Implementasi Model Pembelajaran Thinking Aloud Pair Problem Solving (TAPPS) untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika dan Kemampuan Komunikasi Matematis Materi Bangun Ruang Sisi Datar pada Siswa Kelas VII MTs Almaarif 02 Singosari
Abstract
Kemampuan pemecahan masalah matematika dan kemampuan komunikasi matematis merupakan dua kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap peserta didik dalam pembelajaran matematika. Latar belakang penelitian ini didasari oleh rendahnya kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan soal matematika serta kesulitan dalam menyampaikan ide atau gagasan secara runtut dan jelas. Kondisi ini diketahui berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan terhadap guru mata pelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan implementasi model pembelajaran Thinking Aloud Pair Problem Solving (TAPPS) untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika dan kemampuan komunikasi matematis materi bangun ruang sisi datar pada siswa kelas VII MTs AlMaarif 02 Singosari, (2) mendeskripsikan hasil peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dan kemampuan komunikasi matematis setelah diterapkannya model pembelajaran Thinking Aloud Pair Problem Solving (TAPPS) materi bangun ruang sisi datar pada siswa kelas VII MTs AlMaarif 02 Singosari.
Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan dua siklus yang masing-masing siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Instrumen yang digunakan meliputi lembar observasi guru dan peserta didik, tes tertulis, wawancara dan catatan lapangan. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas VII-A di MTs AlMaarif 02 Singosari dengan sejumlah 24 peserta didik. Penelitian dilaksanakan pada semester Genap tahun ajaran 2024/2025 dengan materi bangun ruang sisi datar.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model TAPPS mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika dan kemampuan komunikasi matematis kelas VII-A MTs AlMaarif 02 Singosari. Proses pembelajaran dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu: (1) kegiatan pendahuluan, membuka dengan salam dan menyapa peserta didik, kemudian menyampaikan informasi terkait pembelajaran yang akan dilaksanakan, (2) kegiatan inti, guru mengajak peserta didik untuk mengamati benda-benda disekitar yang mirip dengan bangun kubus dan balok. Kemudian guru menerapakan model TAPPS yang dibagi menjadi tiga tahap utama, yaitu thinking aloud, pair, dan problem solving, dan (3) kegiatan penutup, guru membimbing peserta didik untuk menyimpulkan materi yang dipelajari, lalu menutup kegiatan dengan doa bersama dan salam.
Peningkatan dalam proses pembelajaran terlihat dari berbagai aspek. Pertama, hasil observasi terhadap peserta didik menunjukkan peningkatan, yaitu dari 65,6% pada siklus I dengan kategori cukup baik, menjadi 91,2% pada siklus II dengan kategori “sangat baik”. Observasi terhadap guru juga meningkat dari 70% (kategori “baik”) pada siklus I menjadi 89,12% (kategori “sangat baik”) di siklus II. Hasil tes akhir peserta didik juga menunjukkan peningkatan. Pada siklus I, nilai rata-rata kelas adalah 35,27 dengan tingkat ketuntasan belajar sebesar 59,63% kategori “cukup baik”. Pada siklus II, nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 83,09 dengan tingkat ketuntasan mencapai 90,91% dengan kategori “sangat baik”. Selain itu, hasil wawancara peserta didik terhadap penggunaan model TAPPS juga menunjukkan hasil positif. Pada siklus I, respon peserta didik sebesar 50% dengan kategori “baik”, kemudian meningkat menjadi 83,3% pada siklus II dengan kategori “sangat baik”.
