Show simple item record

dc.contributor.authorAHMAD, SAYYIDIL FAIZ
dc.date.accessioned2026-08-13T03:14:36Z
dc.date.available2026-08-13T03:14:36Z
dc.date.issued2026-07-18
dc.identifier.urihttps://repository.unisma.ac.id/handle/123456789/14075
dc.description.abstractMateri pada penelitian ini melibatkan 10 peternak rakyat ayam petelur dengan populasi 1.000 – 10.000 ekor, di Kecamatan. Wajak, Kabupaten Malang. Metode penelitian adalan metode survey. Data primer diperoleh melalui wawancara kepada pemilik ternak tersebut. Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian, kelemahan biosecurity pada peternakan rakyat ayam petelur lebih dominan dibandingkan aspek yang sudah baik. Hal ini ditunjukkan oleh kondisi biosecurity konseptual, di mana 80% peternak memiliki suhu kandang di atas kisaran nyaman (28–31℃) yang berpotensi menimbulkan stres panas, serta 100% kandang berjarak kurang dari 500 meter dari pemukiman sehingga meningkatkan risiko masuknya agen penyakit dari luar. Kelembaban kandang sebagian besar masih dalam batas 60–70%, namun 20% peternak mencatat kelembaban lebih tinggi (71–73%) yang berpotensi memperburuk kualitas udara dan meningkatkan akumulasi amonia. Pada aspek biosecurity struktural, kelemahan terlihat jelas karena seluruh peternak (100%) tidak memiliki saluran pembuangan limbah maupun ruang ganti pakaian. Fasilitas pengawasan juga masih terbatas, dengan pos jaga hanya tersedia pada 30% peternak, kantor pada 20%, dan mess pegawai tidak ditemukan sama sekali (100%). Meskipun seluruh peternak memiliki peralatan dekontaminasi, kelengkapannya masih terbatas, dan hanya 50% peternak yang memiliki tata letak kandang sesuai standar. Dari sisi biosecurity operasional, sistem all in all out tidak diterapkan oleh 90% peternak, SOP rute perjalanan tidak tersedia pada 100%, serta penggunaan operator dan peralatan berbeda untuk ayam dengan umur berbeda juga tidak diterapkan sama sekali (100%). Pembersihan kandang setelah panen hanya dilakukan penuh oleh 50% peternak, sementara desinfeksi dilakukan konsisten oleh 70% dan tidak konsisten oleh 30%. Pada aspek manajemen pakan, 80% peternak berada dalam kategori sedang untuk penyimpanan pakan, 20% kurang baik, dan tidak ada yang masuk kategori baik. Teknik pemberian pakan seluruhnya (100%) masih dalam kategori kurang baik. Sedangkan pada manajemen kesehatan, terdapat variasi dalam penggunaan vaksin, antibiotik, dan vitamin. Mayoritas peternak menggunakan kombinasi vaksin Coryza dan ND-AI, sementara penggunaan antibiotik dan vitamin berbeda-beda antar peternak, baik dari jenis maupun frekuensi pemberian. Namun, masih terdapat 30% peternak yang tidak menggunakan antibiotik sama sekali. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas penerapan biosecurity pada peternakan rakyat ayam petelur masih relatif rendah dan belum optimal dalam menekan kejadian CRD. Hal tersebut tercermin dari kelemahan pada aspek struktural, antara lain suhu kandang yang berada di atas kisaran nyaman pada 80% peternak, lokasi kandang yang terlalu dekat dengan pemukiman pada seluruh peternak (100%), serta ketiadaan saluran pembuangan limbah dan ruang ganti pakaian. Fasilitas pendukung juga terbatas, dengan pos jaga tidak tersedia pada 70% peternak, kantor tidak tersedia pada 80%, dan mess pegawai tidak tersedia pada seluruh peternak (100%). Pada aspek operasional, sistem all in all out tidak diterapkan oleh 90% peternak, SOP rute perjalanan tidak tersedia pada 100% peternak, pemisahan operator serta peralatan berdasarkan umur ayam tidak dilakukan sama sekali (100%), dan praktik desinfeksi kandang belum konsisten pada 30% peternak. Secara keseluruhan, kelemahan dalam aspek biosecurity struktural maupun biosecurity operasional tersebut berkontribusi terhadap rendahnya efektivitas biosecurity dalam pengendalian CRD pada peternakan rakyat ayam petelur Penerapan biosecurity perlu ditingkatkan baik pada aspek struktural maupun operasional; pada aspek struktural, disarankan bagi peternak untuk melakukan perbaikan desain kandang guna mempertahankan suhu kandang dalam kisaran yang nyaman, menata lokasi kandang agar berjarak lebih jauh dari pemukiman penduduk, serta menyediakan fasilitas pendukung seperti saluran pembuangan limbah, ruang ganti pakaian, pos jaga, kantor, dan mess pegawai, sedangkan pada aspek operasional, penerapan sistem all-in-all-out perlu diterapkan, standar operasional prosedur (SOP) rute perjalanan harus disusun dan diterapkan secara konsisten, pemisahan operator serta peralatan berdasarkan umur ayam wajib dilaksanakan, dan praktik desinfeksi kandang harus dilakukan secara rutin dan konsisten; selain itu, peningkatan pengetahuan dan kesadaran peternak melalui pelatihan serta pendampingan teknis mengenai biosecurity sangat penting dengan didukung oleh regulasi dan fasilitasi dari pemerintah daerah maupun instansi terkait, sehingga dengan penerapan langkah-langkah tersebut efektivitas biosecurity diharapkan dapat meningkat dan kejadian CRD pada ayam dapat ditekan secara signifikan.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.publisherUniversitas Islam Malangen_US
dc.subjectBiosecurityen_US
dc.subjectChronic Respiratory Disaeseen_US
dc.subjectAyam Peteluren_US
dc.titleEfektivitas Implementasi Biosecurty Terhadap Kejadian Chronic Respiratory Disaese Ayam Petelur Dipeternakan Rakyaten_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record


PRISMA Knowledge Center
Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Islam Malang
Telp: 0341-581613, Fax.: 0341-552249
Jln. MT. Haryono 193, Kota Malang