Representasi Gagasan Ekoteologi Dalam Kumpulan Puisi Setelah Hari Keenam Karya Ahmad Nurullah
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dimensi ekoteologi dalam kumpulan puisi Setelah Hari Keenam karya Ahmad Nurullah, dengan fokus pada pembacaan yang mengintegrasikan pendekatan ekokritik dan refleksi teologis. Karya ini dipilih karena memuat representasi puitis atas hubungan manusia, alam, dan dimensi transendental dalam konteks krisis ekologis kontemporer. Kajian ini menempatkan puisi sebagai medium yang bukan hanya mengartikulasikan estetika bahasa, tetapi juga memuat pesan moral dan spiritual yang mendalam terkait tanggung jawab manusia terhadap bumi. Dengan demikian, penelitian ini berupaya mengungkap bahwa teks sastra dapat berfungsi sebagai wahana kontemplasi dan advokasi ekologis.
Metode penelitian yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan ekokritik berbasis perspektif ekoteologi. Data penelitian berupa teks-teks puisi dalam Setelah Hari Keenam yang dipilih secara purposif berdasarkan relevansi tema ekologis dan teologisnya. Analisis dilakukan dengan menafsirkan simbol, metafora, dan struktur puitik untuk mengidentifikasi representasi alam, penundukan ekologis, serta refleksi spiritual yang terkandung di dalamnya. Pendekatan ini memungkinkan pembacaan yang lebih luas terhadap teks, sehingga dapat menghubungkan antara dimensi estetis, etis, dan teologis dari karya sastra.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Setelah Hari Keenam menampilkan gambaran krisis ekologi yang kompleks, mulai dari kerusakan fisik lingkungan hingga degradasi spiritual manusia. Puisi-puisi di dalamnya mengandung simbol-simbol penundukan alam, peringatan terhadap keserakahan manusia, dan penggambaran penderitaan ekologis yang dihubungkan dengan narasi kejatuhan manusia sejak awal sejarah. Temuan ini menegaskan bahwa puisi dapat mengkonstruksi kesadaran ekologis melalui bahasa puitis yang sarat muatan teologis, sehingga memosisikannya sebagai bentuk kritik moral terhadap peradaban modern yang eksploitatif.
Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa karya Ahmad Nurullah tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai teks teologis-ekologis yang mendorong rekonsiliasi antara manusia dan bumi. Pembacaan ekoteologis terhadap karya ini memperlihatkan potensi sastra dalam memediasi hubungan spiritual dengan alam dan menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya kelestarian lingkungan. Penelitian ini diharapkan dapat memperluas khazanah kajian sastra Indonesia berbasis ekokritik dan menjadi referensi bagi penelitian lintas disiplin yang menghubungkan sastra, teologi, dan studi lingkungan.
Kata Kunci: ekokritik, ekoteologi, puisi, Ahmad Nurullah, Setelah Hari Keenam, krisis ekologi, sastra Indonesia
