Collaborative Governance Dalam Pengelolaan Sampah Di Kawasan Wisata (Studi Kasus Pada Pantai Duta, Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo)
Abstract
Pantai Duta merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Probolinggo yang memiliki potensi alam dan keindahan hutan mangrove. Namun, peningkatan jumlah pengunjung setiap tahunnya berdampak pada lonjakan volume sampah yang tidak terkelola dengan baik. Kondisi ini menurunkan daya tarik wisata dan menimbulkan masalah lingkungan.
Penelitian ini menggunakan Teori Collaborative Governance oleh Ratner (2012) yang menggunakan 3 tahap yaitu; identifikasi hambatan dan peluang, strategi debat untuk mempengaruhi dan merencanakan tindakan kolaborasi. Kemudian Teori kedua merujuk pada Manajemen Strategi oleh Wheelen & Hunger (2012) yang menggunakan 4 tahap utama antara lain; pemindai lingkungan, perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi pengendalian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan collaborative governance di Pantai Duta, di mana ditemukan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat, keterbatasan sarana pengelolaan sampah, dan minimnya dukungan pemerintah menjadi penghambat utama dalam pengelolaan sampah. Kedua, Pokdarwis dan pengelola wisata berusaha meningkatkan partisipasi masyarakat melalui sosialisasi dan pelatihan tentang pengelolaan sampah. Ketiga, pengelola wisata berupaya menerapkan sistem 3R (Reduce, Reuse, Recycle), namun implementasinya belum berjalan optimal karena minimnya dukungan teknis dan pendanaan. Tantangan utama dalam pengelolaan sampah di Pantai Duta berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup rendahnya partisipasi masyarakat dan berkurangnya jumlah anggota Pokdarwis, sementara faktor eksternal meliputi kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya mendukung pengelolaan sampah dan ketergantungan pada pihak ketiga dalam proses pengelolaan. Sebagai solusi, penelitian ini merekomendasikan beberapa langkah strategis. Pertama, meningkatkan kesadaran masyarakat melalui edukasi dan sosialisasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Kedua, menyediakan fasilitas pengelolaan sampah yang memadai untuk mendukung penerapan sistem 3R. Ketiga, memperkuat kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta untuk menciptakan pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan collaborative governance dalam pengelolaan sampah di Pantai Duta belum berjalan optimal. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan partisipasi masyarakat, penguatan kebijakan pendukung, dan sinergi antar pemangku kepentingan untuk menciptakan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan menjaga daya tarik kawasan wisata Pantai Duta
Kata Kunci : Collaborative Governance, Pengelolaan Sampah, Pantai Duta
