Penerapan Metode Audio Lingual dalam Pembelajaran BIPA di Anuban Muslim Krabi School Thailand
Abstract
Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menjadi sarana penting untuk memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. Di Thailand, salah satunya di kelas P.6/1 Anuban Muslim Krabi School, pembelajaran bahasa Indonesia dipandang sebagai bahasa asing sehingga membutuhkan metode yang tepat agar sesuai dengan karakteristik siswa. Metode audio lingual dipilih karena menekankan keterampilan mendengar dan berbicara melalui pengulangan dan peniruan. Penelitian ini difokuskan pada tiga aspek, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, dengan tujuan memberikan gambaran yang utuh mengenai penerapan metode tersebut serta manfaatnya bagi proses belajar siswa BIPA.
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, tes hasil belajar, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah 21 siswa tingkat pemula yang mengikuti pembelajaran BIPA selama periode 24 Agustus–22 September 2024. Data dianalisis untuk mendeskripsikan bagaimana metode audio lingual diterapkan dalam konteks kelas multikultural di Anuban Muslim Krabi School.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran dilakukan dengan menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebelum praktik lapangan, kemudian disesuaikan dengan kondisi kelas dan karakteristik siswa. Pelaksanaan pembelajaran berlangsung tiga kali per minggu dengan durasi 50 menit, memanfaatkan teknik repetition drill dan dialog sederhana untuk membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia. Evaluasi dilakukan melalui penilaian formatif (observasi dan tanya jawab) serta sumatif (tes tertulis dan lisan). Dari evaluasi tersebut terlihat bahwa siswa mampu memperkenalkan diri, menyebutkan hobi, serta mengidentifikasi benda di sekitar kelas menggunakan bahasa Indonesia sederhana. Penelitian ini memberikan deskripsi menyeluruh tentang praktik penerapan metode audio lingual dalam pembelajaran BIPA di Thailand, serta menekankan perlunya dukungan media dan integrasi budaya dalam pembelajaran agar pengalaman belajar siswa semakin optimal.
