Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Sirih (Piper Betle) Dengan Konsentrasi Yang Berbeda Terhadap Daya Tetas Telur Dan Sintasan Larva Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
Abstract
Ketersediaan ikan nila (Oreochromis niloticus) ditunjang oleh penetasan telur (Hatching Rate), yang dipengaruhi oleh faktor internal dan ekstrnal serta faktor lain seperti penyakit. Mikroorganisme yang biasa menyerang telur ikan yaitu jamur, bakteri, protozoa. Daun sirih merupakan suatu tanaman yang dapat digunakan untuk proses daya tetas telur. Daun sirih mengandung katekin, tanin, flavonoid dan minyak atsiri yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba. Tujuan penelitian ini yaitu untuk membandingkan pengaruh konsentrasi ekstrak daun sirih (Piper betle) terhadap daya tetas telur dan sintasan larva ikan nila (Oreochromis niloticus) yang berbeda dan juga menentukan konsentrasi ekstrak daun sirih (Piper betle) yang optimal dalam mendukung daya tetas telur dan sintasan larva ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Februari 2023 yang berlokasi di Desa Capang Krajan Purwodadi, Pasuruan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dimana terdapat 5 perlakuan yaitu P0: Kontrol tanpa diberi perlakuan, P1: 0,08 mL/L ekstrak daun sirih, P2: 0,16 mL/L ekstrak daun sirih, P3: 0,24 mL/L ekstrak daun sirih, P4: 0,32 mL/L ekstrak daun sirih. Pada setiap perlakuan terdapat 4 kali ulangan. Analisis data menggunakan uji ANOVA dan dilanjut dengan uji BNT apabila terdapat perbedaan nyata pada perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh ekstrak daun sirih terhadap daya tetas telur dan juga pada sintasan larva ikan nila (Oreochromis niloticus) yang mana pada perlakuan P3 dengan konsentrasi 0,24 mL/L dengan keberhasilan 78,6% untuk daya tetas telur dan sintasan larva pada perlakuan terbaik P3 dengan konsentrasi 0,24 mL/L dengan keberhasilan 80% merupakan hasil terbaik pada penelitian yang dilakukan, sedangkan daya tetas telur dan sintasan larva yang paling rendah terjadi pada perlakuan P4 yang mana pada konsentrasi 0,32 mL/L dengan keberhasilan daya tetas telur 59,2% dan sintasan larva 57% , pada penelitian ini menunjukkan hasil yang kurang baik, dimana penetasan telur kurang sempurna dan tingkat kelangsungan hidup pada perlakuan ini juga kurang maksimal karena adanya konsentrasi tinggi bersifat toksik bagi telur ikan.
