<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Dissertations and Theses</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/7</link>
<description>Koleksi Tugas Akhir Mahasiswa Program Sarjana (S1), Pascasarjana (S2), dan Program Doktoral (S3)</description>
<pubDate>Tue, 06 Oct 2026 23:27:14 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-06T23:27:14Z</dc:date>
<item>
<title>Analisis Permintaan Tahu Rumah Tangga Di Jawa Timur</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14216</link>
<description>Analisis Permintaan Tahu Rumah Tangga Di Jawa Timur
ISLAMIYAH, SAFINATUL
Tahu merupakan salah satu produk olahan kedelai yang berperan penting sebagai sumber protein nabati bagi masyarakat di Indonesia. Dengan harga yang relatif terjangkau dibandingkan sumber protein hewani, tahu menjadi alternatif konsumsi yang banyak diminati oleh berbagai lapisan masyarakat. Tingginya konsumsi tahu menunjukkan perannya yang strategis dalam pemenuhan kebutuhan gizi rumah tangga, khususnya di Provinsi Jawa Timur yang memiliki jumlah penduduk besar dan pola konsumsi pangan yang beragam.&#13;
Perbedaan kondisi sosial ekonomi, tingkat pendapatan, serta karakteristik rumah tangga di berbagai wilayah diduga memengaruhi tingkat permintaan tahu. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik permintaan tahu rumah tangga serta faktor-faktor yang memengaruhinya di Jawa Timur dengan fokus pada wilayah Malang, Kediri, dan Blitar. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dengan jumlah observasi sebanyak 967 rumah tangga yang telah diseleksi sehingga hanya mencakup rumah tangga pada sentra konsumsi tahu.&#13;
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata harga tahu sebesar 12.864,8, harga tempe sebesar 15.216,4, harga telur sebesar 2.128,35, harga beras sebesar 14.370,9, harga daging sapi sebesar 133.331, dan harga minyak goreng sebesar 20.124,5. Rata-rata pengeluaran rumah tangga sebesar 10.870.146, dengan jumlah anggota rumah tangga rata-rata sebesar 3,82 orang. Dari sisi konsumsi, Kediri memiliki rata-rata konsumsi tahu per Rumah tangga per minggu tertinggi dibandingkan Malang dan Blitar, yang menunjukkan adanya variasi pola konsumsi antar wilayah.&#13;
Hasil analisis regresi menunjukkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 54,48 persen (R² teradjust 54,00 persen), yang berarti bahwa variabel dalam model mampu menjelaskan 54,48 persen variasi permintaan tahu. Uji simultan menunjukkan nilai F-statistic sebesar 114,41 dengan p-value 0,000, sehingga&#13;
 &#13;
seluruh variabel independen secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap permintaan tahu.&#13;
Secara parsial, harga tahu berpengaruh negatif dan signifikan dengan koefisien -0,000036 (p-value 0,000). Harga tempe juga berpengaruh negatif dan signifikan (koefisien -0,000004; p-value 0,002), sedangkan harga telur berpengaruh positif dan signifikan (koefisien 0,000021; p-value 0,001). Harga beras tidak berpengaruh signifikan (p-value 0,536), sementara harga daging sapi berpengaruh negatif dan signifikan (koefisien -0,000001; p-value 0,004). Harga minyak goreng berpengaruh positif dan signifikan (koefisien 0,000013; p-value 0,000). Selain itu, pengeluaran rumah tangga dan jumlah anggota rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan, dengan koefisien jumlah anggota rumah tangga sebesar 0,05688 (p-value 0,000). Variabel dummy wilayah Malang (p-value 0,114) dan Blitar (p-value 0,726) tidak berpengaruh signifikan dibandingkan Kediri.&#13;
Hasil uji asumsi klasik menunjukkan bahwa model regresi telah memenuhi kriteria yang baik, ditunjukkan oleh tidak adanya multikolinearitas (VIF &lt; 10), tidak terdapat heteroskedastisitas berdasarkan grafik residual, serta tidak adanya autokorelasi dengan nilai Durbin-Watson sebesar 2,07289. Selain itu, residual cenderung berdistribusi normal meskipun terdapat sedikit penyimpangan yang masih dapat ditoleransi.&#13;
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor harga komoditas, pengeluaran rumah tangga, dan jumlah anggota keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap permintaan tahu rumah tangga di Jawa Timur, sedangkan perbedaan wilayah tidak berpengaruh signifikan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan terkait stabilitas harga dan pemenuhan kebutuhan pangan berbasis protein nabati.
