Pengembangan Modul Ajar Bahasa Indonesia Responsif Budaya untuk Meningkatkan Literasi Baca Siswa di MTsN Kota Batu
Abstract
Penelitian ini dilatar belakangi oleh kebutuhan akan bahan ajar yang relevan secara kontekstual dan budaya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Materi ajar yang tidak berakar pada lingkungan dan pengalaman siswa sering kali menghambat pemahaman dan minat baca. Oleh karena itu, penelitian ini mengembangkan modul ajar responsif budaya yang mengintegrasikan warisan budaya lokal Malang dan Batu seperti Topeng Malangan, Tari Beskalan, dan Grebeg Suro sebagai konten pembelajaran. Modul ini dirancang untuk meningkatkan literasi baca siswa melalui pendekatan Culturally Responsive Teaching yang menjadikan budaya sebagai jembatan pedagogis dalam memahami teks, khususnya teks laporan hasil observasi.
Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang dibatasi hingga tahap pengembangan. Prosedur penelitian meliputi analisis kebutuhan, desain produk, validasi ahli (materi, bahasa, media), dan uji coba terbatas pada sepuluh peserta didik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul ajar yang dikembangkan memperoleh predikat sangat layak dengan skor kelayakan rata-rata 92,75%. Hasil validasi ahli dan respon positif siswa mengonfirmasi bahwa pendekatan responsif budaya yang mengintegrasikan konten yang dekat dengan kehidupan siswa secara signifikan meningkatkan keterlibatan, kemudahan pemahaman, dan minat belajar terhadap materi teks laporan hasil observasi. Modul ini berkontribusi menyediakan bahan ajar yang kontekstual, mendukung Kurikulum Merdeka, serta menguatkan karakter Pelajar Pancasila. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk tahap implementasi dan evaluasi pada skala yang lebih luas.
Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa modul ini terbukti efektif dan layak digunakan dalam pembelajaran. Selain meningkatkan literasi baca, modul ini juga memperkuat keterlibatan siswa melalui pendekatan budaya yang kontekstual, relevan, dan bermakna. Hasil ini menunjukkan bahwa integrasi budaya lokal dalam bahan ajar tidak hanya mendukung Kurikulum Merdeka, tetapi juga menjadi strategi yang potensial untuk membangun karakter dan identitas peserta didik.
