| dc.description.abstract | Kemampuan berpikir kreatif matematis merupakan kompetensi krusial abad ke-21 yang seringkali terhambat oleh kesenjangan kemampuan siswa di dalam kelas Di MAN Karangasem. Tantangan berpikir kreatif terlihat jelas dari hasil Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI) 2023 yang menunjukkan bahwa 72% dari 140 siswa kelas XI kesulitan merumuskan strategi alternatif untuk menyelesaikan soal matematika, seperti menghitung luas lingkaran dengan lebih dari satu pendekatan. Wawancara dengan dua guru matematika mengungkapkan bahwa 90% pembelajaran di kelas masih menggunakan model ceramah yang cenderung menghambat diskusi dan eksplorasi siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis peningkatan kemampuan berpikir kreatif siswa melalui penerapan model Multi Level Learning (MLL) terintegrasi Learning Management System (LMS); (2) mendeskripsikan proses implementasi model tersebut; dan (3) menganalisis distribusi peningkatan kemampuan berpikir kreatif berdasarkan level kelompok siswa. Penelitian secara khusus menganalisis kemampuan berpikir kreatif siswa yang menggunakan Multi Level Learning berbasis Learning Managament System.
Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed method) dengan desain Sequential Explanatory. Subjek penelitian adalah siswa MAN Karangasem yang terbagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen penelitian meliputi tes kemampuan berpikir kreatif dan pedoman wawancara. Analisis data dilakukan secara kuantitatif menggunakan uji-t (Independent Sample t-test) dan kualitatif melalui analisis transkrip wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat peningkatan signifikan kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelas eksperimen dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dan rata-rata nilai akhir 88,31, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (81,19); (2) Implementasi model berjalan efektif melalui integrasi fitur video replay di LMS sebagai sumber belajar mandiri dan strategi Upline-Downline dalam MLL sebagai sarana kolaborasi; (3) Peningkatan terjadi di seluruh level dengan karakteristik berbeda: kelompok Pemula meningkat pada indikator Kelancaran (Fluency) berkat fitur pengulangan video, kelompok Menengah meningkat pada Keluwesan (Flexibility) melalui diskusi, dan kelompok Mahir menguat pada Kebaruan (Originality) dan Kerincian (Elaboration) melalui peran tutor sebaya. Temuan ini merekomendasikan penggunaan MLL-LMS sebagai solusi adaptif untuk mengatasi heterogenitas kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika. | en_US |