Variasi Fenotipe, Profil Morfometri dan Performa Reproduksi Sapi Madura Betina pada Berbagai Grade di Wilayah Sumber Bibit Kabupaten Pamekasan
Abstract
Sapi Madura merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli Indonesia yang berkembang baik di Pulau Madura. Tantangan dalam menjaga sapi lokal adalah menjaga angka populasi sapi Madura bibit berkualitas agar tidak terjadi seleksi negatif. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis variasi fenotipe, profil morfometri dan performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade di Wilayah Sumber Bibit Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Materi yang digunakan adalah sapi Madura betina sebanyak 120 ekor yang dikelompokkan berdasarkan grade dengan rentangan umur 30-36 bulan, dalam kondisi sehat, tidak sedang bunting dan pernah melahirkan minimal satu kali. Variabel penelitian adalah sifat kualitatif, profil morfometri, dan performa reproduksi. Data variasi fenotipe sifat kualitatif, profil morfometri, dan performa reproduksi dianalisis menggunakan uji Chi-square, sedangkan analisis Q-Q plot dengan menggunakan software SPSS.
Hasil uji Chi-square variasi fenotipe sifat kualitatif sapi Madura betina pada berbagai grade hasil penelitian dibandingkan Standar Nasional Indonesia (SNI) sifat kualitatif sapi Madura tidak berbeda nyata (P>0,05). Variasi fenotipe sifat kualitatif sapi Madura betina pada grade 1, 2, dan 3 yang sesuai dengan SNI berturut-turut adalah 96,67%, 95,24%, dan 93,75% serta yang tidak sesuai dengan SNI adalah 3,33%, 4,76%, dan 6,25%. Profil morfometri pada tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada sapi Madura betina pada berbagai grade dibandingkan SNI tinggi pundak, panjang badan, dan lingkar dada sapi Madura tidak berbeda nyata (P>0,05). Rataan profil morfometri sapi Madura betina grade 1, 2, dan 3 pada tinggi pundak (134,27 ± 2,85 cm, 128,14 ± 1,39 cm, dan 125,23 ± 1,70 cm), panjang badan (136,30 ± 2,64 cm, 130,52 ± 1,93 cm, dan 126,50 ± 1,92 cm), dan lingkar dada (172,20 ± 4,04 cm, 163,26 ± 3,88 cm, dan 152,71 ± 3,20 cm). Performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade dibandingkan standar ideal tidak berbeda nyata (P>0,05). Rataan performa reproduksi sapi Madura betina grade 1, 2, dan 3 pada umur pertama berahi (17,30 ± 1,02 bulan, 17,48 ± 1,04 bulan, dan 17,96 ± 1,13 bulan), umur pertama kawin (20,17 ± 1,74 bulan, 20,52 ± 1,89 bulan, dan 20,90 ± 2,04 bulan), umur pertama beranak (30,43 ± 2,25 bulan, 30,76 ± 2,26 bulan, dan 30,98 ± 2,18 bulan), nilai S/C (1,30 ± 0,60 kali, 1,33 ± 0,61 kali, dan 1,40 ± 0,61 kali) serta nilai CR (76,67%, 73,81%, dan 66,67%). Hasil analisis Q-Q Plot didapatkan perbandingan profil morfometri dan performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade berdistribusi normal, tetapi pada profil morfometri lebih bervariasi grade 1 dibandingkan grade 2 dan 3, sedangkan pada performa reproduksi pada umur pertama berahi dan umur pertama kawin grade 2 lebih lebih bervariasi dibandingkan grade 1 dan 3, serta pada umur pertama beranak grade 3 lebih lebih bervariasi dibandingkan grade 1 dan 2.
Kesimpulan penelitian ini adalah variasi fenotipe sifat kualitatif pada berbagai grade masih sesuai dengan SNI sapi Madura tetapi ada penyimpangan sifat kualitatif pada garis telinga di bawah 5% pada grade 1 dan 2 serta di atas 5% pada grade 3 dari sapi Madura hasil penelitian. Profil morfometri sapi Madura pada berbagai grade masih sesuai dengan SNI sapi Madura, tetapi ada kecenderungan rataan morfometri sapi Madura hasil penelitian lebih tinggi 1,72-2,50% (grade 1), 1,70-2,68% (grade 2), dan 1,81-3,69% (grade 3) dibandingkan dengan SNI sapi Madura. Performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade masih sesuai dengan standar ideal, tetapi ada kecenderungan rataan performa reproduksi sapi Madura hasil penelitian lebih baik dibandingkan dengan standar ideal yaitu pada umur pertama berahi, umur pertama kawin, dan umur pertama beranak lebih baik 3,89%, 8,33%, dan 1,83% atau lebih pendek 21 hari, 55 hari dan 17 hari (grade 1), 2,91%, 6,71%, dan 0,77% atau lebih pendek 15 hari, 44 hari dan 7 hari (grade 2), serta 0,23%, 5,02%, dan 0,07% atau lebih pendek 1 hari, 33 hari dan kurang dari sehari (grade 3). Nilai S/C dan CR lebih baik 18,75% dan 11,67% (grade 1), 16,67% dan 8,81% (grade 2), dan 12,76% dan 1,67% (grade 3) dibandingkan dengan standar ideal sapi betina. Perbandingan profil morfometri dan performa reproduksi sapi Madura betina pada berbagai grade berdasarkan analisis Q-Q Plot berdistribusi normal. Saran penelitian adalah untuk seleksi bibit sapi Madura hendaknya berdasarkan sifat kualitatif dan kuantitatif termasuk garis hitam telinga yang merupakan ciri khas sapi Madura dan hendaknya dilakukan seleksi sapi Madura betina grade 1 lebih ketat agar terjadi seleksi positif serta perlu adanya upaya peningkatan kerjasama antara pemerintah dan peternak dalam memperketat SOP manajemen pemeliharaan sapi Madura yang baik dengan membuat peta potensi genetik sapi Madura garde 1, 2, dan 3 di masing-masing wilayah.
