| dc.description.abstract | Kemampuan pemecahan masalah merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran matematika yang melatih siswa berpikir kritis dan sistematis. Dalam Kurikulum Merdeka, kemampuan menyelesaikan masalah matematis menjadi salah satu indikator pencapaian tujuan pembelajaran. Materi aljabar merupakan topik yang kompleks bagi siswa SMP/MTs karena memerlukan pemahaman abstrak dan kemampuan manipulasi simbol. Kesalahan siswa dalam memahami dan menyelesaikan masalah aljabar tidak hanya bersumber dari kemampuan kognitif, tetapi juga dipengaruhi faktor afektif seperti kecerdasan emosional. Siswa dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih konsisten dalam menyelesaikan masalah matematis, mampu mengelola emosi saat menghadapi soal sulit, dan tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kesalahan dalam pemecahan masalah aljabar pada siswa dengan kecerdasan emosional tinggi, (2) mendeskripsikan kesalahan dalam pemecahan masalah aljabar pada siswa dengan kecerdasan emosional sedang, (3) mendeskripsikan kesalahan dalam pemecahan masalah aljabar pada siswa dengan kecerdasan emosional rendah, dan (4) mendeskripsikan perbedaan kesalahan dalam pemecahan masalah aljabar di antara siswa dengan tingkat kecerdasan emosional tinggi, sedang, dan rendah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis eksploratif yang dilaksanakan di MTs Miftahul Ulum Desa Tunggak Cerme, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo. Subjek penelitian berjumlah 6 siswa kelas VIII yang terdiri dari 2 siswa dengan kecerdasan emosional tinggi, 2 siswa dengan kecerdasan emosional sedang, dan 2 siswa dengan kecerdasan emosional rendah. Teknik pengumpulan data meliputi angket kecerdasan emosional, tes pemecahan masalah aljabar berdasarkan tahapan Polya, wawancara mendalam, dan observasi kelas. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang didukung aplikasi NVivo 12, meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dijamin melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) siswa dengan kecerdasan emosional tinggi hanya mengalami kesalahan teknis berupa kurang teliti dalam perhitungan pada tahap melaksanakan strategi, namun mampu memahami masalah, merencanakan strategi, dan memeriksa kembali hasil dengan baik, (2) siswa dengan kecerdasan emosional sedang mengalami kesalahan pada tahap melaksanakan strategi berupa salah menghitung dan lupa langkah-langkah penyelesaian, meskipun mampu memahami masalah dan merencanakan strategi dengan baik, (3) siswa dengan kecerdasan emosional rendah mengalami kesalahan paling kompleks pada tahap merencanakan strategi (kebingungan, ragu, mengira-ngira strategi, kesalahan teknis dan prosedural) dan melaksanakan strategi (kebingungan, mengira-ngira jawaban, tidak menguasai rumus, kesalahan prosedural), serta tidak mampu melakukan verifikasi mandiri, dan (4) terdapat perbedaan signifikan tingkat kesalahan berdasarkan kecerdasan emosional: semakin tinggi kecerdasan emosional, semakin rendah tingkat kesalahan yang dilakukan, dengan siswa berkecerdasan emosional tinggi melakukan kesalahan teknis, siswa berkecerdasan emosional sedang melakukan kesalahan prosedural, dan siswa berkecerdasan emosional rendah melakukan kesalahan konseptual dan prosedural yang kompleks. | en_US |