<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>UT - Medical Education</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/79</link>
<description>Koleksi Skripsi Mahasiswa Program Pendidikan Dokter</description>
<pubDate>Mon, 24 Aug 2026 14:30:58 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-08-24T14:30:58Z</dc:date>
<item>
<title>Pengaruh Frekuensi Pemberian Kopi Robusta (Coffea Canephora) Terhadap Gambaran Histologi Dan Fungsi Hepar Tikus Wistar Jantan</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14124</link>
<description>Pengaruh Frekuensi Pemberian Kopi Robusta (Coffea Canephora) Terhadap Gambaran Histologi Dan Fungsi Hepar Tikus Wistar Jantan
Sholahina, Azzahra Anggun
Latar Belakang: Di antara berbagai jenis kopi yang beredar, kopi robusta (Coffea canephora) tercatat menyumbang sekitar 72,71% dari total produksi kopi nasional. Kandungan senyawa bioaktif di dalamnya, kafein, asam klorogenat, dan polifenol secara bersama-sama berpotensi meningkatkan beban kerja hepar melalui jalur metabolisme enzim sitokrom P450 (CYP1A2), yang pada akhirnya memicu pembentukan radikal bebas, stres oksidatif, dan kerusakan hepatosit. Studi ini disusun untuk mengkaji bagaimana frekuensi pemberian kopi memengaruhi derajat nekrosis serta kadar SGOT dan SGPT hepar pada tikus wistar jantan.&#13;
Methods: Desain penelitian yang digunakan adalah eksperimental murni dengan model post-test only control group. Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan berumur 4–6 minggu dikelompokkan secara acak ke dalam empat kelompok (n=6 per kelompok): K0 diberi akuades, K1 diberi 150 mg/1,5 mL sekali sehari, K2 diberi 75 mg/1,5 mL dua kali sehari, dan K3 diberi 50 mg/1,5 mL tiga kali sehari, seluruhnya melalui sonde oral selama 30 hari berturut-turut. Tingkat nekrosis hepatosit dievaluasi secara histopatologis, sementara kadar SGOT dan SGPT ditentukan menggunakan metode enzimatik IFCC. Uji Shapiro-Wilk dan Levene's digunakan untuk memeriksa asumsi normalitas dan homogenitas varians sebelum dilanjutkan dengan One-Way ANOVA atau Welch ANOVA, serta uji lanjutan Post Hoc Tukey HSD atau Games-Howell sesuai kebutuhan (p&lt;0,05).&#13;
Hasil: Seluruh kelompok perlakuan menunjukkan kenaikan rerata nekrosis hepatosit dibandingkan kontrol, dengan nilai berturut-turut K0 6,79±1,52; K1 16,10±0,69; K2 10,07±1,15; dan K3 28,43±2,24 (perbedaan antarkelompok bermakna, p&lt;0,001). Kadar SGOT juga meningkat, dari 71,10±8,95 U/L pada K0 menjadi 149,92±4,29 U/L pada K3, demikian pula SGPT yang naik dari 19,04±4,37 U/L menjadi 53,55±5,86 U/L pada kelompok yang sama; kenaikan kedua parameter ini sejalan dengan bertambahnya frekuensi pemberian (p&lt;0,001). Pola peningkatan nekrosis hepatosit yang beriringan dengan naiknya SGOT dan SGPT mengindikasikan terjadinya kerusakan struktural dan gangguan fungsional hepar akibat frekuensi pemberian kopi robusta yang lebih sering.&#13;
Kesimpulan: Frekuensi pemberian kopi robusta terbukti berpengaruh signifikan terhadap naiknya jumlah sel nekrotik serta kadar SGOT dan SGPT, sehingga mengindikasikan risiko hepatotoksik bila dikonsumsi dalam frekuensi tinggi secara berkelanjutan.&#13;
Kata kunci: Kopi robusta; frekuensi konsumsi; SGOT/SGPT; hepatoseluler; tikus Wistar
</description>
<pubDate>Wed, 01 Jul 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14124</guid>
<dc:date>2026-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Hubungan Indeks Massa Tubuh (Imt) Dan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Vitamin D Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14123</link>
<description>Hubungan Indeks Massa Tubuh (Imt) Dan Aktivitas Fisik Dengan Kadar Vitamin D Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang
Zein, Balqis Nihayatuz
Pendahuluan: Vitamin D merupakan prohormon larut lemak yang disintesis di kulit melalui paparan sinar UV-B dan tersedia dari sumber makanan. Saat ini kondisi kadar vitamin D di Indonesia banyak terjadi defisiensi berkisar antara 60–90% tergantung pada kelompok studi. Defisiensi vitamin D adalah keadaan kadar 25(OH)D serum kurang dari 30 ng/mL yang saat ini menjadi masalah kesehatan di berbagai negara, termasuk pada mahasiswa FK Unisma. Berbagai faktor, termasuk IMT dan aktivitas fisik diduga berperan dalam kadar vitamin D. Namun, belum ada riset mengenai hubungan IMT dan aktivitas fisik dengan kadar vitamin D pada mahasiswa FK UNISMA&#13;
