Show simple item record

dc.contributor.authorNurmalayani, Ayu
dc.date.accessioned2026-01-08T03:08:16Z
dc.date.available2026-01-08T03:08:16Z
dc.date.issued2025-03-05
dc.identifier.urihttp://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12468
dc.description.abstractPada penelitian proses akulturasi budaya dan syariat Islam tidak akan luput dari nilai-nilai pendidikan yang terkadung didalamnya. Pulau Lombok dikenal dengan nama Suku Sasak. Hal yang dapat menarik perhatian penulis yaitu masyarakat Bayan hingga saat ini masih memelihara dan menjaga budaya yang mereka anut sejak nenek moyang mereka, terdapat banyak upacara-upacara ada yang mereka laksanakan hingga saat ini di Masji Kuno. Dengan begitu peneliti tertarik untuk membahas tentang (1). Proses pertemuan antara syariat Islam dan budaya Wetu Telu Desa Bayan Kabupaten Lombok Utara. (2) Apa saja persamaan dan perbedaan antara syariat Islam dan budaya Wetu Telu Desa Bayan Kabupaten Lombok Utara (3) Konsep nilai-nilai pendidikan syariat Islam dan budaya Wetu Telu Desa Bayan Kabupaten Lombok Utara. Jenis penelitian ini mengunakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah Observasi, Wawanncara langsung dan Dokumentasi. Sedangkan metode analisis yang digunakan analisis kualitatif non statistic. Hasil penelitian menujukkan bahwa dalam proses pertemuan antara syariat Islam dan budaya Wetu Telu ini melalui proses akulturasi dimana melalui tiga tahap yaitu: pertemuan Islamisasi dan Pembentukan Identitas Bayan, penanaman Islamisasi era Tuan Guru, dan puncak Islamisasi Tuan Guru. Oleh karena itu budaya Wetu Telu ini adalah contoh akulturasi budaya yang baik dimana tidak ada unsur paksaan dan juga peperangan di dalamnya tentu hal tersebut terjadi dikarenakan Islam masuk dengan menerapkan nilai-nilai akulturasi yang tadi telah dijelaskan, Persamaan dan perbedaan yang terdapat dalam syariat Islam dan budaya Wetu Telu adalah acara Merosok atau meratakan gigi bagi anak yang sudah beranjak dewasa atau hendak ingin menikah, kemudian tradisi Sembahyang,Maleman Fitrah dan, Nginatang yang dilakukan oleh masyarkat Wetu Telu merupakan tradisi yang mendatangkan kebaikan dan tidak melenceng dari syariat Islam dan termasuk dalam bagian kewajiban dalam syariat Islam untuk melaksakannya. Begitupula dengan ritual Goiru Mahdah seperti Rowah Wulan dan Jumat Sampet,Malem Qunutan, Selamatan bubur putek dan selamatan bubur Abang, lebaran tobat, Ngurisang, Begawe Pati, Buang Au, Lebaran Tinggi, Lebaran Kontek, Mulud, Merosok. Nilai pendidikan yang terkandung dari hasil akulturasi antara Syariat Islam dengan budaya Wetu Telu yaitu pendidikan Multikultural.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherUniversitas Islam Malangen_US
dc.subjectAkulturasien_US
dc.subjectNilai-nilai Pendidikanen_US
dc.subjectSyariat Islamen_US
dc.subjectBudaya Wetu Teluen_US
dc.titleAkulturasi Nilai-Nilai Pendidikan Syariat Islam dalam Budaya Wetu Telu di Desa Bayan Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Baraten_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record


PRISMA Knowledge Center
Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Islam Malang
Telp: 0341-581613, Fax.: 0341-552249
Jln. MT. Haryono 193, Kota Malang