Aplikasi Pengontrol Nutrisi pada Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) Model Budidaya Hidroponik Wick Non IoT Terkendali dan Iot yang di Support Aerator dan Keran Otomatis
Abstract
Salah satu problem mendasar di daerah perkotaan yang sedang berkembang adalah keterbatasan lahan dan harga tanah yang makin meningkat. Akibatnya, pertanian perkotaan menjadi alternatif untuk menyiasati keterbatasan lahan karena rumah-rumah di daerah perkotaan biasanya tidak memiliki halaman rumah atau pekarangan yang luas. Alih fungsi lahan pertanian yang begitu cepat, membuat para petani konvensional dan berbasis lahan harus mencari alternatif. Permasalahan tersebut dikarenakan metode budidaya konvensional yang membutuhkan banyak lahan berubah menjadi metode budidaya lahan terbatas. Salah satu upaya pendekatan dalam budidaya lahan terbatas adalah dengan memaksimalkan pekarangan dengan model urban farming. Salah satu model pertanian urban farming yang banyak digunakan adalah sistem hidroponik wick. Permasalahan utama dalam hidroponik wick non IoT terkendali adalah pengontrolan yang harus dilakukan secara manual agar kebutuhan nutrisi terpenuhi hal ini sangat membutuhkan waktu, oleh sebab itu dengan adanya kemajuan teknologi yang berkembang pesat dan peralatan yang bekerja secara otonom, otomatis dengan ketelitian, ketepatan, serta tingkat akurat yang tinggi, menggunakan teknologi IoT terutama untuk pengecekan dan pemberian kandungan nutrisi dan ketersediaan air dapat menjadi alternatif solusi bagi permasalahan tersebut.
Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Tlogojoyo No.63 Kel. Tlogomas, Kec. Lowokwaru Kota Malang Jawa Timur dengan ketinggian tempat ± 540 mdpl dan Laboratorium Halal Center Universitas Islam Malang. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 20 Maret sampai 1 Oktober 2024. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak sederhana. Penelitian ini membandingkan 2 metode pengontrolan nutrisi AB-mix pada sistem hidroponik wick: P₁ = Hidroponik sistem wick non IoT terkendali dan P₂ = Hidroponik sistem wick berbasis IoT. Satu perlakuan terdiri dari 5 ulangan setiap ulangan terdiri dari 10 sampel tanaman. Sepuluh tanaman sampel terdiri dari 5 tanaman untuk mengukur tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun setiap tujuh hari sekali. Empat tanaman sampel untuk uji lajut pertumbuhan relatif diambil satu setiap 7 hari sekali. Satu tanaman untuk mengukur variabel kualitas pada tanaman saat panen. Sehingga diperoleh total tanaman sebanyak 100 tanaman.
hasil penelitian yang dilakukan selama 35 hari dengan pengambilan data setiap 7 hari sekali, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan secara statistik antara model hidroponik wick non IoT terkendali dan IoT pada tinggi tanaman, luas daun , LPR, bobot segar konsumsi, bobot segar total, bobot kering total, bobot segar akar, bobot kering akar, panjang akar, klorofil, vitamin C dan TPT. Namun terdapat perbedaan signifikan secara statistik di jumlah daun pada hari ke 7, 14 dan 28, tetapi tidak terdapat perbedaan pada hari ke 21 dan 35. Hal ini menunjukkan bahwa model pengendalian nutrisi dan lingkungan hidroponik IoT memiliki stabilitas yang sama dengan model pengendalian yang dilakukan secara manual.
Kata Kunci : Aplikasi, Pengontrol Nutrisi, Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.), Model Budidaya Hidroponik, Wick Non IoT Terkendali, Support Aerator dan Keran Otomatis
