| dc.description.abstract | Media pertumbuhan merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan pertumbuhan fungi, di mana ketersediaan sumber karbon sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan koloni. Limbah Gracilaria sp. pasca-ekstraksi agar masih mengandung selulosa sekitar 30–42% bobot kering yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber karbon alternatif melalui proses hidrolisis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan fungi kontaminan dari limbah Gracilaria sp. pada media padat yang diperkaya hidrolisat selulosa dengan variasi konsentrasi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan: P0 (media PDA sebagai kontrol), P1 (hidrolisat 5% v/v), dan P2 (hidrolisat 10% v/v), masing-masing dengan tiga ulangan dan diinkubasi pada suhu 37°C selama 4 hari. Fungi kontaminan yang diisolasi dari limbah Gracilaria sp. diidentifikasi sebagai Aspergillus sp. berdasarkan pengamatan morfologi makroskopis. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap 24 jam dengan mengukur luas koloni menggunakan rumus keliling dan luas lingkaran. Hasil menunjukkan bahwa kontrol (0%) memiliki rata-rata luas koloni tertinggi (159,20 mm²), diikuti konsentrasi 5% (65,93 mm²) dan 10% (56,40 mm²). Media dengan hidrolisat 10% mengalami adaptasi sebelum pertumbuhan meningkat pada hari keempat. Uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan yang nyata antar perlakuan (p = 0,001). Analisis regresi linier menunjukkan hubungan positif signifikan antara waktu inkubasi dan luas koloni pada seluruh perlakuan, dengan persamaan Y = 0,52 + 63,47X (R² = 0,784) pada konsentrasi 0%, Y = -21,35+34,91X (R² = 0,6648) pada konsentrasi 5%, dan Y = −22,27 + 37,1X (R² = 0,924) pada konsentrasi 10%. Aspergillus sp. mampu tumbuh pada seluruh perlakuan, namun kemampuan media berbasis hidrolisat dalam mendukung pertumbuhan berdasarkan luas koloni masih lebih rendah dibandingkan media PDA standar.
Kata kunci: Aspergillus sp., hidrolisat selulosa, limbah Gracilaria sp., media alternatif, pertumbuhan koloni | en_US |