Evaluasi Kebijakan Sistem Inovasi Daerah (SIDA) Dalam Meningkatkan Produktivitas Pertanian (Studi Kasus Petani Apel Desa Gubuklakah Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang)
Abstract
Malang merupakan daerah di Jawa Timur yang dikenal sebagai penghasil apel dalam skala besar, terutama di Kecamatan Poncokusumo yang terdiri dari 17 desa, dengan sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Salah satu desa yang paling produktif dalam menghasilkan apel adalah Desa Gubuklakah, dengan jumlah penduduk sekitar 3.466 jiwa dan sekitar 1.352 di antaranya bekerja sebagai petani. Pada tahun 2017, Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Malang meluncurkan program Sistem Inovasi Daerah (SIDa) bekerja sama dengan Kemenristek Dikti dan Balitbangda Provinsi Jawa Timur, dengan tujuan memulihkan produksi apel melalui pendekatan Agro Ekowisata yang mencakup klaster sapi perah, apel, sayuran, serta industri kreatif seperti makanan, minuman, dan kerajinan rakyat.
Namun, dalam pelaksanaannya, program ini masih menghadapi sejumlah kendala, salah satunya adalah terbatasnya akses petani terhadap teknologi dan informasi pertanian modern. Banyak petani masih bergantung pada metode budidaya konvensional yang menghambat peningkatan produktivitas secara optimal. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kebijakan SIDa dalam menangani permasalahan petani apel di Desa Gubuklakah, yang dilatarbelakangi oleh penurunan produksi, alih fungsi lahan, kualitas apel yang menurun, mahalnya harga pupuk, dan kompleksitas proses budidaya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, mengandalkan data primer dan sekunder dari observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman dengan mengacu pada teori evaluasi kebijakan Stuart S. Nagel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program SIDa di Desa Gubuklakah masih menghadapi tantangan besar dalam hal efisiensi, efektivitas, dan keberlanjutan. Secara khusus, efisiensi program terganggu oleh terbatasnya akses serta rendahnya pemahaman petani terhadap teknologi pertanian modern seperti irigasi hemat air, pupuk hayati, dan metode tanam terpadu, yang disebabkan oleh rendahnya literasi teknologi, minimnya pendampingan, serta kurangnya pelatihan praktis yang menyasar kelompok petani kecil.
Kata Kunci : Evaluasi Kebijakan Sistem Inovasi Daerah
