| dc.description.abstract | Dialog presiden dengan jurnalis merupakan serangkaian komunikasi politik yang bertujuan untuk memberikan ruang terhadap masyarakat agar dapat berkomunikasi langsung dengan presiden. Komunikasi politik mempunyai peranan penting untuk membentuk persepsi publik terhadap pemimpin negara. Acara dialog “Presiden Prabowo Menjawab” mengandung informasi-informasi penting yang dapat dipahami oleh masyarakat. Namun tidak hanya penyampaian informasi secara langsung, percakapan di dalam acara ini menyiratkan makna-makna tertentu yang dapat ditelaah dengan menggunakan analisis pragmatik. Penelitian ini secara khusus akan memperhatikan implikatur konvensional, yaitu makna tersirat yang muncul dari penggunaan kata atau struktur tertentu secara umum dan telah disepakati secara sosial. Penting untuk memahami bagaimana bahasa dalam komunikasi politik dapat menyiratkan makna tanpa dikatakan secara eksplisit yang dapat memperkuat atau meredam opini publik.
Tujuan penelitian ini sesuai dengan konteks penelitian yang telah disusun, yakni sebagai berikut; (1) mengidentifikasi bentuk dan maksud implikatur konvensional tuturan Presiden Prabowo dalam acara dialog “Presiden Prabowo Menjawab”. (2) menganalisis fungsi tuturan Presiden Prabowo yang mengandung implikatur konvensional dalam acara dialog “Presiden Prabowo Menjawab”.
Secara garis besar penelitian ini terdapat dua pendekatan utama yang digunakan, yakni teoritis dan metodologis. Pendekatan teoritis dengan menggunakan kerangka konseptual analisis pragmatik sebagai fenomena yang sedang diteliti, dengan teori implikatur dari Grice yang digunakan untuk menganalisis implikatur konvensional. Pendekatan metodologis menggunakan metode deskriptif-kualitatif, metode ini dipilih karena untuk menganalisis implikatur konvensional yang mana berupa data bersifat naratif dengan jenis penelitian content analysis. Prosedur pengumpulan data menggunakan teknik simak dan catat, dengan peneliti sendiri sebagai instrumen penelitian yang dibantu dengan tabel penjaring data. Data yang sudah terkumpul dianalisis menggunakan model Mils dan Huberman yakni reduksi data, penyajian data, dan verifikasi (penarikan kesimpulan). Data yang diperoleh diperiksa kredibilitasnya menggunakan teknik triangulasi.
Berdasarkan pemaparan hasil analisis terhadap tuturan Presiden Prabowo dalam acara dialog “Presiden Prabowo Menjawab” adalah sebagai berikut. Pertama, bentuk implikatur konvensional yang terbagi ke dalam dua kategori utama, yaitu konvensi sosio-kultural dan konvensi leksikal khusus. Implikatur konvensional sosio-kultural muncul melalui ungkapan atau ekspresi yang berakar pada kebiasaan, norma, dan nilai budaya masyarakat Indonesia, sedangkan implikatur leksikal khusus teridentifikasi melalui penggunaan kata-kata seperti “tetapi”, “bahkan”, dan “padahal” yang membawa makna tersirat secara konvensional. Kedua, fungsi-fungsi tuturan yang mengandung implikatur konvensional juga mencerminkan berbagai tindak ilokusi seperti asertif, direktif, hingga ekspresif.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa tuturan Presiden Prabowo dalam acara “Presiden Prabowo Menjawab” mengandung implikatur konvensional yang bersumber dari konvensi sosio-kultural dan konvensi leksikal, dengan maksud tersirat yang mendukung pesan politik seperti membangun citra politik, legitimasi kebijakan, memperhalus kritik dan oposisi. Fungsi ilokusi yang dominan adalah asertif, direktif, dan ekspresif. Keterbatasan penelitian mencakup ruang lingkup data yang terbatas, fokus teori tunggal, serta subjektivitas interpretasi. Saran yang diberikan mencakup pengembangan kajian pragmatik berbasis konteks budaya lokal secara teoretis, pemanfaatan hasil penelitian untuk strategi komunikasi publik secara praktis, serta pengembangan penelitian selanjutnya melalui perluasan objek, integrasi teori pragmatik lain, dan pendekatan perbandingan antar bentuk implikatur.
Kata Kunci: Implikatur konvensional, Komunikasi politik, Dialog Presiden | en_US |