Eksploitasi Satwa Dalam Empat Cerpen Bertema Karapan Sapi: Kajian Ekokritik Dan Implikasinya Untuk Pembelajaran Bahasa Indonesia Berwawasan Budaya Madura
Abstract
Sastra tidak hanya menjadi media dokumentasi budaya, tetapi juga menjadi salah satu medium reflektif untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. Sehingga sastra dapat memberikan wawasan dan kesadaran ekologis pembacanya. Salah satu karya sastra yang dapat menumbuhkan kesadaran tersebut adalah cerpen. Dengan cerita yang bisa dibaca dalam sekali duduk, cerpen bisa memberikan pengetahuan budaya sekaligus memberikan kesadaran ekologis yang luas. Hal ini tergambar dalam empat cerpen bertema karapan sapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan bentuk-bentuk eksploitasi satwa khususya sapi karapan yang direpresentasikan dalam empat cerpen bertema karapan sapi serta bagaimana relasi kuasa antara manusia dan hewan tercermin dalam empat cerpen berdasarkan perspektif ekokritik Greg Garrad. Penelitian ini mengisi kekosongan penelitian sebelumnya dengan melihatnya dari perspektif ekokritik.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan ekokritik sastra dan merupakan penelitian kepustakaan (library reseach). Adapun peneliti berperan sebagai instrumen utama. Sumber data dalam penelitian ini ialah empat cerpen bertema karapan sapi berjudul Sapi-sapi Kerapan Karya Zainal A. Hanafi, Sapi Karapan Karya A. Mundzir AR, Tambang Sapi Karapan Karya Muna Masyari, dan Tokang Tongko’ karya A. Warits Rofi. Data primer dalam penelitian ini berupa kutipan, narasi, dialog, dan deskripsi teks yang terdapat dalam empat cerpen, sementara data sekunder diperoleh dari berbagai teori dan literatur yang relevan seperti buku Ecocritism karya Greg Garrad, buku Animal Liberation karya Peter Singer serta sejumlah artikel ilmiah yang relevan untuk mendukung penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga bentuk eksploitasi yang terjadi dalam cerpen yaitu eksploitasi fisik, eksploitasi simbolik, dan eksploitasi komodifikasi. Eksploitasi fisik banyak ditemukan dalam cerpen Hanafi, adapun eksploitasi fisik tergambar melalui pemukulan dan penggesekkan pantat sapi dengan curacau (alat pemukul yang terdapat paku-paku tajam), pelumuran spertus pada pantat sapi, pelumuran balsam pada badan sapi, pada kaki, mata, serta hidung. Adapun ekploitasi simbolik banyak ditemukan dalam cerpen Muna Masyari dimana karapan sapi dijadikan sebagai simbol untuk menaikkan serta mengukuhkan prestise sosial seseorang di mata masyarakat. Serta eksploitasi komodifikasi tampak pada narasi dan dialog para tokoh, dimana karapan sapi bukan hanya sebagai simbol budaya melainkan sudah menjadi media untuk kepentingan ekonomi. Sehingga perlakuan kekerasan yang terjadi buka hanya atas nama tradisi, tetapi juga diserati motif ekonomi. Ketiga bentuk eksploitasi tersebut dinormalisasi atas nama tradisi, sehingga relasi antara manusia dan hewan terjalin dengan konsep antroposentrisme.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa empat cerpen bertema karapan sapi merepresentasikan tiga bentuk eksploitasi satwa, yaitu ekploitasi fisik, simbolik, dan komodifikasi. eksploitasi fisik tampak melalui berbagai praktik kekerasan terhadap tubuh sapi yang dinormalisasi dalam tradisi, sementara eksploitasi simbolik muncul ketika sapi dijadikan penanda prestise dan legitimasi status sosial. Adapun eksploitasi komodifikasi terlihat dari pemanfaatan karapan sapi sebagai sarana pemenuhan kepentingan ekonomi. Melalui pendekatan ekokritik, penelitian ini menunjukkan bahwa relasi manusia dan hewan dalam cerpen bersifat antroposentris, dengan sapi diposisikan sebagai objek kepentingan budaya dan ekonomi manusia. Penelitian ini bisa diintegrasikan pada pembelajaran bahasa dan sastra indonesia khususnya materi pembelajaran apresiasi sastra untuk menumbuhkan kesadaran etis, empati, dan kepedulian ekologis pada peserta didik.
Kata Kunci: Eksploitasi satwa; karapan sapi; ekokritik; cerpen; budaya Madura.