</description>
<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14216</guid>
<dc:date>2026-04-14T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Permintaan Cabai Merah Rumah Tangga Di Indonesia</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14215</link>
<description>Analisis Permintaan Cabai Merah Rumah Tangga Di Indonesia
WIJAYA, GHIFARI BINTANG
Pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development) menjadi fokus utama dalam arah kebijakan pembangunan di Indonesia yang selaras dengan komitmen global Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu prioritas SDGs adalah tujuan ke-2, Zero Hunger. Pemerintah Indonesia juga menegaskan komitmen ini melalui Asta Cita ke-2, yaitu mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Cabai merah merupakan salah satu komoditas pangan strategis yang berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional dan termasuk dalam Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 125 Tahun 2022. Konsumsi cabai merah di Indonesia digunakan luas sebagai bumbu utama dalam konsumsi rumah tangga. Namun, harga cabai mengalami fluktuasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran umum karakteristik serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi permintaan rumah tangga terhadap cabai merah.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif statistik dan regresi logaritmik. Penelitian dilaksanakan di Indonesia dengan menggunakan data sekunder SUSESNAS yang diterbitkan oleh BPS dari periode pengambilan data September-November 2024. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified two stage sampling yang dilaksanakan oleh BPS, yaitu pengelompokan wilayah perkotaan dan perdesaan pada tahap pertama, kemudian pemilihan blok sensus dan rumah tangga secara acak pada tahap kedua. Metode ini bertujuan untuk menjamin keterwakilan rumah tangga secara nasional. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 341.803 rumah tangga. Model yang digunakan adalah regresi logaritma ganda (double log model) digunakan karna mampu menginterpretasikan koefisien regresi secara langsung sebagai pengaruh masing-masing faktor dalam menjelaskan permintaan rumah tangga di Indonesia. Variabel dependen adalah konsumsi cabai merah, sedangkan variabel independen meliputi harga cabai merah, harga komoditas pangan strategis (harga beras, harga jagung, harga kedelai, harga bawang merah, harga daging ayam, harga telur, harga daging sapi, harga gula pasir, harga minyak goreng, harga ikan), pendapatan, dan jumlah anggota keluarga. Seluruh proses analisis data dilaksanakan dengan menggunakan software R Studio yang meliputi tahap persiapan dan pembersihan data, analisis deskriptif statistik, transformasi bentuk logaritma natural, estimasi model regresi logaritma ganda (double log model), serta pengujian kelayakan model melalui uji F, pengujian koefisien determinasi (R²), dan pengujian signifikansi parsial menggunakan uji t.&#13;
Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan konsumsi cabai merah rumah tangga di Indonesia menunjukkan variasi yang cukup besar. Rata-rata konsumsi tercatat sebesar 0,64 kg per kapita per bulan, dengan kisaran 0,01–10,25 kg. Variasi ini mencerminkan perbedaan preferensi, kebiasaan memasak, dan kondisi sosial ekonomi rumah tangga. Cabai merah berperan penting sebagai bumbu utama masakan sehingga konsumsinya relatif dipertahankan.Secara wilayah, konsumsi cabai merah rumah tangga perkotaan (0,30 kg) lebih tinggi dibandingkan perdesaan (0,26 kg). Namun, pada kelompok pendapatan rendah, konsumsi di perdesaan lebih tinggi, sedangkan pada pendapatan tinggi konsumsi lebih besar di perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa cabai merah merupakan kebutuhan bumbu esensial bagi rumah tangga perdesaan, sementara peningkatan pendapatan mendorong konsumsi yang lebih tinggi di wilayah perkotaan.&#13;
