| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap problem ideologi tokoh Kiran dalam novel “Tuhan, Izinkan Aku menjadi Pelacur!” karya Muhidin M. Dahlan dengan perspektif semiotika Roland Barthes. Novel ini menampilkan pertentangan ideologi agama dan patriarki yang menekan kebebasan individu, khususnya perempuan. Tokoh Kiran hadir sebagai representasi subjek yang mengalami konflik batin, kekecewaan, serta perlawanan terhadap hegemoni nilai religius dan budaya patriarkal yang ada di masyarakat.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Data primer berupa narasi, dialog, dan simbol dalam novel, sedangkan data sekunder diambil dari jurnal, buku, dan penelitian terdahulu. Analisis dilakukan melalui tiga lapis penandaan Barthes: denotasi, konotasi, mitos, untuk membongkar makna ideologis yang tersembunyi dalam teks.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa problem ideologi tokoh Kiran tampak pada pertentangan terhadap ideologi agama dan ideologi patriarkal. Pada tingkat denotasi muncul tanda-tanda konflik batin, kekecewaan, dan pencarian identitas baru. Pada konotasi, tindakan Kiran mengandung resistensi terhadap dominasi agama dan patriarki. Sedangkan pada tingkatan mitos, menyingkap naturalisasi ide bahwa perempuan harus tunduk, suci, dan patuh, yang kemudian digugat melalui narasi Kiran. Dengan demikian, novel ini merepresentasikan kritik sosial terhadap ideologi hegemonik yang bekerja di dalam kehidupan masyarakat.
Dalam penelitian ini juga menegaskan bahwa ideologi tidak hanya hadir sebagai sistem gagasan yang bersifat abstrak, melainkan beroperasi secara konkret dalam praktik kehidupan sehari-hari tokoh. Melalui pengalaman Kiran, terlihat bagaimana wacana agama dan budaya patriarki dapat mengekang kebebasan perempuan, namun sekaligus menjadi ruang lahirnya perlawanan.Penelitian ini diharapkan dapat memperluas kajian semiotika sastra
sekaligus membangun kesadaran kritis mengenai problem ideologi, khususnya relasi antara agama, patriarki, dan identitas perempuan.
Kontribusi penelitian ini tidak hanya berfokus pada ranah akademik, namun juga pada ranah sosial. Hasil analisis diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam membaca karya sastra sebagai cermin problem ideologi yang dialami masyarakat. Dengan demikian, novel “ Tuhan, Izinkan Aku menjadi Pelacur!” tidak hanya dipahami sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai wacana kritis. | en_US |