| dc.description.abstract | Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di luar negeri, khususnya di Thailand, masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah keterbatasan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan siswa. Bahan ajar yang digunakan umumnya lebih menekankan aspek kebahasaan dan belum mengintegrasikan unsur budaya Indonesia secara komprehensif. Kondisi tersebut menyebabkan pembelajar mengalami kesulitan dalam memahami bahasa secara kontekstual serta rendahnya pemahaman terhadap nilai-nilai budaya Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan bahan ajar digital yang inovatif dan kontekstual dengan mengintegrasikan nilai budaya lokal sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar digital BIPA tingkat pemula yang mengintegrasikan nilai budaya “Petik Laut” sebagai salah satu kearifan budaya Indonesia. Pengembangan bahan ajar ini diharapkan dapat membantu siswa memahami Bahasa Indonesia sekaligus mengenal nilai-nilai budaya secara terpadu melalui pendekatan pembelajaran yang menarik, mudah dipahami, dan relevan dengan konteks pembelajar. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan hasil analisis kebutuhan bahan ajar BIPA berbasis budaya bagi siswa tingkat pemula di Chariyatham Suksa Foundation School, Thailand, (2) mendeskripsikan proses pengembangan bahan ajar digital BIPA yang mengintegrasikan nilai budaya Petik Laut, serta (3) mendeskripsikan hasil uji kelayakan bahan ajar digital melalui uji coba terbatas.
Metode penelitian yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE yang meliputi lima tahap, yaitu analisis (analysis), perancangan (design), pengembangan (development), implementasi (implementation), dan evaluasi (evaluation). Penelitian ini dibatasi hingga tahap implementasi berupa uji coba terbatas. Tahap analisis dilakukan dengan melibatkan pengajar dan siswa BIPA tingkat pemula di Chariyatham Suksa Foundation School, Thailand. Selanjutnya, bahan ajar digital dikembangkan berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan diuji coba secara terbatas untuk mengetahui tingkat keterbacaan, keefektifan, serta daya tarik bahan ajar bagi pembelajar.
Data penelitian ini diperoleh melalui pengisian angket, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen penelitian yang digunakan meliputi angket analisis kebutuhan, angket keterbacaan, serta tes pemahaman pemelajar. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket kepada pemelajar BIPA, wawancara dengan pengajar BIPA, serta observasi selama proses uji coba penggunaan bahan ajar digital. Uji coba dilaksanakan secara daring sehingga peneliti tidak melakukan kunjungan ulang ke lokasi penelitian. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis kuantitatif digunakan untuk mengolah hasil angket kebutuhan, keterbacaan, dan tes pemahaman yang disajikan dalam bentuk persentase, sedangkan analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan tanggapan pengajar dan pemelajar terhadap bahan ajar digital yang dikembangkan serta memberikan interpretasi terhadap hasil uji coba.
Hasil analisis kebutuhan pengajar BIPA menunjukkan bahwa pengajar memerlukan media pembelajaran yang mampu menunjang proses belajar mengajar secara efektif. Media pembelajaran yang dibutuhkan adalah bahan ajar digital yang bersifat interaktif dan mampu meningkatkan kemampuan berbahasa pemelajar BIPA tingkat pemula. Sementara itu, hasil analisis kebutuhan pemelajar BIPA menunjukkan bahwa 47,1% pemelajar mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran, 23,5% mengalami kesulitan dalam menangkap pesan yang disampaikan dalam materi. Temuan ini menunjukkan bahwa pemelajar membutuhkan bahan ajar yang lebih terstruktur, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik pemelajar BIPA tingkat pemula.
Pada tahap kajian awal (preliminary investigation), ditemukan beberapa permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran BIPA. Pengajar BIPA menyatakan bahwa tidak semua pemelajar tertarik dengan materi yang digunakan sebelumnya sehingga diperlukan strategi yang tepat untuk menghadirkan bahan ajar yang lebih menarik. Selain itu, pengajar juga membutuhkan bahan ajar penunjang yang dapat membantu menjelaskan materi secara kontekstual dan mudah dipahami. Dari sisi pemelajar, ditemukan kendala berupa kesulitan memahami materi pembelajaran serta kesulitan menangkap pesan budaya yang disampaikan dalam bahan ajar.
Tahap perancangan (design) dilakukan dengan menyusun desain bahan ajar digital BIPA tingkat pemula yang mengintegrasikan nilai budaya “Petik Laut”. Desain bahan ajar disesuaikan dengan kebutuhan pemelajar BIPA A1, baik dari segi bahasa, penyajian materi, maupun tampilan visual. Selanjutnya, pada tahap konstruksi atau realisasi (construction/realization), desain yang telah dirancang diwujudkan menjadi produk bahan ajar digital yang konkret dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya Petik Laut ke dalam materi pembelajaran bahasa Indonesia.
