| dc.description.abstract | Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya kasus perundungan (bullying) yang terjadi di berbagai lembaga pendidikan, termasuk di lingkungan pesantren. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam seharusnya menjadi tempat pembinaan akhlak dan karakter, namun tidak jarang ditemukan praktik kekerasan terselubung dalam relasi sosialnya. Lembaga yang idealnya menjadi pusat pembinaan akhlak dan spiritual. Kemudian macam-macam bullying kadang dibungkus atas nama “pendidikan karakter”. Pentingnya menginternalisasi nilai-nilai moderasi beragama melalui hidden curriculum dalam pondok pesantren.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana nilai-nilai moderasi beragama diinternalisasikan melalui hidden curriculum, bagaimana proses implementasinya, serta bagaimana hasil dari implementasi tersebut sebagai bentuk tindak preventif terhadap tindak bullying di Pondok Pesantren Sabilurrosyad Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sebagaimana dikembangkan oleh Miles & Huberman. Analisis juga dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola-pola implementasi nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari santri. Penafsiran data dilakukan dengan menggunakan teori implementasi kebijakan Van Meter & Van Horn (1975) untuk mengkaji tahapan dan faktor pendukung implementasi nilai-nilai, teori sistem ekologi sosial Bronfenbrenner (1979) untuk melihat keterkaitan antar lapisan lingkungan dalam pembentukan perilaku santri, serta konsep moderasi beragama menurut Marzuki Mustamar dan Abuddin Nata untuk memahami karakteristik Islam wasathiyah yang ditanamkan dalam hidden curriculum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai moderasi beragama seperti tawassuth (moderat), i’tidal (adil), tasamuh (toleran), dan cinta tanah air ditanamkan melalui pembiasaan sosial, keteladanan tokoh pesantren, serta interaksi yang egaliter antar santri. Proses implementasi dilakukan secara kultural dan struktural melalui sistem pembinaan senior-junior yang membina, bukan menindas, serta komunikasi yang terbuka dalam penyelesaian konflik. Hasil implementasi menunjukkan bahwa lingkungan pesantren menjadi inklusif dan minim tindak kekerasan; santri memiliki karakter moderat, empatik, dan sadar sosial. Dengan demikian, hidden curriculum berbasis nilai-nilai moderasi beragama efektif menjadi strategi preventif terhadap tindak bullying di lingkungan pesantren. | en_US |