Faktor-faktor yang memengaruhi permintaan cabai merah rumah tangga di Indonesia dianalisis menggunakan model regresi logaritma ganda (double log model). Berdasarkan hasil Uji F, diperoleh nilai F-hitung sebesar 54,488 dengan nilai signifikansi p-value 0,000 &lt; 0,05 yang menunjukkan bahwa seluruh variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan terhadap permintaan cabai merah. Hasil Uji R² menunjukkan nilai koefisien determinasi sebesar 0,6745, yang berarti 67,45% variasi permintaan cabai merah dapat dijelaskan oleh variabel harga cabai merah, harga komoditas pangan strategis lain, serta variabel sosial ekonomi rumah tangga. Sementara itu, 32,55% variasi permintaan dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Secara parsial, hasil Uji t menunjukkan bahwa harga cabai merah berpengaruh negatif dan sangat signifikan terhadap permintaan cabai merah. Hubungan substitusi ditunjukkan oleh komoditas yang memiliki koefisien positif dan signifikan, yaitu beras, bawang merah, daging ayam, dan minyak goreng. Hubungan komplementer ditunjukkan oleh komoditas dengan koefisien negatif dan signifikan, yaitu jagung, kedelai, daging sapi, dan gula. Sementara telur dan ikan memiliki koefisien yang tidak signifikan secara statistik. Dari sisi faktor sosial ekonomi, pendapatan dan jumlah anggota keluarga berpengaruh positif dan sangat signifikan.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang dapat disampaikan antara lain: petani dan pelaku agribisnis diharapkan mengoptimalkan produksi cabai merah melalui penerapan teknologi smart farming serta pengembangan pengolahan pascapanen untuk meningkatkan efisiensi, nilai tambah, dan stabilitas pasokan. Rumah tangga diharapkan dapat menyesuaikan pola konsumsi secara lebih efisien dengan mempertimbangkan perubahan harga dan keterkaitan antar komoditas pangan. Pemerintah perlu mempertahankan dan memperkuat kebijakan stabilisasi harga komoditas pangan strategis melalui pengelolaan Cadangan Pangan Pokok secara terkoordinasi guna menekan volatilitas harga dan menjaga keterjangkauan pangan. Selanjutnya, penelitian mendatang disarankan untuk menyempurnakan spesifikasi variabel, khususnya dalam pemilihan komoditas substitusi dan komplementer, agar analisis perilaku konsumsi cabai merah rumah tangga di Indonesia dapat direpresentasikan secara lebih akurat.
</description>
<pubDate>Thu, 12 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14215</guid>
<dc:date>2026-02-12T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Permintaan Keripik Tempe Di Kota Malang</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14214</link>
<description>Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Permintaan Keripik Tempe Di Kota Malang
H. BUGIS, JINGGA MULYATI
Keripik tempe merupakan salah satu produk agroindustri khas Kota Malang yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi salah satu oleh-oleh unggulan daerah. Produk ini dihasilkan dari bahan baku tempe yang diolah menjadi makanan ringan dengan cita rasa khas, tekstur renyah, dan memiliki daya simpan yang relatif lama. Seiring dengan meningkatnya persaingan usaha di sektor pangan, produsen keripik tempe dituntut untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi preferensi konsumen agar dapat menyusun strategi pemasaran yang tepat dan mampu mempertahankan daya saing produk di pasar. Preferensi konsumen merupakan kecenderungan seseorang dalam memilih suatu produk berdasarkan atribut yang dianggap mampu memberikan manfaat dan kepuasan. Oleh karena itu, penelitian mengenai preferensi konsumen sangat penting untuk mengetahui atribut produk yang paling berpengaruh terhadap keputusan pembelian keripik tempe di Kota Malang.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan tingkat preferensi konsumen terhadap keripik tempe di Kota Malang serta menganalisis pengaruh kualitas produk, harga, kemasan, citra produk, aksesibilitas, dan promosi terhadap preferensi konsumen terhadap permintaan keripik tempe. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda yang didahului dengan uji asumsi klasik, kemudian dilakukan uji koefisien determinasi (R²), uji Analysis of Variance (ANOVA), dan uji Coefficients untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap preferensi konsumen.&#13;
Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa karakteristik responden didominasi oleh kelompok usia 16–25 tahun, berjenis kelamin perempuan, dan sebagian besar berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keripik tempe memiliki pasar yang cukup besar pada kelompok usia produktif yang cenderung aktif mengonsumsi makanan ringan serta mudah memperoleh informasi mengenai produk melalui berbagai media. Selain itu, hasil penilaian responden menunjukkan bahwa secara umum seluruh variabel penelitian memperoleh kategori baik hingga sangat baik. Konsumen menilai bahwa keripik tempe memiliki kualitas produk yang baik, harga yang sesuai dengan manfaat yang diterima, kemasan yang menarik, mudah diperoleh di berbagai tempat penjualan, serta didukung oleh kegiatan promosi yang mampu meningkatkan ketertarikan terhadap produk.&#13;
Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa variabel kualitas produk memiliki koefisien regresi sebesar 0,1000 dengan nilai T-Value sebesar 4,00 dan P-Value sebesar 0,000, sehingga berpengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi konsumen. Variabel harga memiliki koefisien regresi sebesar 0,3601 dengan nilai T-Value sebesar 10,76 dan P-Value sebesar 0,000, yang menunjukkan bahwa harga menjadi salah satu faktor yang memberikan pengaruh terbesar terhadap preferensi konsumen. Selanjutnya, variabel kemasan memiliki koefisien regresi sebesar 0,0957 dengan nilai T-Value sebesar 3,01 dan P-Value sebesar 0,003, sehingga berpengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi konsumen.&#13;
Variabel citra produk memiliki koefisien regresi sebesar -0,0194 dengan nilai T-Value sebesar -0,66 dan P-Value sebesar 0,511, sehingga tidak berpengaruh signifikan terhadap preferensi konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen keripik tempe di Kota Malang lebih mengutamakan atribut produk yang dapat dirasakan secara langsung dibandingkan reputasi atau citra produk. Sementara itu, variabel aksesibilitas memiliki koefisien regresi sebesar 0,0971 dengan nilai T-Value sebesar 2,65 dan P-Value sebesar 0,010, sedangkan variabel promosi memiliki koefisien regresi sebesar 0,3318 dengan nilai T-Value sebesar 11,43 dan P-Value sebesar 0,000, yang menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap preferensi konsumen terhadap permintaan keripik tempe di Kota Malang.&#13;
Berdasarkan hasil Analysis of Variance (ANOVA) diperoleh nilai F-Value sebesar 315,12 dengan P-Value sebesar 0,000, yang lebih kecil dari taraf signifikansi 1% (α = 0,01). Hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel kualitas produk, harga, kemasan, citra produk, aksesibilitas, dan promosi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap preferensi konsumen terhadap permintaan keripik tempe di Kota Malang. Selain itu, hasil analisis menunjukkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 95,31%, yang berarti bahwa 95,31% variasi preferensi konsumen dapat dijelaskan oleh keenam variabel penelitian, sedangkan 4,69% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian. Nilai tersebut menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menjelaskan preferensi konsumen terhadap permintaan keripik tempe di Kota Malang.&#13;
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa preferensi konsumen terhadap keripik tempe di Kota Malang terutama dipengaruhi oleh kualitas produk, harga, kemasan, aksesibilitas, dan promosi, sedangkan citra produk belum memberikan pengaruh yang signifikan. Variabel harga dan promosi merupakan faktor yang memberikan pengaruh paling besar terhadap preferensi konsumen dibandingkan variabel lainnya. Oleh karena itu, produsen keripik tempe di Kota Malang diharapkan mampu mempertahankan kualitas produk, menetapkan harga yang sesuai dengan daya beli konsumen, mengembangkan kemasan yang lebih menarik dan informatif, memperluas saluran distribusi agar produk mudah diperoleh, serta meningkatkan kegiatan promosi, khususnya melalui media digital dan media sosial. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan preferensi konsumen, memperkuat daya saing produk, dan mendorong peningkatan permintaan keripik tempe sebagai salah satu produk unggulan khas Kota Malang.
