Pelanggaran Kesantunan Berbahasa pada Interaksi antar Siswa Kelas XI Dan XIIi SMA Miftahul Anwar Pamekasan
Abstract
Pelanggaran kesantunan berbahasa kerap terjadi dalam lingkungan sekolah, baik secara lisan maupun tulisan, termasuk dalam interaksi antar-siswa. Hal ini dapat berupa penggunaan kata-kata kasar, nada bicara yang tidak sopan, tindakan menyela pembicaraan, hingga bentuk sindiran atau ejekan. Fenomena tersebut dapat dilihat dari tuturan siswa kelas XI dan XII SMA Miftahul Anwar Pamekasan. Banyak siswa di SMA Miftahul Anwar Pamekasan menunjukkan bahasa yang kurang sopan saat berbicara dengan guru dan teman sebaya. Faktor yang mempengaruhi sikap tidak menghargai siswa terdapat pada lingkungan, media sosial dan pergaulan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelanggaran kesantunan berbahasa, faktor penyebab terjadinya pelanggaran, serta implikasinya dalam interaksi antar-siswa di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data penelitian berupa tuturan siswa kelas XI dan XII yang diperoleh melalui teknik rekam, simak, dan catat. Analisis data yang dilakukan yaitu dengan cara menetapkan objek penelitian, observasi langsung serta pengambilan rekaman dan yang terakhir dokumentasi dan pencatatan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran kesantunan berbahasa yang paling dominan terjadi pada interaksi antar-siswa adalah tuturan yang mengandung unsur merendahkan, menyindir, memaksakan kehendak, serta kurang menunjukkan rasa empati terhadap lawan tutur. Faktor penyebab pelanggaran kesantunan meliputi faktor kebiasaan berbahasa di lingkungan pergaulan, kondisi emosional penutur, kedekatan hubungan sosial, serta kurangnya pemahaman terhadap norma kesantunan berbahasa. Pelanggaran tersebut berdampak pada hubungan sosial siswa, seperti munculnya konflik, kesalahpahaman, dan menurunnya keharmonisan komunikasi di lingkungan sekolah.
Dengan demikian, kesantunan berbahasa perlu ditanamkan melalui pembiasaan komunikasi yang baik, pembelajaran bahasa yang kontekstual, serta peran guru dalam memberikan teladan berbahasa santun agar tercipta interaksi yang harmonis di lingkungan pendidikan.
