Show simple item record

dc.contributor.authorKhoiriyah, Lailatul
dc.date.accessioned2021-01-26T04:29:33Z
dc.date.available2021-01-26T04:29:33Z
dc.date.issued2021-01-26
dc.identifier.urihttp://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/1541
dc.description.abstractBerbicara tentang ideologi yang terbentuk pada penokohan di dalam novel tentunya sangat beragam, dan yang sering kali menarik perhatian adalah perihal penokohan terhadap tokoh perempuan. Novel-novel dengan karakter penokohan tokoh perempuan yang kuat, sering kali menjadi perbincangan bahkan menjadi topik hangat untuk diperdebatkan, khususnya yang berkaitan dengan seksualitas. Jika membahas mengenai seksualitas perempuan, maka tidak akan lepas dari istilah gender beserta perihal kontroversialnya mengenai deskriminasi perempuan hingga tuntutan atas kesetaraan gender. Penelitian ini menjadikan salah satu novel karya Remy Sylado yang berjudul Namaku Mata Hari sebagai objeknya. Kajian feminisme tentang gerakan kesetaraan gender yang akan dibahas dalam penelitian ini akan difokuskan pada politisasi tubuh perempuan. Sesuai dengan fokus penelitian, tujuan penelitian ini yakni untuk mendeskripsikan (1) bentuk politisasi tubuh yang dilakukan oleh tokoh utama dalam Novel Namaku Mata Hari, (2) fungsi dari politisasi tubuh yang dilakukan oleh tokoh utama novel Namaku Mata Hari. Melihat dari tujuan penelitian, maka penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat secara teoritis maupun manfaat praktis. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan bisa menjadi rujukan bagi penelitian lain yang juga berfokus pada feminitas dan feminisme, khususnya politisasi tubuh perempuan. Sedangkan secara teoritis, penelitian ini bisa menjadi tambahan wawasan mengenai feminitas dan feminisme bagi peneliti sastra, penikmat sastra, maupun masyarakat secara umum sehingga mampu membentuk pola pikir yang lebih baik terkait persoalan-persoalan perempuan. Pendekatan dan jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan data penelitian yang di ambil berdasarkan narasi dan dialog tokoh dalam novel. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik pencatatan dan studi pustaka sehingga terdapat beberapa tahap dalam pengumpulan data, yaitu (1) membaca pada tahap simbolik (memahami inti dari isi novel), (2) membaca pada tahap semantik (memahami esensi keseluruhan isi novel), (3) mencatat secara quotasi atau sama persis dengan data yang terdapat pada novel. Kemudian menganalisis data dengan menggunakan model Miles dan Huberman dengan 3 tahap, (1) reduksi data yang berupa identifikasi, klasifikasi, dan pengodean, (2) penyajian data dengan cara mendeskripsikan hasil penelitian sesuai fokus penelitian, dan yang terakhir (3) penarikan kesimpulan berdasarkan hasil penelitian. Hasil penelitian ini mendeskripsikan tentang bagaimana bentuk politisasi tubuh yang dilakukan oleh Mata Hari sebagai tokoh utama dalam novel Namaku Mata Hari karya Remy Sylado. Berdasarkan data yang ditemukan dalam novel, dapat diketahui bahwa ada dua bentuk politisasi tubuh yang dilakukan oleh Mata Hari, yaitu profesi sebagai penari dan profesi sebagai pelacur. Data ini sesuai dengan batasan fokus penelitian yang telah ditentukan, yakni politisasi tubuh yang berkaitan dengan profesi bermodalkan kecantikan tubuh perempuan. Bukti bahwa dua profesi yang dilakoni oleh Mata Hari (sebagai penari dan pelacur) dapat dilihat melalui beberapa narasi yang menunjukkan pemikiran sekaligus pengakuan Mata Hari, bahwa memanglah benar jika profesi sebagai penari dan pelacur modal utamanya adalah keceantikan dan kegemulaian tubuh. Selain bentuk-bentuk politisasi tubuh yang dilakukan oleh Mata Hari, penelitian ini juga menjabarkan tentang fungsi-fungsi politisasi tubuh tersebut. Maka berdasarkan data yang ditemukan, fungsi politisasi tubuh yang dilakukan oleh Mata Hari mempunyai fungsi sebagai alat untuk menunjukkan eksistensi dan hak kebebasan bertubuh bagi perempuan di lingkungan sosial, sekaligus menjadi bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki yang pada abad – 19 masih sangat kental. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa Mata Hari sebagai tokoh utama dalam novel melakukan politisasi tubuh dalam profesinya sebagai penari dan pelacur dengan fungsinya sebagai hak kebebasan bertubuh bagi perempuan dan mewujudkan gerakan kesetaraan gender. Mata Hari juga menjadi simbol kecantikan dan kekuasaan seorang perempuan dengan memanfaatkan tubuh perempuannya, hingga tercatat sebagai tokoh perempuan di balik Perang Dunia I. Gambaran kisah seorang Mata Hari menjadi salah satu bentuk transendensi perempuan dengan menggunakan kesadaran penuh tentang feminitasnya, menuju gerakan feminismenya. Ditinjau dari hasil temuan dalam penelitian ini yang masih minim terkait politisasi tubuh perempuan, maka disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk dapat lebih memperdalam pembahasan terkait politisasi tubuh perempuan.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherUniversitas Islam Malangen_US
dc.subjectgerakan kesetaraan genderen_US
dc.titlePolitisasi Tubuh pada Gerakan Kesetaraan Gender oleh Tokoh Utama Novel Namaku Mata Hari Karya Remy Syladoen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record