Penggunaan Bahasa yang Merepresentasikan Dominasi Kekuasaan dan Perlawanannya dalam Novel Orang-Orang Oetimu Karya Felix K. Nesi
Abstract
Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pembentuk dan pelestari kekuasaan. Dalam karya sastra, bahasa menjadi medium penting dalam merepresentasikan relasi kuasa antara pihak yang mendominasi dan pihak yang terdominasi. Novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi menampilkan realitas sosial- politik di mana kekuasaan hadir dalam berbagai bentuk dan menghasilkan praktik dominasi yang berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Namun, di balik dominasi tersebut, terdapat bentuk-bentuk perlawanan yang juga dimediasi melalui bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana bahasa digunakan untuk merepresentasikan dominasi kekuasaan dan bentuk-bentuk perlawanan terhadapnya dalam novel tersebut. Novel Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi merupakan karya sastra yang menampilkan realitas social politik masyarakat Nusa Tenggara Timur dengan cukup kompleks. Dalam novel ini, kekuasaan tidak ditampilkan secara represif semata, tetapi berlangsung melalui bahasa yang membujuk, mengatur, dan menciptakan kepatuhan secara sukarela. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bahasa digunakan oleh tokoh-tokoh tertentu untuk merepresentasikan dominasi kekuasaan, serta bagaimana bentuk perlawanan terhadap dominasi tersebut juga diwujudkan melalui praktik bahasa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis praktik-praktik bahasa
yang digunakan untuk mempertahankan maupun menentang dominasi kekuasaan dalam novel tersebut. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis wacana kritis model Norman Fairclough. Populasi penelitian adalah keseluruhan teks dalam novel Orang-Orang Oetimu, sedangkan sampel penelitian berupa kutipan-kutipan yang mengandung indikasi dominasi kekuasaan dan perlawanan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan mempertimbangkan relevansi data terhadap fokus penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, pembacaan intensif, dan pencatatan kutipan-kutipan yang relevan. Data dianalisis melalui tiga dimensi utama dalam analisis wacana kritis, yaitu dimensi teks, praktik wacana, dan praktik sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dominasi kekuasaan dalam novel direpresentasikan melalui penggunaan bahasa yang bersifat otoritatif, imperatif, dan mengandung ideologi institusi seperti militer, gereja, dan negara. Sementara itu, perlawanan terhadap dominasi tersebut muncul melalui penolakan eksplisit, penggunaan ironi, kritik tersembunyi dalam narasi, serta pembalikan makna dalam dialog tokoh. Bahasa menjadi arena ideologis yang memperlihatkan pertarungan antara kekuasaan dominan dan upaya resistensi dari tokoh-tokoh yang mengalami ketertindasan.
Simpulannya, penggunaan bahasa dalam novel ini tidak hanya menampilkan kekuasaan sebagai struktur dominatif, tetapi juga menunjukkan adanya ruang-ruang perlawanan yang dibangun melalui strategi bahasa. Novel ini menjadi cerminan dinamika kekuasaan dan perjuangan dalam masyarakat, sekaligus menunjukkan bagaimana bahasa dapat menjadi alat perlawanan yang efektif terhadap hegemoni yang menindas.
