Model Gaya Bahasa Leila S. Chudori dalam Novel Kontemporer “Laut Bercerita”
Abstract
Penelitian ini bertolak dari pemahaman bahwa gaya bahasa dalam karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetis, melainkan juga sebagai sarana ekspresi ideologis dan representasi sosial. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori merupakan salah satu contoh karya sastra kontemporer yang secara intensif menggunakan kekuatan gaya bahasa untuk menggambarkan trauma sejarah, represi politik, dan perlawanan kolektif di masa Orde Baru. Novel ini menyoroti isu penghilangan paksa aktivis dan pelanggaran hak asasi manusia, dan menghadirkan kisah tersebut melalui bahasa yang puitis, simbolik, dan emosional. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis gaya bahasa yang digunakan dalam novel Laut Bercerita, menganalisis fungsinya dalam membangun narasi dan emosi, serta mengungkap makna sosial dan politik yang direpresentasikan melalui gaya bahasa tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian stilistika. Data utama berupa kutipan-kutipan dari teks novel yang mengandung unsur gaya bahasa, seperti metafora, personifikasi, hiperbola, simile, antitesis, anafora, metonimia, dan sinekdoke. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, yaitu membaca dan mencatat kutipan-kutipan gaya bahasa dalam novel secara sistematis. Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan jenis-jenis gaya bahasa berdasarkan teori Keraf dan Tarigan, serta menginterpretasikan fungsinya dalam membangun imaji, emosi, dan makna sosial-ideologis. Validasi data dilakukan melalui triangulasi teori, diskusi sejawat, dan pengecekan ulang terhadap konsistensi klasifikasi serta interpretasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Leila S. Chudori secara konsisten memanfaatkan gaya bahasa perbandingan (metafora, simile, personifikasi), gaya bahasa pertentangan (antitesis, paradoks), gaya bahasa perulangan (anafora), dan gaya bahasa pertautan (sinekdoke, metonimia). Fungsi-fungsi gaya bahasa dalam novel ini tidak terbatas pada memperindah teks, tetapi juga membangun suasana emosional (duka, kehilangan, ketakutan, harapan), menciptakan imaji yang kuat, dan menghidupkan narasi sejarah dengan pendekatan simbolik. Misalnya, metafora seperti “tepi kematian” digunakan untuk menggambarkan ambang hidup dan mati dalam konteks penahanan dan penyiksaan; sementara personifikasi dan simile digunakan untuk mengekspresikan keterasingan dan penderitaan tokoh utama.
Selain fungsi estetis dan emosional, gaya bahasa dalam Laut Bercerita juga merepresentasikan makna sosial dan politik yang mendalam. Simbol-simbol seperti laut, malam, dan keheningan dimaknai sebagai lambang trauma kolektif, kekuasaan represif, dan perjuangan tanpa suara. Dengan demikian, gaya bahasa dalam novel ini tidak hanya memperkuat struktur naratif, tetapi juga menjadi alat perlawanan simbolik terhadap represi dan lupa sejarah. Keseluruhan temuan ini menunjukkan bahwa karya Leila S. Chudori merupakan contoh bagaimana bahasa sastra mampu menjadi medium kritik sosial dan penyampaian memori kolektif melalui pendekatan stilistika yang kompleks dan bermakna.
