Pengaruh Pemberian Kapsul Daun Benalu Teh (Scurrulla Artroprupurea (Bl.) Dans) Dan Benalu Mangga (Dendrophthoe Petandra) 3: 1 Terhadap Kadar Hemoglobin, Jumlah Eritrosit Serta Indeks Eritrosit Pada Individu Sehat Di Malang
Abstract
Gusti Linggan Alfais. Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Malang. Pengaruh Pemberian Daun Benalu Teh (Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans) dan Benalu Mangga (Dendrophthoe petandra) 3:1 Terhadap Kadar Hemoglobin,Jumlah Eritrosit Serta Indeks Eritrosit Pada Individu Sehat Di Malang. Pembimbing 1: Erna Sulistyowati. Pembimbing 2: Aris Rosidah.
Pendahuluan: Penggunaan tanaman obat sebagai terapi adjuvan semakin banyak diminati karena potensinya dalam meningkatkan kesehatan serta berperan sebagai pelengkap pengobatan konvensional. Kombinasi ekstrak daun benalu teh (Scurrula atropurpurea (Bl.) Dans) dan benalu mangga (Dendrophthoe pentandra) dalam rasio 3:1 (BTBM 3:1) dipilih berdasarkan potensi antioksidan dari kedua jenis tanaman benalu tersebut. Berbagai studi in silico, in vitro, dan in vivo telah menunjukkan bahwa kombinasi BTBM memiliki beragam aktivitas farmakologis. Namun demikian, aspek keamanan konsumsi BTBM pada manusia belum pernah dievaluasi secara ilmiah, sehingga diperlukan uji klinis fase 1 yang dalam penelitian ini direpresentasikan melalui analisis profil eritrosit yang terdiri dari kadar hemoglobin, jumlah eritrosit dan indeks eritrosit.
Metode: Penelitian uji klinis fase 1 ini melibatkan 28 individu sehat (n = 28 orang) yang berdomisili di Kota Malang dan telah memenuhi kriteria inklusi. Subjek penelitian dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok plasebo (n = 13 orang) dan kelompok perlakuan (n = 15 orang) yang menerima kombinasi BTBM 3:1. Penggunaan plasebo dilakukan sebagai pembanding untuk menilai efek yang benar-benar ditimbulkan oleh BTBM 3:1, sehingga dapat meminimalkan bias efek psikologis (placebo effect) yang mungkin terjadi pada kelompok perlakuan. Dosis harian yang diberikan pada kelompok perlakuan adalah sebesar 560 mg ekstrak daun benalu teh dan 187 mg ekstrak daun benalu mangga selama 15 hari. Pemberian BTBM dilakukan secara oral dan dilaksanakan di bawah pengawasan setiap pagi hari di kediaman masing-masing peserta, termasuk pemantauan tanda vital dan pencatatan keluhan selama masa intervensi. Pengambilan sampel darah dilakukan dua kali, yaitu sebelum intervensi (pre-test) dan setelah intervensi (post-test). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Wilcoxon signed-rank test, dengan tingkat signifikansi ditetapkan pada p < 0,05.
Hasil dan Pembahasan: Pada kelompok laki-laki, terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik pada parameter Mean Corpuscular Volume (MCV) dan Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC), masing-masing dengan nilai p = 0,028. Sementara itu, parameter lain seperti kadar hemoglobin (p = 0,496), jumlah eritrosit (p = 0,445), Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) (p = 0,915), dan Red Cell Distribution Width (RDW) (p = 0,051) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.Pada kelompok perempuan, perbedaan yang bermakna secara statistik juga ditemukan pada nilai MCV dan MCHC dengan nilai (p = 0,028). Sementara itu, parameter jumlah eritrosit (p = 0,309), kadar hemoglobin (p = 0,159), MCH (p = 0,340), dan RDW (p = 0,310) tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.
Kesimpulan: BTBM 3:1 yang diberikan pada individu sehat selama 15 hari tidak menunjukkan perubahan yang bermakna terhadap parameter kadar Hb, jumlah eritrosit, MCH, dan RDW. Perubahan signifikan didapatkan pada parameter MCV dan MCHC, tetapi perubahan tersebut masih berada dalam batas normal dan tidak disertai efek samping klinis yang teramati selama periode intervensi. Oleh karena itu,dapat disimpulkan bahwa pemberian BTBM 3:1 dalam jangka pendek relatif aman diberikan pada individu sehat.
Kata Kunci : Scurrula atropurpurea BI. Dans, Dendrophthoe petandra, kadar hemoglobin, jumlah eritrosit,indeks eritrosit, uji klinik fase 1
