Uji In Vivo Kombinasi Ekstrak Daun Benalu Teh Benalu Mangga Terhadap Tnf-α Hepar Pada Tikus Wistar
Abstract
Indonesia dikenal kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk berbagai tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional. Beberapa tanaman tersebut adalah benalu teh (Scurrula atropurpurea) dan benalu mangga (Dendrophthoe pentandra), yang dikenal kaya akan bahan bioaktif, termasuk tanin, flavonoid, dan senyawa fenolik, yang memiliki sifat anti-inflamasi. Karena pola makan tinggi lemak, yang dapat menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan jaringan, kadar sitokin pro-inflamasi TNF-α meningkat di jaringan hati. Penelitian ini menentukan pengaruh pemberian ekstrak BTBM terhadap perubahan kadar TNF-α pada jaringan hepar melalui evaluasi hasil antar kelompok perlakuan, sekaligus mengidentifikasi dosis yang menunjukkan efektivitas tertinggi dalam mereduksi kadar TNF-α. Penelitian ini menerapkan pendekatan eksperimental secara in vivo dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Sebanyak 35 ekor tikus putih galur Wistar (Rattus norvegicus) dialokasikan secara acak ke dalam lima kelompok penelitian, yang terdiri atas kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif yang memperoleh perlakuan diet tinggi lemak, serta tiga kelompok perlakuan yang menerima ekstrak gabungan pada dosis 50, 100, dan 200 mg/kgBB selama 37 hari. Pengukuran kadar TNF-α pada jaringan hepar dilakukan menggunakan teknik (ELISA). Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara statistik menggunakan uji ANOVA. Hasil pengujian menunjukkan adanya perbedaan bermakna di antara seluruh kelompok penelitian (p<0,05). Pemberian ekstrak pada dosis 200 mg/kgBB menghasilkan rerata TNF-α hepar yang paling rendah dibandingkan dengan dosis lainnya, sehingga menunjukkan kemampuan antiinflamasi yang paling tinggi dalam penelitian ini. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa ekstrak BTBM memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai sumber agen antiinflamasi berbasis bahan alam yang mampu menekan kadar TNF-α pada hepar.
Kata Kunci: benalu teh, benalu mangga, TNF-α, inflamasi hepar, uji in vivo
