Objek Pemajuan Kebudayaan Banyuwangen dalam Cerita Anak Dwibahasa Terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur
Abstract
Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) secara khusus ataupun kebudayaan secara umum memiliki peran penting dalam membentuk identitas dan menjaga jati diri bangsa. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus untuk menjaga kelestariannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan media sastra. Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur memiliki langkah strategis sebagai alat pelestarian kebudayaan dan bahasa tersebut, yaitu melalui sayembara penulisan cerita anak dwibahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemetaan kebudayaan Banyuwangen yang termuat dalam cerita anak berbahasa Indonesia-Using terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, deskripsi naratif dan visualisasinya, pajanan istilah berbahasa Using, nilai budaya dalam cerita, serta relevansinya terhadap pembelajaran sastra di sekolah.
Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif-kualitatif. Rancangan penelitian yang digunakan adalah sastra anak berbantuan antropologi sastra. Data dalam penelitian ini adalah narasi berupa kata, frasa, klausa, kalimat, atau wacana dan visualisasi yang memuat informasi kebudayaan tradisional Banyuwangen. Sumber data dalam penelitian ini adalah 20 judul buku sebagaimana pada latar penelitian. Data dikumpulkan dengan memanfaatkan berbagai metode, yaitu dokumentasi, penelusuran naratif dan visualisasi, serta kuisioner. Data temuan dianalisis menggunakan berbagai teknik pula, yang meliputi analisis tematik, analisis narasi dan visualisasi, analisis linguistik, analisis nilai budaya, dan analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat tujuh Objek Pemajuan Kebudayaan Banyuwangen yang dimuat, meliputi permainan rakyat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, ritus/upacara adat, kesenian, adat-istiadat, dan bahasa. Struktur naratif cerita dari karakter yang memiliki peran ideologis, tindakan/perbuatan (meliputi lack, villainy, difficult task, hero, complicity, solution,dan receipt), serta penderita. Terdapat pula tiga karakter khas suku Using yang teridentifikasi, yaitu ladyak, aclak, dan bingkak. Narasi ini didukung dengan visualisasi yang memadai, tetapi beberapa perlu dilakukan penyesuaian kembali dengan objek yang nyata untuk memaksimalkan keabsahannya. Dalam cerita-cerita anak yang dikaji, ditemukan pajanan istilah sejumlah 33 kata. Nilai-nilai kebudayaan yang teridentifikasi berupa nilai keamanan (berupa keamanan keluarga dan kesehatan), nilai prestasi (berupa ambisi dan cakap), kedermawanan (berupa persahabatan sejati dan suka menolong), pengarahan diri (berupa mandiri, ingin tahu, memiliki tujuan, kreativitas), nilai kesesuaian berupa kepatuhan, dan nilai tradisi (berupa merawat tradisi dan taat beragama). Objek pemajuan kebudayaan Banyuwangen yang terdapat dalam 20 buku cerita anak berbahasa Indonesia-Using terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur tergolong sangat memadai untuk dapat diterapkan dalam pembelajaran sastra di sekolah sebagai usaha untuk penciptaan rasa bangga terhadap budaya dan sadar akan multikultiralisme dalam diri anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan bagi (1) peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian lanjutan, (2) bagi penulis cerita anak agar memaksimalkan objek-objek pemajuan kebudayaan lainnya yang belum dimanfaatkan sebagai ide cerita, dan (3) bagi guru sastra di sekolah agar memanfaatkan penggunaan kata-kata arkais berbahasa Using untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran sastra di sekolah.
