Potensi Antiinflamasi Ekstrak Metanol Kulit Buah Matoa (Pometia Pinnata) Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar (Rattus novergicus)
Abstract
Pendahuluan: Tanaman matoa merupakan tanaman asli Papua Barat yang secara empiris digunakan sebagai pengobatan peradangan. Senyawa metabolit sekunder yang terkandung diantaranya flavonoid, saponin, tanin, dan alkaloid yang diidentifikasi memiliki manfaat dapat menjaga imunitas tubuh. Pemanfaatan bagian kulit buahnya yang jarang digunakan, menjadikan aktivitas antiiflamasi ekstrak metanol kulit buah matoa sebagai tujuan pada penelitian ini.
Metode: Simplisia kulit buah matoa diekstraksi menggunakan metode Ultrasound-Assisted Extraction dengan penggunaan pelarut metanol. Hasil ekstrak dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Dilakukan skrining fitokimia pada ekstrak dengan penambahan reagen tertentu. Pengujian antiiflamasi dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif CMC-Na, kontrol positif asam mefenamat dan tiga kelompok dosis ekstrak metanol kulit buah matoa dengan masing-masing dosis 50;100 dan 200 mg/kgBB. Setiap kelompok menggunakan 5 ekor tikus. Karagenan 1% sebagai metode induksi inflamasi pada kaki tikus secara subplantar. Pengamatan dilakukan selama 6 jam dengan pengukuran setiap 1 jam menggunakan alat pletismometer. Dilanjutkan perhitungan AUC volume edema dan persentase inhibisi inflamasi. Hasil yang didapatkan dilakukan analisa statistik uji Post-hoc LSD (p<0,05).
Hasil: Uji skrining fitokimia menunjukkan adanya kandungan senyawa flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin. Efek antiinflamasi tertinggi terdapat pada dosis 200 mg/kgBB dengan nilai AUC total 7,39 mL jam dan persentase inhibisi inflamasi 18,64%. Pengujian analisa statistik menunjukkan kelompok perlakuan dosis memiliki perbedaan signifikan terhadap kelompok kontrol positif (p<0,05).
Kesimpulan: Aktivitas antiinflamasi ekstrak metanol kulit buah matoa tertinggi yaitu pada dosis 200 mg/kgBB.
Kata Kunci: antiinflamasi; metanol; Pometia pinnata
