<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Agrotechnology</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/61</link>
<description>Koleksi Skripsi Mahasiswa Prodi Agroteknologi</description>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2026 02:46:02 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-13T02:46:02Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Aplikasi Elisitor Dan Pengurangan Dosis Npk Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Padi Varietas Inpari-32 (ORYZA SATIVA L.)</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14220</link>
<description>Pengaruh Aplikasi Elisitor Dan Pengurangan Dosis Npk Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Padi Varietas Inpari-32 (ORYZA SATIVA L.)
FAKHRUDIN ZUHRI, AHMAD DWI
Tanaman padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman pangan penting yang dibudidayakan untuk menghasilkan beras. Padi merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk dunia, terutama di Asia. Peningkatan produksi padi harus dilakukan mengingat kebutuhan pangan untuk Masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman padi menggunakan aplikasi elisitor dan penggunaan pupuk NPK dengan dosis terbaik untuk tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di greenhouse yang beralamatkan di Dusun Tebelo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, ketinggian tempat 450 mdpl dari bulan Mei hingga September 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) sederhana dengan 8 perlakuan yaitu E0P0 (tanpa pemupukan dan tanpa elisitor) E0P1 (Perlakuan 100% NPK tanpa elisitor) E0P2 (Perlakuan 50% NPK  tanpa elisitor) E0P3 (Perlakuan 25% NPK  tanpa elisitor) E1P0 (tanpa pemupukan dengan elisitor) E1P1 (Perlakuan 100% NPK dengan elisitor) E1P2 (Perlakuan 50% NPK  dengan elisitor) E1P3 (Perlakuan 25% NPK dengan elisitor) dan diulang 3 kali ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan uji F taraf 5% (ANOVA). Jika terdapat pengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut dengan BNJ (Beda Nyata Jujur) taraf 5%. Parameter pengamatan yang diamati adalah: tinggi tanaman, jumlah batang, jumlah daun, luas daun, jumlah anakan produktif, Panjang malai, jumlah malai, jumlah gabah per-malai, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, berat malai per-rumpun, berat gabah per-rumpun, berat segar Jerami, berat kering oven dan kadar air gabah.&#13;
Hasil pemberian aplikasi elisitor dan tanpa aplikasi elisitor dengan pupuk NPK 25%, 50% dan 100% memberikan pengaruh interaksi yang nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi, dimana penggunaan elisitor dengan pupuk NPK 100% adalah perlakuan dengan pertumbuhan dan hasil tanaman padi terbaik.
</description>
<pubDate>Fri, 21 Feb 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14220</guid>
<dc:date>2025-02-21T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Respon Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Selada (Lactucasativa L.) Terhadap Aplikasi Vermikompos Cair Dengan Sistem Hidroponik Wick</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14219</link>
<description>Respon Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Selada (Lactucasativa L.) Terhadap Aplikasi Vermikompos Cair Dengan Sistem Hidroponik Wick
RISWANI, ADE NAJIB
Selada merupakan sayuran yang mempunyai nilai komersial dan prospek yang cukup baik sehingga mudah untuk dipasarkan. Tingkat kebutuhan Selada di pasaran akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan. Oleh karena itu budidaya tanaman selada di budidayakan secara hidroponik agar dihasilkan sayur selada yang higienis dan berkualitas tinggi.&#13;
Vermikompos   merupakan   sumber   nutrisi   bagi   mikroba   tanah.   Dengan   adanya   nutrisi tersebut mikroba pengurai bahan organik akan terus berkembang dan menguraikan bahan organik  dengan  lebih  cepat.  Vermikompos mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti N, P K, Ca, Mg, S. Fe, Mn, AI. Na, Cu. Zn, Bo dan Mo tergantung pada bahan yang digunakan.  Vermikompos   merupakan   sumber   nutrisi   bagi   mikroba   tanah. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil tanaman selada (Lactuca sativa L.) terhadap pemberian pupuk vermikompos cair dengan konsentrasi yang berbeda dibandingkan dengan menggunakan nutrisi hidroponik AB mix.&#13;
Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan. Dimulai pada bulan September 2022 hingga November 2022. Penelitian dilakukan di green house yang berlokasi di Jl. MT. Haryono, Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru Malang dengan ketinggian tempat ± 550 mdpl, suhu udara rata-rata berkisar 200C - 350C dengan Sistem Wick. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari P0 = 5 ml larutan A + 5 ml larutan B, P1 = 10 g/L Vermikompos, P2 = 20 g/L Vermikompos, P3 = 30 g/L Vermikompos , P4 = 40 g/L Vermikompos, P5 = 50 g/L Vermikompos . Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar total tanaman, bobot konsumsi, dan bobot kering tanaman.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang menggunakan AB mix memberikan pertumbuhan tanaman tertinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman yang menggunakan vermikompos cair.  Ini menunjukkan bahwa suplai hara dari vermikompos cair belum mencukupi kebutuhan hara untuk pertumbuhan tanaman sawi yang secara morfologi yang ditentukan oleh perkembangan daunnya. Perlakuan P0 (AB mix) pada variabel tinggi tanaman pada semua umur tanaman menunjukkan perlakuan yang terbaik yaitu pada umur 5 hst( 4,95 cm), 10 hst (7,99 cm), 15 hst (11,68 cm), 20 hst ( 15,35 cm) dan 25 hst (18,44 cm).  &#13;
Hasil uji BNT 5% rata-rata bobot segar tanaman, bobot ekonomis tanaman dan bobot kering tanaman menunjukkan bahwa perlakuan P0 (AB mix) menunjukkan hasil yang terbaik dengan  bobot segar (61,53 gram), bobot ekonomis (54,33 gram), bobot kering (3,30 gram) dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya..
</description>
<pubDate>Thu, 06 Feb 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14219</guid>
<dc:date>2025-02-06T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Pemberian Kalium Fosfat Dan Zat Pengatur Tumbuh (Zpt) Gibrelin Terhadap Hasil Dan Serapan Hara Makro Npk Tanaman Bawang Prei (Allium fistulosum L.)</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14218</link>
<description>Pengaruh Pemberian Kalium Fosfat Dan Zat Pengatur Tumbuh (Zpt) Gibrelin Terhadap Hasil Dan Serapan Hara Makro Npk Tanaman Bawang Prei (Allium fistulosum L.)
FIRMANSYAH PUTRA, MUHAMMAD NAUFAL
Bawang prei (Allium fistulosum L.) merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bumbu masakan karena aroma khas dan kandungan gizinya yang cukup lengkap. Produksi bawang daun di Indonesia tergolong stabil dari tahun ke tahun. Peningkatan pertumbuhan dan hasil bawang daun dapat didukung melalui pemupukan, khususnya pupuk kalium fosfat yang berperan dalam fotosintesis, ketahanan tanaman, dan penguatan jaringan. Selain itu, aplikasi hormon giberelin mampu merangsang pertumbuhan batang dan daun sehingga meningkatkan aktivitas fotosintesis dan pertumbuhan tanaman secara keseluruhan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh kalium phospat, dan ZPT gibrelin terhadap pertumbuhan, hasil, dan serapan hara tanaman bawang prei (Allium fistulosum L.). &#13;
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – September 2025 di lahan pertanian   Desa Leses,  Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur.  Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang di mana faktor pertama dosis kalium phospat yang terdiri dari Z0  : 0 ml/liter, Z1  : 2 ml/liter, Z2 : 4 ml/liter, dan Z3 : 6 ml/liter. Sedangkan faktor kedua adalah dosis ZPT gibrelin yang terdiri dari G0  : 0 ml/liter, G1  : 1 ml/liter, G2 : 2 ml/liter, dan G3 : 3 ml/liter. Dari kedua faktor terdapat 16 kombinasi perlakuan, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan 3 sampel per ulangan, sehingga secara keseluruhan terdapat 144 sampel. Variabel yang diamati meliputi variabel pertumbuhan terdiri dari  tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan,  luas daun dan diameter batang. Sedangkan variabel hasil terdiri dari bobot segar total per rumpun, bobot segar ekonomis, bobot per hektar, bobot kering total, klorofil, serapan NPK, dan vitamin C. Data yang diperoleh kemudian dilakukan uji F (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan, dan hasil tanaman. Bila terdapat pengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut BNJ 5%. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi kalium phospat dan ZPT gibrelin memberikan pengaruh interaksi yang nyata terhadap pertumbuhan, hasil, dan kualitas tanaman bawang prei. Perlakuan Z3G3 (6 ml/l kalium phospat + 3 ml/l ZPT gibrelin)  merupakan kombinasi optimal untuk memacu pertumbuhan bawang prei karena menyediakan energi dan pemicu (hormon perangsang) pertumbuhan. Namun pada seluruh variabel hasil, perlakuan Z3G2 (6 ml/l kalium phospat + 2 ml/l ZPT gibrelin) menuunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan Z3G3 (6 ml/l kalium phospat + 3 ml/l ZPT gibrelin).
