| dc.description.abstract | Pendahuluan: Vitamin D merupakan prohormon larut lemak yang disintesis di kulit melalui paparan sinar UV-B dan tersedia dari sumber makanan. Saat ini kondisi kadar vitamin D di Indonesia banyak terjadi defisiensi berkisar antara 60–90% tergantung pada kelompok studi. Defisiensi vitamin D adalah keadaan kadar 25(OH)D serum kurang dari 30 ng/mL yang saat ini menjadi masalah kesehatan di berbagai negara, termasuk pada mahasiswa FK Unisma. Berbagai faktor, termasuk IMT dan aktivitas fisik diduga berperan dalam kadar vitamin D. Namun, belum ada riset mengenai hubungan IMT dan aktivitas fisik dengan kadar vitamin D pada mahasiswa FK UNISMA
Metode: Penelitian studi observasional analitik dengan desain potong lintang pada mahasiswa FK Unisma sebanyak 80 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok yakni IMT dan aktivitas fisik. Pada IMT dikategorikan menjadi 3 yakni kurang (n= 6), normal (n=28) dan lebih (46) sedangkan pada aktivitas fisik terbagi menjadi ringan (n= 23), aktivitas fisik sedang (n=27) dan aktivitas fisik berat (n=30). IMT diukur menggunakan alat pengukuran berat badan dan tinggi badan kemudian dihitung secara sistematis menggunakan rumus berat badan (kg) dibagi tinggi badan (m2), sedangkan aktivitas fisik menggunakan kuesioner International Physical Activity Questionaire (IPAQ), dan kadar vitamin D dalam serum darah diukur menggunakan teknik ELISA.
Hasil & Pembahasan: Tingkat Vitamin D pada kelompok IMT kurang, normal dan lebih berturut- turut adalah 74,49 ± 50,89; 94,41 ± 53,67; 82,63 ± 66,33 (p= 0,356) dengan hasil uji pearson r= -0,028; (p= 0,806). Tingkat Vitamin D pada aktivtas fisik ringan, sedang dan berat berturut- turut adalah 82,62 ± 54,32; 88,79 ± 61,62; 86,00 ± 65,66 (p= 0,939) dengan hasil uji pearson r = 0,020 (p = 0,860). Hasil ini menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar vitamin D dengan IMT dan aktivitas fisik. Hal ini dapat terjadi karena IMT tidak dapat membedakan secara spesifik antara massa lemak, massa tulang, dan massa otot. Tidak ditemukannya korelasi antara aktivitas fisik dengan kadar vitamin D kemungkinan disebabkan karena aktivitas fisik tidak seluruhnya dilakukan di luar ruangan serta kadar vitamin D dipengaruhi oleh faktor lain seperti paparan sinar matahari, pola makan, IMT, dan faktor genetik.
Kesimpulan: Kadar vitamin D tidak berhubungan dengan indeks massa tubuh dan aktivitas fisik pada mahasiswa FK Unisma.
Kata Kunci: Indeks Massa Tubuh (IMT); Aktivitas fisik; Vitamin D; Mahasiswa FK | en_US |