</description>
<pubDate>Fri, 05 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14214</guid>
<dc:date>2026-06-05T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Preferensi Konsumen Terhadap Pangan Fungsional Berbasis Tempe: Pendekatan Analisis Spasial Di Malang Dan Kediri</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14213</link>
<description>Preferensi Konsumen Terhadap Pangan Fungsional Berbasis Tempe: Pendekatan Analisis Spasial Di Malang Dan Kediri
OKTAFIONI, SOVIA
ABSTRAK&#13;
Perubahan pola konsumsi masyarakat menuju gaya hidup sehat telah meningkatkan perhatian terhadap pangan fungsional, yaitu pangan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi dasar tetapi juga memberikan manfaat kesehatan tambahan. Tempe sebagai pangan tradisional Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional karena kandungan protein, serat, serta senyawa bioaktif hasil fermentasi yang berkontribusi terhadap kesehatan. Namun, keberhasilan pengembangan tempe fungsional juga ditentukan oleh persepsi nilai, preferensi konsumen, dan kesediaan membayar harga premium. Perbedaan sosial ekonomi antarwilayah dapat mempengaruhi perilaku konsumsi, sehingga analisis spasial menjadi relevan.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis tingkat preferensi konsumen terhadap pangan fungsional berbasis tempe di Malang dan Kediri; (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi; (3) mengestimasi Willingness to Pay (WTP) konsumen; serta (4) menganalisis perbedaan dan variasi spasial antarwilayah. Penelitian menggunakan pendekatan mix methode yang bersifat dominan kuantitatif dengan data primer dari 200 responden, masing-masing 100 responden di Malang dan 100 responden di Kediri. Analisis preferensi dilakukan menggunakan regresi logit ordinal. Estimasi Willingness to Pay (WTP) dilakukan dengan Contingent Valuation Method (CVM) dan dianalisis lebih lanjut menggunakan regresi Ordinary Least Squares (OLS). Perbedaan antarwilayah diuji menggunakan Mann–Whitney, sedangkan variasi spasial dianalisis dengan Geographically Weighted Regression (GWR).&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat preferensi konsumen terhadap tempe sebagai pangan fungsional berada pada kategori setuju, dengan rata-rata gabungan sebesar 3,41 pada skala Likert 1–5. Rata-rata preferensi di Kota Malang sebesar 3,43 dan di Kota Kediri sebesar 3,40, yang menunjukkan tingkat penerimaan yang relatif serupa di kedua wilayah. Hal ini menunjukkan konsumen mulai menerima tempe sebagai pangan fungsional, meski keyakinan dan antusiasme terhadap inovasinya masih moderat.&#13;
Hasil regresi logit ordinal menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi berbeda antarwilayah. Di Malang, variabel pengetahuan (X1), harga (X4), dan gaya hidup (X6) berpengaruh positif signifikan terhadap preferensi, sedangkan informasi produk (X2) dan citra produk (X5) berpengaruh negatif signifikan serta kualitas produk (X3) tidak berpengaruh signifikan. Di Kota Kediri, variabel pengetahuan (X1), harga (X4), dan citra produk (X5) berpengaruh positif signifikan, informasi produk (X2) berpengaruh negatif signifikan, sedangkan kualitas produk (X3) dan gaya hidup (X6) tidak signifikan. Pada model gabungan kedua kota (N=200), variabel pengetahuan (X1), harga (X4), dan kualitas produk (X3) berpengaruh positif signifikan terhadap preferensi, sedangkan informasi produk (X2) berpengaruh negatif signifikan. Variabel citra produk (X5), gaya hidup (X6), dan dummy wilayah (Z) tidak signifikan pada model gabungan. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan persepsi harga paling konsisten membentuk preferensi, sementara informasi produk yang kurang efektif dapat menurunkannya.&#13;
