Monitoring Kualitas Air Sungai pada Sistem Keramba Jaring Tancap Budidaya Ikan di Pusat Konservasi Iwak Kali Desa Bakalan Purwosari Pasuruan
Abstract
Budidaya ikan nila dengan sistem keramba jaring tancap di aliran sungai sangat bergantung pada kestabilan kondisi fisika kimia perairan, sehingga pemantauan kualitas air secara berkala menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan produksi. Penelitian ini mengevaluasi kondisi fisika kimia perairan secara spasial di Pusat Konservasi Iwak Kali (PAKWALI), Desa Bakalan, Purwosari, Pasuruan, pada enam stasiun pengamatan dari hulu ke hilir selama empat minggu pada periode Januari sampai Februari 2026. Tujuh parameter yang diukur meliputi suhu, kekeruhan, TDS, pH, DO, BOD, dan nitrat, dibandingkan dengan baku mutu PP No. 22 Tahun 2021 Kelas II dan SNI 7550:2009, serta dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan pairwise Bonferroni untuk melihat perbedaan antar stasiun. Hasil menunjukkan lima dari tujuh parameter, yaitu suhu, pH, TDS, kekeruhan, dan nitrat, memenuhi baku mutu di seluruh stasiun. Namun, oksigen terlarut (rata rata 3,45 mg/L) konsisten berada di bawah ambang minimum 4 mg/L di semua stasiun, dan BOD (2,59 sampai 5,66 mg/L) melampaui batas maksimum 3 mg/L pada lima dari enam stasiun. Uji pairwise mengidentifikasi tiga kelompok stasiun yang berbeda signifikan, yaitu Kelompok A (Stasiun 1 dan 2), Kelompok B (Stasiun 3 dan 4), dan Kelompok C (Stasiun 5 dan 6), dengan tekanan ekologis tertinggi pada Kelompok C di segmen hilir. Defisit DO kronis dan kenaikan BOD progresif mengindikasikan kapasitas asimilasi perairan di segmen hilir mendekati batas daya dukungnya akibat akumulasi beban organik dari sisa pakan dan ekskresi ikan sepanjang rangkaian keramba. Oleh karena itu, intervensi aerasi mekanis dan optimasi manajemen pakan menjadi langkah korektif yang mendesak, terutama pada stasiun di segmen hilir.
Kata kunci: Baku mutu air, ikan nila (Oreochromis niloticus), keramba jaring tancap, kualitas air.
