| dc.description.abstract | Banjir merupakan bencana yang kerap terjadi di Indonesia, khususnya saat musim
hujan. Kecamatan Bolo di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, termasuk wilayah
yang rawan banjir akibat kondisi topografi dataran rendah dan meluapnya sungai.
Sayangnya, belum tersedia data spasial yang memetakan tingkat kerawanan banjir di
wilayah ini secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan
daerah rawan banjir menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan pendekatan
skoring dan pembobotan.
Hasil dari penelitian ini adalah Lima parameter utama yang digunakan dalam
analisis ini yaitu curah hujan, kemiringan lereng, jenis tanah, penggunaan lahan, dan
buffer sungai. Setiap parameter diberi bobot dan skor berdasarkan tingkat pengaruhnya
terhadap risiko banjir, lalu dilakukan proses overlay untuk mendapatkan peta kerawanan
banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 46,65 km² (59,90%) wilayah termasuk dalam
kategori sangat rawan banjir, 17,22 km² (22,11%) dalam kategori Rawan, dan 14,01 km²
(17,99%) termasuk wilayah aman dari banjir. Luas wilayah yang terdampak sebagai
daerah rawan banjir di Kecamatan Bolo adalah sebesar 70,76 km² atau 93,52% dari total
luas wilayah penelitian, Luasan ini terdiri terdiri dari dua kelas kerawanan, yaitu rawan
dan sangat rawan.
Faktor yang paling dominan mempengaruhi kerawanan adala kemiringan lereng
yang sebagian besar berupa dataran dengan kemiringan 0–8%., yang dominan berada
pada dataran rendah dengan pemanfaatan lahan sebagai ladang dan tegalan, serta jenis
tanah Chromic Luvisols yang mempunyai hari infiltrasi rendah, serta penggunaan Lahan
sebagai ladang dan tegalan juga memperburuk potensi banjir. Daerah dalam jarak 0–25
meter dari sungai termasuk zona sangat rawan. Penelitian ini merekomendasikan evaluasi
sistem drainase permukiman, dilakukan pengukuran topografi, Pengembangan bangunan
pengendali banjir seperti kolam retensi, embung, dan tanggul dapat menjadi solusi teknis
yang direkomendasikan. | en_US |