Resepsi Pendengar Lirik Lagu pada Album "Gelap Gempita" Karya Band Sukatani
Abstract
Musik alternatif di Indonesia berkembang tidak hanya sebagai bentuk ekspresi estetis, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang merefleksikan kegelisahan generasi muda terhadap ketimpangan, ketidakadilan, dan relasi kuasa. Album Gelap Gempita karya Band Sukatani hadir dalam konteks tersebut dengan lirik-lirik yang bersifat konfrontatif dan sarat pesan kritik sosial. Meskipun kajian terhadap lirik musik kritik sosial telah banyak dilakukan, penelitian yang secara khusus menelaah bagaimana pendengar memaknai, menegosiasikan, dan merespons pesan kritik sosial tersebut masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk memahami peran audiens sebagai subjek aktif dalam proses pemaknaan musik kritik sosial.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji resepsi pendengar terhadap lirik lagu dalam album Gelap Gempita karya Band Sukatani dengan fokus pada bentuk resepsi, proses interpretasi dan negosiasi makna, serta faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan pemaknaan pendengar. Pertanyaan utama penelitian diarahkan pada bagaimana pendengar, khususnya mahasiswa dan generasi muda, memaknai kritik sosial yang disampaikan melalui lirik-lirik lagu dalam album tersebut.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif dengan studi resepsi sebagai kerangka utama analisis. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap pendengar aktif album Gelap Gempita di komunitas musik independen. Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman serta didasarkan pada teori encoding–decoding Stuart Hall.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa resepsi pendengar terhadap lirik lagu dalam album Gelap Gempita terbagi ke dalam tiga posisi pembacaan, yaitu dominan, negosiasi, dan oposisi. Sebagian pendengar menerima pesan kritik sosial secara utuh sebagai representasi realitas sosial yang mereka alami, sementara sebagian lainnya menegosiasikan makna sesuai dengan pengalaman personal dan konteks sosial masing-masing. Terdapat pula pendengar yang menempati posisi oposisi dengan menolak atau mereduksi pesan kritik sosial dalam lirik lagu. Perbedaan resepsi tersebut dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pengalaman sosial, keterlibatan emosional, serta orientasi ideologis pendengar.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa makna kritik sosial dalam musik tidak bersifat tunggal, melainkan terbentuk melalui interaksi dinamis antara teks, konteks, dan audiens. Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya perspektif resepsi dalam kajian musik kritik sosial serta memperkaya pemahaman tentang peran musik sebagai media alternatif dalam pembentukan kesadaran kritis. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas subjek dan konteks kajian serta mengombinasikan pendekatan resepsi dengan analisis media digital guna melihat dinamika pemaknaan musik dalam ruang daring.
Kata kunci: resepsi pendengar, lirik lagu, kritik sosial, musik alternatif, Band Sukatani.