Dari sisi Willingness to Pay (WTP), mayoritas responden menunjukkan kesiapan membayar tambahan harga untuk tempe fungsional. Rata-rata Willingness to Pay (WTP) di Kota Malang sebesar Rp1.510 dengan 86% responden bersedia membayar lebih, sedangkan di Kota Kediri sebesar Rp1.095 dengan 80% responden bersedia membayar. Secara gabungan, rata-rata Willingness to Pay (WTP) sebesar Rp1.302,50 dengan rentang nilai Rp0 hingga Rp5.000, yang menunjukkan adanya heterogenitas persepsi nilai dan sensitivitas harga antarindividu.&#13;
Hasil regresi Ordinary Least Squares (OLS) menunjukkan bahwa secara simultan seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap Willingness to Pay (WTP) (Prob F-statistic = 0,0070). Namun, secara parsial hanya citra produk dan variabel wilayah yang berpengaruh positif signifikan terhadap besarnya Willingness to Pay (WTP). Citra produk berpengaruh signifikan (p = 0,036), yang menunjukkan bahwa persepsi reputasi dan nilai simbolik yang lebih baik meningkatkan kesediaan konsumen membayar harga lebih tinggi. Variabel wilayah juga signifikan (p = 0,011), ini mengindikasikan bahwa konsumen di Kota Malang cenderung memiliki Willingness to Pay (WTP) lebih tinggi dibandingkan Kediri setelah mengontrol variabel lain. Sementara itu, pengetahuan, informasi produk, kualitas, harga, dan gaya hidup tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap Willingness to Pay (WTP).&#13;
Uji Mann–Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan dalam preferensi antarwilayah, namun terdapat perbedaan signifikan dalam Willingness to Pay (WTP) (U = 3753,000; p = 0,002). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat penerimaan terhadap tempe fungsional relatif homogen, besaran tambahan harga yang bersedia dibayarkan dipengaruhi oleh konteks wilayah.&#13;
Analisis spasial menggunakan Geographically Weighted Regression (GWR) menunjukkan adanya indikasi heterogenitas lokal baik pada model preferensi maupun Willingness to Pay (WTP). Pada model preferensi, nilai R² Geographically Weighted Regression (GWR) (0,268) lebih tinggi dibanding OLS (0,232), namun nilai AICc Ordinary Least Squares (OLS) lebih rendah sehingga model global lebih efisien. Pada model Willingness to Pay (WTP), nilai R² Geographically Weighted Regression (GWR) (0,0822) sedikit lebih tinggi dibanding Ordinary Least Squares (OLS) (0,0562), tetapi peningkatan tersebut relatif kecil dan disertai AICc OLS yang tetap lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa variasi spasial dalam Willingness to Pay (WTP) memang ada, namun belum cukup kuat untuk membentuk pola heterogenitas lokal yang dominan, sehingga model global masih lebih representatif sebagai model inferensial utama.&#13;
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa tempe memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional dengan tingkat penerimaan yang moderat dan kesediaan membayar tambahan harga yang cukup baik. Pengetahuan dan persepsi harga berperan penting dalam membentuk preferensi, sedangkan citra produk dan faktor wilayah lebih menentukan dalam membentuk besaran Willingness to Pay (WTP). Oleh karena itu, strategi pengembangan tempe fungsional perlu menekankan edukasi konsumen, penguatan citra produk, serta pendekatan pemasaran yang adaptif berbasis karakteristik wilayah guna meningkatkan daya saing produk dan mendukung pola konsumsi sehat masyarakat.
</description>
<pubDate>Mon, 09 Mar 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14213</guid>
<dc:date>2026-03-09T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
