| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lama waktu penyimpanan semen segar pada suhu fisiologis 37–38°C dengan kualitas spermatozoa sapi Bali, yang meliputi motilitas individu, viabilitas, dan abnormalitas. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 2-22 Juli 2025 di Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Grati, Pasuruan, Jawa Timur. Materi penelitian adalah semen segar dari satu ekor pejantan sapi Bali berumur empat tahun. Setiap ejakulat yang digunakan memiliki motilitas individu minimal 70% dan konsistensi normal. Penelitian menggunakan empat kelompok waktu penyimpanan, yaitu 0 menit (kontrol), 15 menit, 30 menit, dan 45 menit. Parameter yang diamati adalah kualitas semen segar yang meliputi motilitas individu, viabilitas spermatozoa serta abnormalitas spermatozoa. Data dianalisis menggunakan korelasi dan regresi linier sederhana untuk mengetahui hubungan antara lama penyimpanan dengan kualitas semen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hubungan motilitas individu, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya lama penyimpanan. Analisis statistik menunjukkan bahwa lama penyimpanan memiliki hubungan negatif dengan motilitas individu (r = -0,326; r² = 0,11; P>0,05) dan viabilitas spermatozoa (r = -0,507; r² = 0,26; P<0,05). Hal ini mengindikasikan bahwa semakin lama semen disimpan, maka semakin rendah kualitas spermatozoa, terutama pada aspek viabilitas. Sebaliknya, hubungan positif ditunjukkan pada abnormalitas spermatozoa (r = 0,197; r² = 0,04; P>0,05), meskipun tidak signifikan secara statistik. Penurunan yang paling nyata terjadi pada parameter viabilitas, di mana ditemukan penurunan rata-rata sebesar 0,1592% setiap menit penyimpanan.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lama waktu penyimpanan pada suhu 37–38°C memiliki hubungan signifikan terhadap viabilitas semen segar sapi Bali, namun tidak signifikan terhadap motilitas individu maupun abnormalitas spermatozoa. Dengan demikian, untuk menjaga kualitas semen segar yang optimal, sebaiknya semen digunakan dalam waktu kurang dari 30 menit setelah penampungan, terutama jika akan diaplikasikan dalam program inseminasi buatan. Penelitian ini memberikan informasi penting mengenai keterbatasan waktu penyimpanan semen segar pada sapi Bali, yang dapat dijadikan acuan dalam manajemen reproduksi dan perbaikan teknologi inseminasi buatan. | en_US |