Pengaruh Jenis Pelarut Terhadap Metabolit Sekunder Dan Kadar Total Flavonoid Ekstrak Kayu Siwak (Salvadora Persica) Dengan Maserasi Kinetik
Abstract
Eria Nada Ramadhan. Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder Dan Kadar Flavonoid Ekstrak Kayu Siwak (Salvadora persica) Dengan Maserasi Kinetik. Pembimbing 1: Rio Risandiansyah. Pembimbing 2: Citra Destya Rahma Putri.
Pendahuluan: Kayu siwak secara empiris digunakan untuk membersihkan gigi, karena diketahui memiliki aktifitas antibakteri yang diperantarai oleh kandungan flavonoid didalamnya. Flavonoid dapat menghambat pertumbuhan bakteri, virus, dan jamur. Kadar dan jenis senyawa aktif yang tertarik dari proses ekstraksi tergantung dari sifat pelarut yang digunakan. Penelitian ini bertujuan membandingkan kadar flavonoid total dari kayu siwak dengan pelarut metanol, n-butanol, dan etil asetat.
Metode: Penelitian ini menggunakan design eksperimental laboratorium secara in vitro. Sampel serbuk kayu siwak diekstraksi menggunakan metode maserasi kinetik menggunakan pelarut metanol, n-butanol, dan etil asetat, kemudian hasil ekstraksi dilakukan skrining fitokimia secara kualitatif untuk melihat ada tidaknya senyawa flavonoid, saponin, tanin, fenolik, alkaloid, terpenoid, dan steroid, serta dilakukan skrining fitokimia secara kuantitatif untuk mengetahui kadar senyawa flavonoid pada ekstrak kayu siwak menggunakan spektrometri UV-Vis. Analisa data menggunkan uji ANOVA, dilanjutkan uji komparasi post-hoc.
Hasil: Ekstrak kayu siwak dengan metode maserasi kinetik menunjukkan positif terhadap senyawa metabolit sekunder flavonoid, alkaloid, terpenoid, fenolik, tanin dalam pelarut metanol, n-butanol, dan etil asetat sedangkan saponin hanya negatif dalam pelarut etil asetat. Penetapan kadar senyawa flavonoid menunjukkan etil asetat memiliki kandungan sebanyak 104,4±2,32 mgEQ/g, kemudian n-butanol sebanyak 65,99±2,12 mgEQ/g, dan metanol sebanyak 8,32±1,55 mgEQ/g uji signifikansi ANOVA (P<0,05), hal ini menunjukkan kadar flavonoid dipengaruhi oleh jenis pelarut. Hasil uji komparasi LSD test menunjukkan hasil yang signifikan (p<0,05). Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan kadar total flavonoid berdasarkan variasi pelarut.
Kesimpulan: jenis senyawa fitokimia yang terdapat dalam pelarut metanol dan n-butanol lebih banyak dibandingkan dengan pelarut etil asetat. Kadar flavonoid yang paling tinggi terdapat dalam pelarut etil asetat dan yang terendah pelarut metanol.
Kata Kunci: ekstrak kayu siwak; metanol; etil asetat; n-butanol; flavonoid; saponin; tanin; fenolik; alkaloid; terpenoid; dan steroid.