Metode: Penelitian studi observasional analitik dengan desain potong lintang pada mahasiswa FK Unisma sebanyak 80 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok yakni IMT dan aktivitas fisik. Pada IMT dikategorikan menjadi 3 yakni kurang (n= 6), normal (n=28) dan lebih (46) sedangkan pada aktivitas fisik terbagi menjadi ringan (n= 23), aktivitas fisik sedang (n=27) dan aktivitas fisik berat (n=30). IMT diukur menggunakan alat pengukuran berat badan dan tinggi badan kemudian dihitung secara sistematis menggunakan rumus berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m2), sedangkan aktivitas fisik menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionaire (IPAQ), dan kadar vitamin D dalam serum darah diukur menggunakan teknik ELISA. &#13;
Hasil &amp; Pembahasan: Tingkat Vitamin D pada kelompok IMT kurang, normal dan lebih berturut- turut adalah 74,49 ± 50,89; 94,41 ± 53,67; 82,63 ± 66,33 (p= 0,356) dengan hasil uji pearson r= -0,028; (p= 0,806). Tingkat Vitamin D pada aktivtas fisik ringan, sedang dan berat berturut- turut adalah 82,62 ± 54,32; 88,79 ± 61,62; 86,00 ± 65,66 (p= 0,939) dengan hasil uji pearson r = 0,020 (p = 0,860). Hasil ini menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar vitamin D dengan IMT dan aktivitas fisik. Hal ini dapat terjadi karena IMT tidak dapat membedakan secara spesifik antara massa lemak, massa tulang, dan massa otot. Tidak ditemukannya korelasi antara aktivitas fisik dengan kadar vitamin D kemungkinan disebabkan karena aktivitas fisik tidak seluruhnya dilakukan di luar ruangan serta kadar vitamin D dipengaruhi oleh faktor lain seperti paparan sinar matahari, pola makan, IMT, dan faktor genetik.&#13;
Kesimpulan: Kadar vitamin D tidak berhubungan dengan indeks massa tubuh dan aktivitas fisik pada mahasiswa FK Unisma.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh (IMT); Aktivitas fisik; Vitamin D; Mahasiswa FK
</description>
<pubDate>Mon, 11 May 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14123</guid>
<dc:date>2026-05-11T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Interaksi Ekstrak Bunga Dari Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.,) Dengan Antibiotik Amoksisilin Atau Tetrasiklin Terhadap Aktivitas Staphylococcus Aureus</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14122</link>
<description>Interaksi Ekstrak Bunga Dari Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.,) Dengan Antibiotik Amoksisilin Atau Tetrasiklin Terhadap Aktivitas Staphylococcus Aureus
Wanda, Yumna Hanum Nabila
Pendahuluan: Tingginya angka resistensi Staphylococcus aureus menuntut upaya peningkatan efektivitas terapi antibakteri melalui strategi pengobatan kombinasi. Penggunaan agen adjuvan berbahan alam herbal yang kaya metabolit sekunder berpeluang besar memperkuat aktivitas antibiotik konvensional tersebut. Bunga telang (Clitoria ternatea L.) terbukti memiliki aktivitas antibakteri yang baik, namun studi mengenai interaksinya jika dikombinasikan dengan antibiotik masih sangat terbatas.&#13;
Metode: Studi eksperimental laboratorium in vitro ini menggunakan metode Ameri-Ziaei Double Antibiotic Synergism Test (AZDAST) untuk mengevaluasi interaksi antibakteri dari kombinasi ekstrak bunga telang 50% b/v (pelarut etanol, n-heksana, dan etil asetat) dengan amoksisilin atau tetrasiklin (cakram 30 µg) terhadap Staphylococcus aureus berdasarkan pengukuran diameter zona hambat.&#13;
Hasil: Zona hambat (ZOI) kombinasi amoksisilin dengan ekstrak etanol memiliki rata-rata tertinggi (55.06 ± 1.45 mm) dibandingkan etil asetat (52.38 ± 2.60 mm) dan n-heksana (52.12 ± 4.26 mm), namun secara statistik ketiga kombinasi tersebut tidak berbeda signifikan terhadap Staphylococcus aureus. Sementara itu, ZOI kombinasi tetrasiklin dengan ekstrak etil asetat (42.24 ± 3.03 mm) terbukti secara signifikan lebih besar daripada ekstrak etanol (37.76 ± 2.85 mm), sedangkan ekstrak n-heksana (37.86 ± 1.87 mm) menunjukkan efektivitas yang tidak berbeda nyata dengan keduanya.&#13;
