itu, faktor yang paling signifikan memengaruhi harga adalah harga periode sebelumnya yang mencerminkan sifat pasar yang backward-looking, diikuti oleh volume impor yang memiliki hubungan positif sebagai cerminan kebijakan impor yang reaktif, serta harga bawang putih sebagai komoditas substitusi pada tingkat signifikansi 10%, sedangkan produksi domestik tidak berpengaruh signifikan diduga karena permintaan yang inelastis dan panjangnya rantai distribusi. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan bagi pemerintah untuk menggeser kebijakan impor dari pendekatan reaktif menjadi proaktif berbasis sistem peringatan dini yang mengintegrasikan proyeksi produksi dan stok, serta melakukan stabilisasi harga yang terpadu dengan komoditas substitusi seperti bawang putih; sementara bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk memperluas variabel penelitian dengan memasukkan faktor nilai tukar dan iklim, menggunakan data frekuensi lebih tinggi, serta mengombinasikan pendekatan kualitatif untuk memahami dinamika perilaku pelaku pasar secara lebih komprehensif.
</description>
<pubDate>Mon, 05 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14128</guid>
<dc:date>2026-01-05T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Studi Tentang Elastisitas Permintaan Beras Di Jawa Timur</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14127</link>
<description>Studi Tentang Elastisitas Permintaan Beras Di Jawa Timur
NISKALA, HAFIZH AHMAD
Sektor pertanian memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia, terutama dalam penyediaan pangan pokok nasional. Beras menjadi komoditas vital dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan stabilitas ekonomi masyarakat, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-2 yaitu Zero Hunger. Pemerintah Indonesia telah menempatkan swasembada pangan sebagai prioritas utama melalui program Asta Cita, menargetkan pencapaian swasembada pangan dalam empat hingga lima tahun mendatang. Meskipun Jawa Timur memiliki produksi beras tinggi mencapai 5,61 juta ton pada tahun 2023, kestabilan harga beras masih menjadi perhatian. Konsumsi beras rumah tangga per kapita per bulan di Jawa Timur menunjukkan tren stabil pada periode 2022-2024, berkisar antara 6,25-6,34 kg. Fenomena ini menunjukkan pentingnya mengkaji elastisitas permintaan beras untuk memahami sejauh mana perubahan harga atau pendapatan mempengaruhi jumlah beras yang diminta oleh rumah tangga di Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor penentu permintaan beras serta menghitung elastisitas harga dan pendapatan dengan mempertimbangkan harga substitusi dan karakteristik rumah tangga.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif statistik dan regresi logaritmik. Data penelitian berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2024 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk Provinsi Jawa Timur. Sampel penelitian mencakup 25.470 rumah tangga yang memiliki data lengkap untuk seluruh variabel yang dianalisis. Model yang digunakan adalah regresi log-linear (double-log) dengan spesifikasi: lnQd = β₀ + β₁lnP_beras + β₂lnP_jagung + β₃lnP_terigu + β₄lnP_singkong + β₅lnP_ketela_rambat + β₆lnP_talas + β₇lnP_kentang + β₈lnHHsize + β₉lnExpendFood + ε. Model log-linear dipilih karena koefisien regresi dapat diinterpretasikan langsung sebagai elastisitas, mampu menlinearisasi hubungan non-linear, serta mengurangi masalah heteroskedastisitas dan skewness distribusi data. Variabel dependen adalah konsumsi beras (kg), sedangkan variabel independen meliputi harga beras, harga komoditas substitusi, anggota rumah tangga, dan pengeluaran makanan sebagai proksi pendapatan. Analisis data dilakukan menggunakan software R Studio dengan tahapan persiapan data, transformasi logaritma natural, estimasi model regresi OLS, uji asumsi klasik (multikolinearitas, heteroskedastisitas, normalitas), serta visualisasi dan interpretasi hasil. Untuk mengatasi heteroskedastisitas, digunakan robust standard errors (HC1) agar hasil inferensi statistik tetap valid.&#13;
