Show simple item record

dc.contributor.authorYudistira, Muhammad Ivan Eka
dc.date.accessioned2026-07-24T03:33:36Z
dc.date.available2026-07-24T03:33:36Z
dc.date.issued2026-02-08
dc.identifier.urihttps://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/13803
dc.description.abstractMusik alternatif di Indonesia berkembang tidak hanya sebagai bentuk ekspresi estetis, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang merefleksikan kegelisahan generasi muda terhadap ketimpangan, ketidakadilan, dan relasi kuasa. Album Gelap Gempita karya Band Sukatani hadir dalam konteks tersebut dengan lirik-lirik yang bersifat konfrontatif dan sarat pesan kritik sosial. Meskipun kajian terhadap lirik musik kritik sosial telah banyak dilakukan, penelitian yang secara khusus menelaah bagaimana pendengar memaknai, menegosiasikan, dan merespons pesan kritik sosial tersebut masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk memahami peran audiens sebagai subjek aktif dalam proses pemaknaan musik kritik sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji resepsi pendengar terhadap lirik lagu dalam album Gelap Gempita karya Band Sukatani dengan fokus pada bentuk resepsi, proses interpretasi dan negosiasi makna, serta faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan pemaknaan pendengar. Pertanyaan utama penelitian diarahkan pada bagaimana pendengar, khususnya mahasiswa dan generasi muda, memaknai kritik sosial yang disampaikan melalui lirik-lirik lagu dalam album tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan studi resepsi sebagai kerangka utama analisis. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap pendengar aktif album Gelap Gempita di komunitas musik independen. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman serta didasarkan pada teori encoding–decoding Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi pendengar terhadap lirik lagu dalam album Gelap Gempita terbagi ke dalam tiga posisi pembacaan, yaitu dominan, negosiasi, dan oposisi. Sebagian pendengar menerima pesan kritik sosial secara utuh sebagai representasi realitas sosial yang mereka alami, sementara sebagian lainnya menegosiasikan makna sesuai dengan pengalaman personal dan konteks sosial masing-masing. Terdapat pula pendengar yang menempati posisi oposisi dengan menolak atau mereduksi pesan kritik sosial dalam lirik lagu. Perbedaan resepsi tersebut dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman sosial, keterlibatan emosional, serta orientasi ideologis pendengar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa makna kritik sosial dalam musik tidak bersifat tunggal, melainkan terbentuk melalui interaksi dinamis antara teks, konteks, dan audiens. Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya perspektif resepsi dalam kajian musik kritik sosial serta memperkaya pemahaman tentang peran musik sebagai media alternatif dalam pembentukan kesadaran kritis. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas subjek dan konteks kajian serta mengombinasikan pendekatan resepsi dengan analisis media digital guna melihat dinamika pemaknaan musik dalam ruang daring. Kata kunci: resepsi pendengar, lirik lagu, kritik sosial, musik alternatif, Band Sukatani.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherUniversitas Islam Malangen_US
dc.subjectresepsi pendengaren_US
dc.subjectlirik laguen_US
dc.subjectkritik sosialen_US
dc.subjectmusik alternatifen_US
dc.subjectBand Sukatanien_US
dc.titleResepsi Pendengar Lirik Lagu pada Album "Gelap Gempita" Karya Band Sukatanien_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record


PRISMA Knowledge Center
Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Islam Malang
Telp: 0341-581613, Fax.: 0341-552249
Jln. MT. Haryono 193, Kota Malang