Tahap uji cobadilakukan dengan melibatkan guru praktisi, pengajar BIPA, pemelajar BIPA, serta para ahli untuk menilai kelayakan produk. Masukan dan saran yang diperoleh digunakan sebagai dasar perbaikan produk. Pada tahap implementasi (implementation), setelah melalui proses uji coba dan revisi, bahan ajar digital siap digunakan dalam proses pembelajaran BIPA secara nyata.
Hasil pengembangan menunjukkan bahwa bahan ajar digital BIPA tingkat pemula yang mengintegrasikan nilai budaya Petik Laut dinilai layak digunakan. Penilaian kelayakan oleh ahli materi, ahli bahasa, ahli penyajian desain, serta praktisi pembelajaran menunjukkan hasil yang positif. Pengajar dan pemelajar memberikan respons yang baik karena bahan ajar digital ini mampu meningkatkan minat belajar, pemahaman terhadap bahasa Indonesia, serta pemahaman terhadap nilai-nilai budaya Indonesia. Selain itu, bahan ajar digital ini juga mampu menstimulus keterampilan menyimak, membaca, serta pemahaman kosakata secara kontekstual. Penyajian materi dalam bentuk digital yang interaktif memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan pemelajar BIPA tingkat pemula.
Hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa pengajar BIPA memerlukan media pembelajaran yang bersifat konseptual, menarik, dan mudah digunakan untuk membantu menjelaskan materi bahasa Indonesia sekaligus mengenalkan budaya Indonesia kepada pemelajar. Media pembelajaran yang diharapkan mampu menyajikan materi secara sistematis, kontekstual, serta sesuai dengan karakteristik pemelajar BIPA tingkat pemula (A1).
Dari sisi pemelajar, hasil angket menunjukkan bahwa 58,8% pemelajar menyatakan membutuhkan bahan ajar digital sebagai pendukung pembelajaran, 41,2% sangat setuju apabila materi pembelajaran dikemas dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya Indonesia, dan seluruh pemelajar (100%) menyatakan setuju apabila pembelajaran BIPA dilengkapi dengan media yang memuat unsur budaya sebagai konteks pembelajaran bahasa. Selain itu, pemelajar juga menginginkan media pembelajaran yang interaktif, mudah diakses, serta dilengkapi dengan fitur pendukung seperti audio, video, dan kuis untuk membantu pemahaman materi. Temuan ini menegaskan bahwa bahan ajar digital yang mengintegrasikan nilai budaya Petik Laut dipandang penting untuk mendukung pemahaman kosakata, struktur kalimat, serta konteks budaya Indonesia secara lebih menarik dan relevan bagi pemelajar BIPA tingkat pemula.
Penelitian ini berfokus pada pengembangan bahan ajar digital BIPA tingkat pemula (A1) yang mengintegrasikan nilai budaya Petik Laut sebagai media pembelajaran. Hasil analisis karakteristik pemelajar menunjukkan adanya variasi tingkat pemahaman terhadap materi pembelajaran. Pada aspk pemahaman budaya sebanyak 35.3% pemelajar berada pada kategori sangat paham, 41,2% paham, 29.1% cukup paham. Pada aspek pemahaman tema pembelajaran, 29.4% pemelajar berada pada kategori sangat paham, 35.3% paham, dan 5.9% kurang paham. Data tersebut menunjukkan perlunya pengembangan bahan ajar digital yang mampu menjembatani keterbatasan pemahaman pemelajar, khususnya dalam memahami konteks budaya Indonesia.
Penilaian kelayakan produk dalam penelitian pengembangan ini difokuskan pada aspek keefektifan dan efisiensi bahan ajar digital. Keefektifan produk ditinjau dari aspek ketertarikan dan respons pemelajar memperoleh nilai persentase sebesar 82,75%, sedangkan pada aspek keterbacaan memperoleh nilai persentase sebesar 82,13%. Sementara itu, hasil analisis efisiensi produk menunjukkan bahwa penilaian oleh ahli materi memperoleh nilai rata-rata sebesar 85%, penilaian oleh ahli bahasa memperoleh nilai rata-rata sebesar 76% dengan predikat efisien, dan penilaian oleh ahli penyajian desain memperoleh nilai rata-rata sebesar 80% dengan predikat efisien. Hasil tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar digital yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran BIPA tingkat pemula.
Berdasarkan hasil penelitian, pengembang media dan peneliti selanjutnya disarankan untuk terus meningkatkan kualitas bahan ajar digital BIPA, baik dari segi kebahasaan, visualisasi, maupun variasi aktivitas pembelajaran. Selain itu, diperlukan pengujian lebih lanjut terhadap bahan ajar ini pada latar belakang dan jenjang pemelajar BIPA yang berbeda agar diperoleh data yang lebih komprehensif. Pengembangan format digital yang lebih interaktif juga dapat dipertimbangkan guna menyesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran di era digital. | en_US |