</description>
<pubDate>Sun, 01 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14218</guid>
<dc:date>2026-02-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Pemberian Jenis Dan Dosis Biourine Terhadap  Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14217</link>
<description>Pengaruh Pemberian Jenis Dan Dosis Biourine Terhadap  Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
FREITAS, ELIAS FATIMA
Provinsi Jawa Timur adalah salah satu wilayah utama untuk produksi bawang merah di Indonesia. Tingginya konsumsi bawang merah di tingkat nasional, yang sekitar 2,56 kg per orang setiap tahun, membuat petani termotivasi untuk meningkatkan hasil pertanian mereka. Namun, ketergantungan pada pupuk kimia menghadapi masalah karena harga yang semakin tinggi dan ketersediaan yang tidak selalu stabil. Oleh sebab itu, diperlukan cara pemupukan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, salah satunya dengan menggunakan biourine sebagai pupuk organik cair. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai dampak jenis dan dosis biourine terhadap pertumbuhan serta hasil tanaman bawang merah. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis biourine, yaitu P1 (biourine dari sapi), P2 (biourine dari kambing), dan P3 (biourine dari kelinci). Faktor kedua adalah dosis biourine, yang terbagi menjadi D1 (30 L/ha setara dengan 4,5 ml per petak), D2 (40 L/ha setara dengan 6 ml per petak), dan D3 (50 L/ha setara dengan 7,5 ml per petak). Parameter yang diukur mencakup pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun) serta hasil tanaman (berat segar dan kering, jumlah umbi, produktivitas, dan indeks panen). Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa perlakuan jenis dan dosis biourine memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman bawang merah pada beberapa waktu pengamatan, khususnya berkaitan dengan tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun. Perlakuan menggunakan biourine kambing dengan dosis 50 L/ha menunjukkan hasil pertumbuhan vegetatif yang paling baik berdasarkan analisis regresi, terutama pada pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun. Sebaliknya, peningkatan dosis biourine dari sapi dan kelinci cenderung tidak menunjukkan respons positif yang konsisten terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman.Namun, pengaruh jenis dan dosis biourine tidak memperlihatkan dampak yang signifikan terhadap hasil tanaman bawang merah, termasuk berat segar umbi, jumlah umbi, berat kering umbi, produktivitas, dan indeks panen. Ini menunjukkan bahwa peningkatan dalam pertumbuhan vegetatif belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan hasil generatif tanaman. Sebagai kesimpulan, penelitian ini menemukan adanya interaksi antara jenis dan dosis biourine terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman bawang merah, tetapi interaksi tersebut tidak cukup untuk meningkatkan hasil panen secara signifikan. Biourine dari kambing menunjukkan potensi terbaik dalam mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman, sementara peningkatan dosis biourine tidak selalu memberikan respons yang optimal, terutama terkait dengan parameter hasil. Oleh karena itu, pemakaian biourine lebih berperan dalam mendukung pertumbuhan vegetatif dan harus dikombinasikan dengan strategi pemupukan lain agar pertumbuhan yang meningkat dapat diimbangi dengan hasil bawang merah yang optimal.
</description>
<pubDate>Mon, 04 Aug 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14217</guid>
<dc:date>2025-08-04T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
