| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru dalam perencanaan, pelaksanaan, dan hasil dari penerapan pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas 2 di MI Sunan Giri Wonokerso. Latar belakang penelitian ini didasari oleh pentingnya pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hafalan dan pemahaman dasar, namun juga mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, dan kreatif. Pembelajaran berbasis HOTS menjadi salah satu pendekatan penting dalam mewujudkan pendidikan abad ke-21, di mana siswa dituntut untuk mampu menganalisis informasi, mengevaluasi nilai-nilai, serta menciptakan solusi dan karya berdasarkan pemahaman yang dimiliki.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif naratif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Subjek penelitian adalah guru Pendidikan Pancasila kelas 2 MI Sunan Giri Wonokerso serta siswa yang mengikuti pembelajaran tersebut. Lokasi penelitian dipilih berdasarkan latar belakang sekolah yang telah menerapkan pembelajaran HOTS dalam Kurikulum Merdeka secara bertahap. Analisis data dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik triangulasi digunakan untuk menguji keabsahan data melalui kombinasi sumber dan metode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan strategi pembelajaran HOTS dilakukan secara sistematis dengan mengacu pada modul ajar Kurikulum Merdeka. Guru merancang tujuan pembelajaran yang mencakup kemampuan berpikir tingkat tinggi, menyusun langkah-langkah kegiatan yang mendorong siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Dalam tahap pelaksanaan, guru menggunakan berbagai metode seperti diskusi kelompok, tanya jawab eksploratif, dan proyek mini seperti pembuatan poster. Media visual seperti gambar lambang negara dan cerita kontekstual dimanfaatkan untuk membangun keterlibatan siswa dan memudahkan pemahaman materi.
Pelaksanaan pembelajaran berbasis HOTS dibagi dalam tiga tahapan, yaitu pendahuluan, inti, dan penutup. Pada tahap pendahuluan, guru memancing minat siswa dengan pertanyaan dan media yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tahap inti berfokus pada eksplorasi makna simbol Pancasila melalui diskusi dan refleksi siswa. Sedangkan pada tahap penutup, siswa diajak untuk menyimpulkan materi dan memberikan evaluasi. Strategi ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi siswa. Siswa menunjukkan antusiasme dalam mengikuti kegiatan, serta mampu mengaitkan nilai-nilai Pancasila dengan kehidupan nyata.
Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Siswa menjadi lebih aktif bertanya, berani menyampaikan pendapat, dan mampu menghasilkan karya yang mencerminkan pemahaman terhadap materi. Guru juga mengalami perkembangan dalam kemampuan menyusun pembelajaran yang inovatif dan kontekstual. Namun demikian, terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan media pembelajaran dan perbedaan tingkat pemahaman antar siswa yang perlu menjadi perhatian ke depan.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa strategi pembelajaran berbasis HOTS yang dirancang dan diterapkan oleh guru kelas 2 MI Sunan Giri Wonokerso efektif dalam membentuk pola pikir siswa yang lebih kritis, kreatif, dan reflektif. Penerapan HOTS tidak hanya membantu siswa memahami materi Pendidikan Pancasila dengan lebih baik, tetapi juga membangun karakter serta kemampuan komunikasi yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran berbasis HOTS dapat menjadi pendekatan yang relevan dan adaptif dalam menghadapi tantangan pendidikan di era globalisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi guru, sekolah, dan peneliti selanjutnya dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa dan berorientasi pada peningkatan keterampilan berpikir tingkat tinggi. | en_US |