Analisis Manajemen Breeding Sapi Madura Betina Grade 1 dan 2 Berbasis Kearifan Lokal di Wilayah Sumber Bibit Kabupaten Pamekasan
Abstract
Sapi Madura tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber pangan oleh masyarakat setempat, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat serta mencerminkan status sosial. Keberadaan sapi Madura sebagai bibit unggul tidak lepas dari peran masyarakat setempat dalam melestarikan ternak ini melalui pendekatan berbasis kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi manajemen breeding sapi Madura betina grade 1 dan 2 di wilayah sumber bibit Kecamatan Waru, dengan pendekatan berbasis kearifan lokal.
Metode yang digunakan adalah studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan 36 peternak dengan kriteria memelihara minimal 2 ekor sapi Madura betina grade 1 dan 2, ternak yang dipelihara berumur ≥24-36 bulan, dalam kondisi sehat, sudah pernah beranak, dan tidak sedang bunting. Analisis data menggunakan uji Chi-Square untuk membandingkan data hasil dengan standar ideal. Adapun variabel yang diamati meliputi manajemen breeding aspek pakan, perkandangan, dan sistem perkawinan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik manajemen breeding aspek pakan, perkandangan, dan sistem perkawinan sapi grade 1 dan 2 tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan standar ideal. Namun, jika melihat dari rataannya, manajemen breeding grade 1 cenderung lebih baik dibandingkan dengan grade 2. Jumlah rataan pemberian pakan hijauan adalah 29,89±1,65 kg/ekor/hari (grade 1) dan 25,06±1,81 kg/ekor/hari (grade 2). Rataan jumlah pemberian pakan tambahan tajin adalah 3,11 kg/ekor/hari grade 1) dan 2,06 kg/ekor/hari (grade 2). Luas kandang yang diterapkan peternak grade 1 (88,89%) dan 2 (83,33%) pada umumnya telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mayoritas peternak grade 1 (88,89%) dan 2 (72,22%) menggunakan jenis kandang panggung berbahan dasar kayu dengan atap genteng. Rataan umur berahi pertama adalah 17,11±0,83 bulan (grade 1) dan 17,17±0,86 bulan (grade 2), rataan umur kawin pertama adalah 20,67±0,77 bulan (grade 1) dan 21,17±1,20 bulan (grade 2), serta umur beranak pertama 30,06±0,87 bulan (grade 1) dan 30,50±1,15 bulan (grade 2). Sistem kawin alam masih menjadi pilihan utama bagi peternak grade 1 (68,42%) dan 2 (64,71%). Penggunaan IB lebih sedikit pada grade 1 (31,58%) dibandingkan grade 2 (35,29%). Selain itu, perlakuan khusus terutama pemijatan lebih tinggi 14,28% pada grade 1 dibandingkan dengan grade 2. Model manajemen breeding grade 1 memiliki komponen penyusun yang sama dengan grade 2, tetapi kuantitas setiap komponen berbeda antara grade 1 dan 2.
Kesimpulan penelitian adalah manajemen breeding yang dilakukan peternak grade 1 dan 2 secara umum telah sesuai standar yang ditetapkan. Pemberian pakan hijauan grade 1 (15,32%) dan 2 (18,10%) lebih sedikit dibandingkan dengan standar. Pemberian pakan tambahan tajin grade 1 (11,90%) dan 2 (32,67%) juga lebih sedikit dibandingkan dengan standar. Mayoritas peternak grade 1 dan 2 memiliki kandang sesuai ukuran ideal, dengan menggunakan jenis kandang panggung berbahan dasar kayu dan atap genteng. Capaian umur kawin pertama sapi pada penelitian lebih pendek 40 hari (grade 1) dan 25 hari (grade 2) dibandingkan umur ideal pertama kawin. Sedangkan capaian umur beranak pertama sapi pada penelitian lebih cepat 28 hari (grade 1) dan 15 hari (grade 2) dibandingkan umur ideal pertama kawin. Kawin alam sapi grade 1 lebih tinggi 7,68% dibandingkan sapi grade 2, sedangkan perbandingan kawin IB lebih rendah 19,99%. Saran dari penelitian ini adalah perlunya regulasi daerah terkait pencatatan kawin alam pemacek unggul guna mencegah inbreeding di wilayah sumber bibit, terutama grade 1 dan diikuti dengan pemetaan pemacek unggul sapi Madura berbasis IoT. Selain itu, perlu adanya dukungan penuh pemerintah terhadap kebudayaan lokal sapi dalam rangka menjaga eksistensi keberadaan bibit unggul sapi Madura.
