Kemampuan Menyusun Teks Berita pada Siswa di Kelas VII SMPN 3 Ngantang Satu Atap
Abstract
Kemampuan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang penting, khususnya dalam menyusun teks berita yang menuntut ketepatan struktur, unsur, dan kaidah kebahasaan yang sesuai. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya keterampilan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum merdeka dan masih ditemukannya berbagai permasalahan pada siswa SMP dalam menyusun teks berita, terutama dalam menerapkan struktur teks, melengkapi unsur 5W+1H, serta penggunaan kaidah kebahasaan secara tepat. Kesenjangan penelitian terletak pada terbatasnya kajian terdahulu yang menganalisis kemampuan menulis teks berita secara menyeluruh, khususnya siswa kelas VII, karena umumnya hanya berfokus pada satu atau dua aspek teks berita serta melibatkan siswa kelas VIII. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis menyeluruh terhadap tiga aspek sekaligus, yaitu struktur, unsur 5W+1H, dan kaidah kebahasaan, dengan subjek siswa kelas VII serta memanfaatkan media digital sebagai acuan penulisan.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VII SMPN 3 Ngantang Satu Atap yang terletak di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang dalam menyusun teks berita ditinjau dari struktur, unsur, dan kaidah kebahasaan teks berita. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif dengan jenis analisis isi. Data penelitian berupa 20 teks berita hasil tulisan siswa kelas VII A, yang dikumpulkan melalui tes dan dokumentasi, serta didukung oleh observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan mengkaji kemunculan dan ketepatan setiap aspeknya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kemampuan siswa dalam menyusun teks berita tergolong cukup baik dalam aspek tertentu. Sebagian besar siswa telah mampu menyusun struktur teks berita secara lengkap dengan aspek yang paling dikuasai adalah judul dan kepala berita, sedangkan kelemahan ditunjukkan pada aspek tubuh dan ekor berita. Unsur 5W+1H belum sepenuhnya terpenuhi secara merata. Serta, siswa masih mengalami kesulitan dalam penerapan kaidah kebahasaan.
Implikasi penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi guru dalam merancang pembelajaran menulis teks berita yang lebih terarah dan berkelanjutan, dan menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya untuk dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan penelitian sejenis dengan subjek yang lebih luas, serta
sebagai dasar untuk mengkaji strategi, model, atau metode pembelajaran yang lebih efektif, khususnya untuk meningkatkan penggunaan unsur mengapa (why) dan penerapan kaidah kebahasaan yang masih lemah, seperti penggunaan bahasa baku, konjungsi bahwa, dan kata kerja mental. Adapun keterbatasan dalam penelitian ini terletak pada segi ruang lingkup yang hanya pada satu kelas dan jumlah subjek yang terbatas.
