Show simple item record

dc.contributor.authorBukhori, Imam
dc.date.accessioned2023-01-27T02:46:55Z
dc.date.available2023-01-27T02:46:55Z
dc.date.issued2022-06-24
dc.identifier.urihttp://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/6468
dc.description.abstractPesantren Zainul Hasan (PZH) Genggong merupakan sebuah entitas budaya tersendiri yang memiliki nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang khas, yang tidak sama dengan pesantren lain ataupun masyarakat sekitarnya. Bagi santri yang belajar di PZH Genggong, terutama santri baru, ketika memasuki pesantren mereka memasuki lingkungan baru, suasana baru, bahkan nilai-nilai dan kebiasan kebiasaan yang mungkin belum mereka kenal. Dengan demikian mereka akan berinteraksi dengan lingkungan baru, suasana baru, bahkan nilai-nilai dan kebiasan-kebiasaan baru dan berusaha untuk menyesuaikan diri agar bisa nyaman tinggal di PZH Genggong. Proses penyesuaian diri santri di PZH Genggong inilah yang kemudian disebut dengan adaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, memahami dan menganalisis budaya pendidikan keagamaan Islam di PZH Genggong yang mencakup: nilai-nilai budaya dan kebiasaan-kebiasaan pendidikan keagamaan Islam di PZH Genggong; tahapan proses adaptasi santri baru dalam budaya pendidikan keagamaan Islam di PZH Genggong; dan model Pendidikan Islam Multikultural pada adaptasi santri dalam budaya pendidikan keagamaan Islam di PZH Genggong. Untuk itu, dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif karena pada hakekatnya pendekatan ini mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya. Peneliti menganalisis kata-kata, melaporkan pandangan pandangan yang dikumpulkan dari para informan secara rinci dan melakukan penelitian dalam situasi alamiah. Dan metode yang digunakan adalah etnografi yakni pendekatan empiris dan teoritis yang bertujuan untuk memberi suatu gambaran holistik subyek penelitian dengan penekanan pada pemotretan pengalaman sehari-hari individu dengan mengamati dan mewawancarai mereka dan orang lain yangberhubungan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi, serta penentuan sumber data melalu purposive sampling. Sedangkan analisis data menggunakan analisis data model analisis interaktif Miles-Huberman dan analisis etnografi Spradley. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Nilai-nilai yang ada PZH Genggong terdiri dari nilai Satlogi Santri dan Sembilan Budi Utama Santri yang berasaskan pada nilai moral, nilai religius dan nilai ilmiah. Nilai-nilai moral yang ada dalam Satlogi Santri adalah S (Sopan Santun) A (Ajeg/Istiqomah) dan N (Nasehat). Sedangkan nilai-nilai moral yang terdapat dalam Sembilan Budi Utama santri antara lain Sopan Santun, Jujur, Amanah, Disiplin, Tanggung Jawab Menghormati Guru dan Orang Tua. Nilai-nilai religius yang tercermin dari Satlogi Santri anta lain T (Taqwallah) R (Ridhallah) I (Ikhlas Lillahi Ta’ala). Sedang dalam Sembilan Budi Utama Santri nilai-nilai religious ini tercermin dalam Taqwallah, dan Cinta Ibadah. Dan nilai-nilai ilmiah yang tercermin dalam Sembilan Budi Utama Santri selanjutnya adalah nilai-nilai ilmiah yakni Cinta Ilmu dan Visioner. Selain itu PZH Genggong juga menjunjung sanad keilmuan dan sanad tarakat Naqsyabandiyah: 2) Kebiasaan-kebiasaan di PZH Genggong terstruktur dalam kegiatan Yaumiyyah, Usbu’iyyah, Syahriyyah, dan Sanawiyyah; dan merupakan ekspresi dari nilai-nilai Satlogi Santri dan Sembilan Budi Utama Santri; 3) Proses adaptasi santri dalam budaya PZH Genggong melalui beberapai proses tahapan antara lain persiapan fisik dan psikis sebelum mondok (preparation for change), fase mondok itu menyenangkan (phase 1 –honeymoon), fase tidak betah di pondok (phase 2 -frustation), fase belajar menjadi santri yang baik (phase 3 - readjustment), dan terakhir adalah fase menjadi santri PZH Genggong (phase 4 - resolution) dengan menggunakan mekanisme coping, stimuli, internalisasi, indoktrinasi dan respon; 4) Model Pendidikan Islam Multikultural melalui proses adaptasi santri dalam budaya PZH Genggong terdiri dari beberapa komponen yakni: 1) nilai-nilai utama yang ada di PZH Genggong yang terakumulasi dalam Satlogi Santri dan Sembilan Budi Utama Santri, 2) struktur sosial PZH Genggong terdiri dari atas individu dan masyarakat, lingkungan dan kebiasaan, 3) interaksi sosial yakni proses adaptasi yang merupakan proses penyesuaian diri santri dengan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan di PZH Genggong, dan 4) fungsi sosial sebagai output dari proses adaptasi santri dalam budaya PZH Genggong adalah terjadinya transformasi nilai-nilai Satlogi Santri dan Sembilan Budi Utama Santri yang kemudian terekspresi dalam kebiasaan-kebiasaan santri sehingga terjadi harmoni sosial dalam kehidupan santri di PZH Genggong. Oleh karena itu hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan dalam memahami proses adaptasi, terutama bagi santri baru, saat mereka memasuki pesantren yang memiliki nilai-nilai dan seperangkat kebiasaan yang khas. Bagi pemangku kebijakan pendidikan, penelitian ini bisa dijadikan sebagai referensi dan acuan dalam mengembangkan nilai, kegiatan, kebiasaan untuk menciptakan budaya Islami dalam rangka memfasilitasi proses tumbuh kembang santri/peserta didik yang memiliki karakter inklusif, moderat yang berbasis pada pendidikan Islam multikultural yang menghargai kearifan dan budaya lokal sebagai generasi penerus bangsa agar tercipta harmoni dalam kehidupan masyarakat.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherUniversitas Islam Malangen_US
dc.subjectAdaptasien_US
dc.subjectBudaya Pendidikan Keagamaan Islamen_US
dc.titleADAPTASI SANTRI DALAM BUDAYA PENDIDIKAN KEAGAMAAN ISLAM (Kajian Etnografi di Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo)en_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record