Show simple item record

dc.contributor.authorSalma, Jihan Fadlia Azza Nehro Al Amirus
dc.date.accessioned2026-01-22T05:13:38Z
dc.date.available2026-01-22T05:13:38Z
dc.date.issued2025-03-11
dc.identifier.urihttp://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/12664
dc.description.abstractSertifikasi halal memiliki peran penting dalam perlindungan konsumen, terutama bagi konsumen Muslim yang membutuhkan jaminan terkait produk yang mereka konsumsi. Di Indonesia, penerapan sertifikasi halal diatur dalam Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal, yang mewajibkan semua produk yang beredar di negara ini untuk bersertifikat halal. Namun, masih terdapat tantangan dalam efektivitas pelaksanaannya, termasuk inkonsistensi regulasi dan rendahnya kesadaran masyarakat. Peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat penting dalam memastikan kepatuhan terhadap sertifikasi halal, karena lembaga ini bertanggung jawab dalam penerbitan fatwa halal. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan kasus, dan pendekatan konseptual. Pendekatan perundang-undangan dilakukan dengan menganalisis regulasi yang mengatur sertifikasi halal, sedangkan pendekatan kasus digunakan untuk mengkaji putusan pengadilan terkait sengketa sertifikasi halal. Pendekatan konseptual diterapkan dengan menelaah teori dan doktrin tentang perlindungan konsumen serta kepatuhan hukum dalam kerangka sertifikasi halal. Bahan hukum dianalisis secara kualitatif melalui interpretasi sistematis terhadap sumber hukum primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun sistem sertifikasi halal telah diatur secara hukum, pelaksanaannya masih menghadapi hambatan akibat pengawasan regulasi yang terbatas dan kurangnya sosialisasi kepada pelaku usaha. Banyak usaha kecil dan menengah (UKM) kesulitan memenuhi persyaratan akibat kompleksitas birokrasi dan kendala finansial. Selain itu, terdapat perbedaan interpretasi standar halal antara lembaga pemerintah dan MUI, yang kadang-kadang menimbulkan ketidakpastian hukum. Penelitian ini juga menemukan bahwa konsumen sering kali kurang memahami hak mereka dalam menuntut jaminan halal, sehingga menimbulkan celah dalam penegakan hukum. Kesimpulannya, efektivitas sertifikasi halal di Indonesia perlu diperkuat melalui peningkatan penegakan regulasi, peningkatan kesadaran masyarakat, serta kolaborasi yang lebih baik antara pemerintah dan MUI. Studi ini merekomendasikan agar proses sertifikasi lebih transparan dan mudah diakses guna mendorong kepatuhan di kalangan pelaku usaha. Selain itu, pemerintah perlu meningkatkan pengawasannya dan memastikan keselarasan hukum yang lebih baik antara berbagai badan regulasi. Peningkatan edukasi konsumen tentang jaminan halal juga diperlukan untuk menjembatani kesenjangan informasi dan memastikan perlindungan yang lebih baik bagi konsumen Muslim.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherUniversitas Islam Malangen_US
dc.subjectSertifikasi halalen_US
dc.subjectPerlindungan konsumenen_US
dc.subjectUndang-Undang No. 33 Tahun 2014en_US
dc.subjectMajelis Ulama Indonesiaen_US
dc.subjectPenegakan hukumen_US
dc.titleKedudukan Sertifikasi Halal Menurut UU No 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal dan Peran Majlis Ulama Indonesia sebagai Upaya Perlindungan Konsumenen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record


PRISMA Knowledge Center
Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Islam Malang
Telp: 0341-581613, Fax.: 0341-552249
Jln. MT. Haryono 193, Kota Malang