| dc.description.abstract | Ekspansi perdagangan digital memaksa usaha mikro dan kecil untuk menyempurnakan pendekatan perhitungan biaya mereka agar tetap kompetitif. Sistem perhitungan biaya tradisional yang banyak digunakan oleh UMKM seringkali gagal menangkap konsumsi sumber daya riil, terutama untuk iklan online, operasi platform, pengemasan, dan aktivitas interaksi pelanggan. Studi ini mengevaluasi penerapan metode Activity-Based Costing (ABC) di Sakabonsai, usaha mikro bonsai yang beroperasi di Shopee, untuk meningkatkan ketepatan biaya dan pengukuran profitabilitas penjualan. Dengan menggunakan studi kasus kualitatif deskriptif (November–Desember 2024), data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur, dan catatan keuangan dari Shopee Seller Centre. Perhitungan ABC mengungkapkan biaya unit sebesar Rp62.541 (Kecil), Rp258.164 (Menengah), dan Rp499.566 (Besar), menghasilkan keuntungan masing-masing sebesar Rp12.459; Rp71.836; dan Rp150.434. Nilai-nilai ini secara signifikan lebih rendah daripada yang dihasilkan oleh perhitungan biaya tradisional, yang mencerminkan dimasukkannya biaya overhead digital dan aktivitas operasional oleh ABC. Tren laba bulanan menunjukkan defisit pada bulan November karena iklan yang tidak efisien, diikuti oleh pemulihan margin pada bulan Januari–Februari setelah penyesuaian promosi. Hasil menunjukkan bahwa bonsai ukuran Sedang dan Besar menyerap biaya overhead lebih efektif dan menghasilkan pengembalian yang stabil, sementara produk ukuran Kecil lebih sensitif terhadap biaya dan berfungsi lebih baik sebagai barang pengantar daripada penggerak pendapatan utama. Secara keseluruhan, ABC memberikan informasi biaya yang lebih akurat dan mendukung keputusan strategis terkait penetapan harga, anggaran promosi, dan prioritas produk untuk UMKM di pasar digital.
Kata kunci: Activity-Based Costing, UMKM, Profitabilitas, Shopee, Bisnis Hortikultu | en_US |