Secara simultan, seluruh variabel independen terbukti berpengaruh signifikan terhadap konsumsi beras, sehingga model layak digunakan. Model mampu menjelaskan 53,23% variasi permintaan beras rumah tangga. Secara parsial, variabel signifikan meliputi harga beras, jagung, terigu, ketela rambat, talas, kentang, jumlah anggota rumah tangga, dan pendapatan. Harga singkong tidak berpengaruh signifikan. Dari sisi elastisitas, elastisitas harga beras sebesar -0,4071 menunjukkan permintaan yang inelastis, di mana kenaikan harga 1% menurunkan konsumsi 0,4071%. Elastisitas pendapatan sebesar 0,1448 menempatkan beras sebagai barang normal kebutuhan pokok (0 &lt; Ey &lt; 1). Selanjutnya. Hasil elastisitas silang menunjukkan hubungan komplementer antara beras dan jagung, terigu, ketela rambat, talas, serta kentang. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsumsi beras cenderung diikuti oleh peningkatan konsumsi komoditas sumber karbohidrat lain, bukan sebagai pengganti tetapi sebagai pelengkap dalam pola konsumsi masyarakat. Hasil ini menggambarkan adanya potensi diversifikasi konsumsi pangan sumber karbohidrat di Jawa Timur, karena komoditas tersebut berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti beras. Peningkatan konsumsi karbohidrat lokal bukanlah akibat dari penurunan daya beli, melainkan mencerminkan kesadaran masyarakat terhadap variasi menu dan gizi yang lebih baik. Selain itu, jumlah anggota rumah tangga menjadi faktor paling dominan, dengan elastisitas 0,7029, yang berarti semakin besar keluarga, semakin tinggi konsumsi berasnya. &#13;
Berdasarkan penelitian mengenai elastisitas permintaan beras di Jawa Timur ini, beberapa saran dapat diberikan kepada pemerintah, penelitian selanjutnya, dan pengambil kebijakan praktis. Pemerintah perlu memprioritaskan stabilisasi harga melalui penguatan stok cadangan, operasi pasar, regulasi impor, serta penyaluran subsidi yang lebih tepat sasaran seperti program RASTRA, disertai kampanye diversifikasi pangan yang menekankan ketersediaan dan edukasi konsumsi beragam. Penelitian selanjutnya diharapkan meningkatkan kualitas data terkait kategori beras dan menggunakan metode analisis yang lebih kuat, serta memperluas studi ke sisi penawaran dan evaluasi kebijakan terkait stabilitas harga dan pola konsumsi. Bagi pengambil kebijakan praktis, penting melakukan pemantauan elastisitas dan pola konsumsi secara berkala, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta membangun sistem informasi harga beras yang transparan dan real-time guna mendukung keputusan yang lebih rasional dan menjaga stabilitas pasar.
</description>
<pubDate>Thu, 11 Dec 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14127</guid>
<dc:date>2025-12-11T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Preferensi Masyarakat Terhadap Konsumsi Bawang Merah Tuk-Tuk (Studi Kasus di Desa Torongrejo Kota Batu)</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14126</link>
<description>Preferensi Masyarakat Terhadap Konsumsi Bawang Merah Tuk-Tuk (Studi Kasus di Desa Torongrejo Kota Batu)
IDRIS, FANI NUR
Indonesia merupakan negara dengan kekayaan rempah-rempah yang beragam, salah satunya bawang merah. Varietas Tuk-Tuk yang ditanam di Desa Torongrejo, Kota Batu, menjadi salah satu komoditas penting yang perlu dianalisis dari sisi preferensi konsumen. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk menganalisis preferensi masyarakat terhadap konsumsi bawang merah tuk-tuk. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berada di Kota Batu dan pernah mengkonsumsi bawang merah Tuk-Tuk. Penelitian ini menggunakan sampel 60 responden. Responden diwawancara dan diberikan kuesioner untuk mendapatkan informasi. Lokasi penelitian berada di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.&#13;
Sebelum penelitian dilakukan, hipotesis awal peneliti menduga bahwa konsumen lebih memilih bawang merah dengan atribut: rasa pedas manis, warna merah muda, ukuran sedang, harga Rp14.000–Rp17.000/kg, dan bentuk bulat sempurna. Selain itu, diasumsikan bahwa atribut yang paling dominan dalam menentukan preferensi adalah rasa.&#13;
Namun hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun kombinasi atribut yang disukai konsumen sama dengan hipotesis (pedas manis, merah muda, ukuran sedang, Rp14.000–Rp17.000/kg, bulat sempurna), faktor yang paling berpengaruh adalah warna, dengan nilai kepentingan 30,865. Urutan kepentingan atribut adalah warna &gt; rasa &gt; harga &gt; ukuran &gt; bentuk. Hal ini berbeda dengan dugaan awal peneliti, di mana rasa diperkirakan menjadi faktor utama
</description>
<pubDate>Wed, 16 Apr 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14126</guid>
<dc:date>2025-04-16T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