Kesimpulan: Interaksi kombinasi amoksisilin dengan ekstrak etanol dan etil asetat bunga telang (Clitoria ternatea L.,)  bersifat sinergis, sedangkan dengan ekstrak n-heksana bersifat not distinguishable. Sementara itu, kombinasi tetrasiklin dengan ketiga pelarut ekstrak tersebut seluruhnya menunjukkan interaksi not distinguishable terhadap Staphylococcus aureus.&#13;
&#13;
Kata Kunci: Clitoria ternatea L., Amoksisilin, Tetrasiklin, Staphylococcus aureus, Zona Hambat, AZDAST
</description>
<pubDate>Thu, 02 Apr 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14122</guid>
<dc:date>2026-04-02T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>Pengaruh Variasi Diet Terhadap Perubahan Struktur Glomerulus Dan Kerusakan Tubulus Ginjal Ikan Zebra Betina (Danio rerio)</title>
<link>https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14120</link>
<description>Pengaruh Variasi Diet Terhadap Perubahan Struktur Glomerulus Dan Kerusakan Tubulus Ginjal Ikan Zebra Betina (Danio rerio)
Pramesti, Niken Aramita
Pendahuluan: Obesitas pada ikan zebra (Danio rerio) dapat diinduksi melalui pemberian diet tinggi lemak. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan gangguan fungsi ginjal, termasuk berkembangnya penyakit ginjal kronis (PGK) sebagai akibat kerusakan nefron. Berdasarkan hal tersebut, Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji respons jaringan ginjal ikan zebra betina (Danio rerio) terhadap induksi beberapa variasi diet melalui evaluasi perubahan struktur glomerulus dan gambaran kerusakan tubulus secara histopatologis.&#13;
Metode: Penelitian ini menerapkan rancangan eksperimental menggunakan ikan zebra (Danio rerio) betina sebagai hewan uji. Sebanyak 24 ekor ikan dibagi secara acak ke dalam empat kelompok perlakuan, masing-masing terdiri atas enam ekor. Kelompok perlakuan meliputi kelompok kontrol yang hanya diberi pelet (P), kelompok pelet yang dikombinasikan dengan kuning telur (PKT), kelompok pelet yang ditambahkan kolesterol (PK), serta kelompok yang diberi artemia (A). Pemberian pakan dilakukan selama 28 hari dengan dosis harian sebesar 3,5% dari BB pada kelompok P, 5% pada kelompok PKT dan PK, serta 6–7% pada kelompok A. Pakan diberikan tiga kali setiap hari. Evaluasi histopatologi mencakup pengukuran diameter glomerulus, lebar kapsula Bowman, serta penilaian vakuolisasi tubulus. Data kuantitatif hasil pengukuran dari glomerulus dan kapsula Bowman dilakukan uji One-Way ANOVA, sedangkan jumlah vakuolisasi tubulus sebagai data semikuantitatif diuji statistik dengan uji nonparametrik Kruskal–Wallis.&#13;
Hasil &amp; Pembahasan: Peningkatan diameter glomerulus pada kelompok PKT (33.85 ± 1.85 µm) berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol (26.48 ± 2.66 µm). Begitu pula lebar kapsula Bowman mengalami peningkatan pada kelompok PKT (10.86 ± 1.87 µm) berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kelompok pelet (P) (4.66 ± 0.79 µm). Jumlah vakuolisasi tubulus pada kelompok PKT berada pada skor 2 dan 3 berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kelompok lainnya dengan skor 2 (p&lt;0.05). Di antara seluruh kelompok perlakuan, kelompok PKT memperlihatkan tingkat kerusakan ginjal yang paling tinggi. &#13;
Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi diet pelet yang dikombinasikan dengan kuning telur selama periode 28 hari mampu menyebabkan perubahan struktur glomerulus dan vakuolisasi tubulus secara signifikan pada ikan zebra betina. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa formulasi diet PKT dapat dipertimbangkan sebagai pendekatan untuk menginduksi obesitas sekaligus komplikasi ginjal pada model ikan zebra betina (Danio rerio).&#13;
Kata Kunci: Danio rerio betina, variasi diet, histopatologi ginjal
</description>
<pubDate>Mon, 13 Jul 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">https://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14120</guid>
<dc:date>2026-07-13T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
